Wonderful Indonesia Co-Branding Forum

Digitalisasi Pariwisata Menjadi Keharusan

Target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) di 2019 dapat dicapai dengan dukungan pembangunan infrastruktur menuju destinasi wisata dan pihak-pihak terkait, seperti penyedia tiket perjalanan, pihak bandara dengan layanan yang baik, dan perbankan.

Guna mendorong tercapainya target tersebut, di era digital ini, ide digitalisasi pariwisata Indonesia juga bisa menjadi terobosan. Ide digitalisasi pariwisata sebenarnya sudah dilontarkan Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI, pada 2014. Saat itu terasa aneh, pariwisata kok didigitalisasi. Ide Arief ini dianggap terlalu cepat.

Nyatanya, perkembangan digital yang pesat dalam dua tahun terakhir membuat digitalisasi di industri apa pun jadi keniscayaan. “Saya ingat yang disampaikan Pak Arief, Go Digital Be The Best. Semakin digital, semakin personal, semakin cepat dan transparan, ini memang menjadi keharusan jika tidak ingin mati,” kata Doni Ismanto, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Grup IndoTelko saat membuka diskusi “Digitalisasi Wonderful Indonesia” di Balai Kartini (14/12/2017).

Diskusi dalam rangka HUT Grup IndoTelko ke-6 dengan keynote speak disampaikan oleh Arief Yahya ini juga dihadiri Alex J. Sinaga, Dirut Grup Telkom; Awaluddin, Dirut Angkasa Pura II; Indra Utoyo, Direktur BRI; dan Erik Meijer, Dirut Telkom Telstra. Diungkapkan Arief, dulu kita merasakan persaingan emosional dengan Malaysia di ASEAN, terlupa saat ini justru Vietnam menyodok sebagai 20 besar negara yang paling cepat tumbuh di sektor pariwisata. “Indonesia sekarang juga masuk sebagai Top 20 the fastest growing tourism. Indonesia tumbuh 24 persen, Vietnam 25,2 persen, justru Malaysia turun 0,87 persen. Kompetitor dari sisi profesional bagi kita adalah Thailand. Kita harus pahami kompetitor kita dengan baik dan lakukan diferensiasi serta fokus,” ujarnya.

Arief menuturkan, price competitiveness Indonesia di pariwisata ada di Top 5. Dengan menjalankan teori pemasaran dengan tepat, capaian terbaik pariwisata Indonesia salah satunya di World Economic Forum 2017; kampanye Wonderful Indonesia berada di posisi 47, kampanye Jepang 42, Thailand 68, dan Malaysia 85.

Bahkan, dari sisi kinerja, sektor Pariwisata menyodok di posisi kedua setelah CPO dalam pendapatan devisa Indonesia pada 2016. “Pendapatan devisa pariwisata kita pada 2016 mencapai US$ 13,57 juta, sedangkan CPO US$ 15,8 juta,” ujarnya. Padahal, di 2015 dan 2014 masih di posisi kelima.

“Pertama kali yang sangat unik dengan jadi Menpar, go digital, makanya sekarang bisa tumbuh 24 persen sekarang,” katanya. Langkah digitalisasi jadi keharusan saat ini karena 70 persen pasar wisata mencari, melihat, dan mempelajari destinasi sebelum melakukan perjalanan melalui digital.

“Melalui digital, konsumen mendapatkan layanan lebih tapi dengan cost atau biaya lebih rendah,” imbuh Arief. Ia meyakini, selama ada kelebihan kapasitas, akan mendorong tumbuhnya sharing economy. Platform digital yang memudahkan konsumen pun muncul dari sharing economy ini. Arief menegaskan kembali pentingnya digitalisasi dengan membandingkan nilai beberapa perusahaan konvensional pariwisata jika digabungkan, masih kalah dengan nilai bisnis Traveloka yang kini mencapai US$ 1,1 miliar.

Arief meyakini hasil yang luar biasa harus dicapai dengan cara luar biasa. “Tidak bisa dicapai dengan cara Thailand. Makanya, saya menyodorkan ide destinasi digital,” katanya. Sebanyak 100 destinasi digital ini bisa didorong dengan komunikasi yang bagus. Komunikasi yang bagus harus ditunjang jaringan seluler yang bagus. “Setiap hari harus ada hastag pariwisata yang diviralkan dan Instagramable, apakah itu Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. Tidak harus bayar, buat anak-anak muda yang melakukan wisata membuat itu,” katanya.

Dalam waktu singkat, dicapai tujuh lokasi menjadi digital destination tourism, dua di antaranya: Pasar Pancingan, Lombok, dan Pasar Mangrove, Batam-Kepulauan Riau. “Adanya AirBnB justru mendorong munculnya layanan Bookingina.com, platform yang mengumpulkan berbagai hotel dan restoran yang tergabung dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Ini bagus, terobosan, makanya saya yang meluncurkan. Bukan dengan demo, tapi dengan solusi,” Arief menjelaskan. Ia menegaskan pentingnya alignment di era digital ini.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Herning Banirestu

Add comment

Archives