Kemenpar Butuh Rp500 Triliun Untuk Pengembangan Pariwisata

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, mengatakan, kebutuhan investasi dan pembiayaan di sektor pariwisata hingga tahun 2024 sebesar Rp 500 triliun.

"Dana Rp 500 triliun ini kebutuhan investasi dan pembiayaan mulai dari tahun 2015 hingga tahun 2024," ujarnya di sela-sela Rakornas Pariwisata III Tahun 2018 yang berlangsung di Dian Ballroom Hotel Raffles Jakarta.

Kebutuhan pembiayaan yang diperlukan dalam mendukung sektor pariwisata yakni kebutuhan pembiayaan untuk membangun 10 destinasi pariwisata prioritas (DPP); kebutuhan pembiayaan Usaha Homestay (2018-2019) serta kebutuhan pembiayaan Usaha UMK Pariwisata (KUR Khusus Pariwisata).

“Untuk homestay membutuhkan investasi Rp 2 triliun dan Usaha UMK Pariwisata (KUR Khusus Pariwisata) Rp 25 triliun. Tahun ini jumlah pelaku usaha mikro dan kecil di sektor pariwisata sebanyak 6,7 juta pelaku usaha,” jelasnya.

Pasalnya saat ini, industri pariwisata ditetapkan sebagai sektor andalan dalam menghasilkan devisa, serta dapat menstabilkan defisit pada neraca perdagangan Indonesia."Mulai tahun 2015, pariwisata masuk ke dalam sektor unggulan dan tahun 2019 kembali menjadi sektor unggukan dalan Rencana Kerja Pemerintah (RKM)," kata Menpar.

Adapun selama periode 2019 - 2024, dibutuhkan investasi sektor pariwisata yaitu 120.000 hotel rooms, 15.000 restoran, 100 taman rekreasi, 100 operator diving, 100 marina, dan 100 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan melibatkan peran serta dunia usaha, serta program pembangunan 100.000 homestay dengan melibatkan UKM pariwisata.

Selain itu, ia mengungkapkan pihaknya telah menjanjikan kepada pemerintah di tahun 2019, sektor pariwisata dapat menghasilkan devisa terbesar dari seluruh sektor yaitu mencapai US$ 20 miliar. Berdasarkan catatan Kementerian Pariwisata periode Januari-Juli 2018, sektor pariwisata telah menyumbang devisa sebesar US$ 9 juta, sedangkan bulan Juli 2018 menyumbang devisa sebesar US$ 1,5 juta.

"Kalau kita bisa mempertahankan US$ 1,5 juta sampai enam bulan ke depan, maka totalnya menjadi US$ 16,5 juta. Target kita di 2018 sebesar US$ 17 juta, artinya masih kurang US$ 500 ribu. Oleh karena itu, kita jangan sampai ngantuk untuk mengejar kekurangan tersebut agar tahun 2018 pariwisata akan menjadi sektor terbesar yang menghasilkan devisa dan menjadi yang terbaik," paparnya.

Selama empat tahun terakhir pariwisata menghasilkan balance payment yang positif atau selalu surplus antara devisa yang diperoleh dari kunjungan wisman dengan uang yang dibelanjakan oleh wisatawan nasional (wisnas) yang berwisata ke luar negeri.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)