Mengerek Kuliner Indonesia Lewat Diaspora Restaurant

Demi memopulerkan kuliner Indonesia di kalangan wisatawan mancanegara, Kemenpar menggandeng diaspora Indonesia yang memiliki/mengelola restoran Indonesia di luar negeri. Apa program yang sudah berjalan dan apa lagi rencana ke depan?//

Vita Datau Mesakh, Ketua Tim Percepatan Belanja dan Pariwisata Kuliner Kemenpar, menyampaikan program kerja sama co-branding Wonderful Indonesia antara restoran diaspora dan Kementerian Pariwisata, pada Rapat Pimpinan Tim Co-Branding Wonderful Indonesia

 

Salah satu unsur penting pariwisata adalah kuliner. Pasalnya, salah satu pendorong orang berwisata ke suatu wilayah adalah daya tarik kulinernya. Kita pun sekarang mengenal adanya istilah wisata kuliner.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Boyne, Williams, dan Hall -- yang dimuat dalam Journal of Travel & Tourism Marketing 2002 -- mengonfirmasi adanya hubungan simbiosis mutualisme antara pariwisata dan kuliner. Mereka menemukan bahwa wisatawan menghabiskan rata-rata hampir 40% dari anggaran mereka untuk kebutuhan makanan (kuliner) saat berwisata.

Priyantono Rudito, Direktur Eksekutif Wonderful Indonesia, memimpin pembahasan program kerja sama co-branding Wonderful Indonesia antara restoran diaspora dan Kemenpar

 

Tak mengherankan, kuliner kemudian menjadi salah satu aspek yang ditonjolkan dalam aktivitas promosi destinasi wisata. Nah, melihat perkembangan wisata kuliner di Indonesia yang makin populer, Kementerian Pariwisata RI pun menjadikannya sebagai alat promosi andalan untuk menggaet wisatawan mancanegara.

Tim Co-Branding Wonderful Indonesia berdiskusi tentang program co-branding restoran diaspora

 

Menurut Vita Datau Mesakh, Kepala Tim Percepatan Belanja dan Pariwisata Kuliner Kemenpar, ada tiga strategi yang diterapkan pihaknya agar kuliner Indonesia makin populer, yakni memperkenalkan makanan khas nasional, melakukan sertifikasi destinasi kuliner, dan menjalankan program co-branding merek Wonderful Indonesia dengan para pengelola restoran di luar negeri. Vita mengatakan bahwa strategi ketiga itu disebut Diaspora Restaurant.

Vita Datau Messakh melakukan presentasi dalam FGD (focus group discussion) kerja sama co-branding Wonderful Indonesia dengan pemilik dan chef restoran diaspora

 

Suasana FDG co-branding Wonderful Indonesia dengan pemilik/chef restoran diaspora

Sebagai bentuk realisasi strategi Diaspora Restoran, pada 23 Maret 2018 Kemenpar meneken MoU dengan 10 resto yang dimiliki diaspora Indonesia yang tersebar di tiga benua. Kesepuluh resto tersebut sepakat berkolaborasi dalam mempromosikan Wonderful Indonesia dan merek resto mereka. “Jadi, resto-resto milik ekspatriat atau keturunan Indonesia yang ada di luar negeri kami ajak untuk co-branding, dan sama-sama mempromosikan wisata kuliner Indonesia,” tutur Vita.

Kemenpar menargetkan 100 resto di mancanegara milik diaspora Indonesia bisa bergabung. Namun, untuk tahap awal hanya akan melibatkan 10 resto terlebih dahulu, yaitu Gastrobar Indonesia di Belanda; Djakarta Bali di Paris, Prancis; Fluffy Lamb di Perth, Australia; Sendok Garpu di Brisbane, Australia; Ubud Resto di Sydney, Australia; Sari Ratu di Singapura; Bumbu Desa di Malaysia; The Yono’s Fine Dining di Albany, AS; WIN Indonesian Grill & Gastrobar di Atlanta, AS; dan Kasih Restaurant di Los Angeles, AS. “Ada situs web khusus yang didedikasikan untuk program kemitraan ini,” kata Vita seraya menyebutkan situs www.WonderfulIndonesiaRestaurant.com.

Suasana FGD co-branding Wonderful Indonesia dengan pemilik/chef restoran diaspora

Anggota Tim Co-Branding Wonderful Indonesia dan pemilik/chef restoran diasporan dalam FGD kerja sama co-branding

Lebih lanjut Vita mengatakan, para pengelola resto tersebut juga diminta mempromosikan lima makanan khas nasional yang telah ditetapkan oleh Kemenpar di resto mereka, yaitu rendang, nasi goreng, sate, soto, dan gado-gado. Pada setiap resto yang bergabung dalam program ini akan dibuat semacam Indonesia Corner, yang berfungsi untuk mempromosikan destinasi plus kuliner Indonesia. “Kerjasama ini diharapkan dapat membentuk pandangan dan reputasi positif tentang kuliner Indonesia dan meningkatkan minat wisatawan asing untuk berkunjung ke negeri kita,” ujarnya.

Penandatangan Perjanjikan Kerjasama co-branding Wonderful Indonesia antara Kemenpar dan Pemilik/Chef Restoran Diaspora yang disaksikan oleh Menteri Pariwisata Arief yahya, pada 23 Maret 2018 di Bali.

 

Pada November 2018, Kemenpar akan mengadakan acara Wonderful Indonesia Diaspora Restaurant Summit 2018 yang akan mengundang sekitar 100 pengusaha resto dan chef diaspora Indonesia di luar negeri. Mereka semua akan dipertemukan dengan lebih dari 100 brand, 40 artist-entrepreneur, dan calon-calon investor. Kemenpar juga berniat mengadakan acara Indonesia Gastronomy Month di tiap-tiap resto anggota dalam periode September-Oktober 2018. “Jadi, akan ada link & match antara chef /pengusaha resto Indonesia di luar negeri dan para calon investor di Indonesia,” ungkap Vita.

Robert Manan, salah seorang diaspora pengusaha resto Indonesia, mengatakan bahwa sebenarnya para diaspora merupakan penasihat bisnis yang baik bagi pengusaha Indonesia yang ingin membuka bisnis di luar negeri, termasuk di bisnis resto. Pasalnya, mereka orang yang paling tahu tentang lokasi, potensi, dan permasalahan yang ada.

Pemilik Chef restoran diaspora bersama Menpar Arief Yahya, usai penandatanganan kerja sama co-branding Wonderful Indonesia

 

Robert menambahkan, tantangan membuka resto Indonesia di luar negeri cukup banyak, terutama persoalan SDM dan rantai pasokan bahan makanannya, terutama menyangkut bumbu dan rempah. Pemilik resto WIN Indonesian Grill & Gastrobar di Atlanta ini mengingatkan bahwa makanan Indonesia belum sepopuler makanan China dan Meksiko. “Karena itu, aksi nyata pemerintah sangat kami apresiasi,” ujar Robert dalam acara Focus Group Discussion yang diadakan Kemenpar baru-baru ini.

Terkait pembukaan resto di luar negeri, chef ternama Indonesia Vindex Tengker memberikan sedikit tip. Berdasarkan pengalamannya membangun Restoran Kasih di Los Angeles, faktor lokasi dan target konsumen menjadi kunci utama. “Lokasi ini menentukan style makanan yang akan disuguhkan; apakah fine dining, bistro, resto dengan harga medium, atau menawarkan harga murah meriah, dan sebagainya,” katanya.

Dibutuhkan waktu 2,5 tahun bagi dirinya untuk menemukan lokasi yang dinilai pas. Ia mengaku sempat menemukan lokasi yang cocok di wilayah Beverly Hills, tetapi ternyata kawasan tersebut termasuk kawasan heritage, sehingga batal dibuka di sana.

Pemilik/Chef restoran diaspora bersama Tim Co-Branding Wonderful Indonesia, usai penandatangan kerja sama co-branding

Di Resto Kasih, Vindex berduet dengan mantan Menteri Pariwisata Marie Elka untuk mewujudkan konsep resto kontemporer Indonesia. Hampir semua masakan yang disajikan memiliki citarasa otentik tetapi dengan presentasi modern. “Bu Marie yang meminta saya membantu beliau mempersiapkan resto ini. Beliau investornya, saya otaknya,” ujarnya menjelaskan.

Sejak dibuka pada 27 Maret 2018, Vindex mengungkap, rata-rata tamu Resto Kasih 100-120 orang. Menariknya, meskipun merupakan resto Indonesia, rata-rata pengunjung resto ini justru orang setempat. Hanya sekitar 20 yang berasal dari Indonesia. ”Memang, kebanyakan bule yang datang,” ungkapnya.

Promosi yang dilakukan Vindex biasanya menggunakan kanal media sosial dan media lokal. Ia mengakui juga mendapat dukungan KBRI. Resto Kasih, ia ceritakan, tidak berkonsep fine dining, melainkan bistro yang tidak formal. Karenanya, harga yang ditawarkan cukup terjangkau, berkisar US$ 7. Menu termahal, seperti rendang, hanya seharga US$ 14. Di Resto Kasih, menu yang disuguhkan cukup beragam, di antaranya perkedel jagung, sate lilit, bebek goreng, kambing bumbu rujak, pepes ikan, dan rendang.

Seperti sudah dimaklumi publik, Kemenpar tengah gencar melakukan program co-branding Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia. Selain dengan para diaspora pemilik dan pengelola resto di luar negeri, Kemenpar sudah terlebih dahulu melakukan co-branding dengan perusahaan-perusahaan pemilik merek, juga dengan para selebritas yang memiliki bisnis di industri fashion dan kuliner.

Vita bangga brand Wonderful Indonesia mampu mempertahankan keunggulannya sejak 2015, dengan berhasil melampaui capaian saingan utamanya di Asia Tenggara, yakni Truly Asia (Malaysia) dan Amazing Thailand (Thailand). Di posisi dunia, branding Wonderful Indonesia naik ke peringkat 47, sementara Amazing Thailand dan Truly Asia masing-masing berada di posisi ke-83 dan ke-96.

Menurut Yuswohady, anggota tim Co-branding Wonderful Indonesia, program co-branding ini mendatangkan berbagai manfaat bagi pariwisata Indonesia. Dengan adanya kerjasama ini, setiap resto yang berpartisipasi bisa menjadi semacam etalase pariwisata Indonesia di luar negeri. “Dengan menjadi window of Indonesia, resto-resto tersebut bisa menyajikan konten-konten yang 'Indonesia banget',” kata Yuswo.

Yuswo menjelaskan, jika konten-konten itu disampaikan menyatu dengan resto experience, akan tercipta influencing power yang luar biasa untuk menarik wisman ke Indonesia. “Mengapa resto begitu strategis sebagai marketing channel? Karena, resto-resto tersebut mestinya sudah memiliki basis pelanggan yang kokoh, apalagi jika sudah beroperasi bertahun-tahun,” katanya.

Dalam konsep pemasaran, Yuswo menyebutkan pula bahwa peran resto diaspora semacam ini disebut sebagai “marketing funnel” atau “corong pemasaran”. Melalui marketing funnel inilah wisman akan digiring dari non-consumer menjadi first-time buyer, dan akhirnya menjadi loyal customer. “Dengan mekanisme ini, resto diaspora menjadi semacam saluran yang akan menggiring wisman untuk semakin mengenal, dekat, dan kemudian mencintai pariwisata Indonesia.”

Lalu, agar peran resto diaspora sebagai promotion channel kuliner dan pariwisata Indonesia berjalan efektif, Yuswo menyarankan setiap pemangku kepentingan di dalamnya harus menggelar kegiatan brand activation secara berkala (seasonal) dan berkelanjutan. Bahkan kalau perlu, dirancang calendar of event (CoE) yang tetap tiap tahunnya. Pemangku kepentingan itu, mulai dari Kemenpar, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perdagangan, KBRI, para diaspora Indonesia, hingga perusahaan-perusahaan Indonesia yang beroperasi di luar negeri. “Kalau kita, seluruh elemen bangsa, bersatu-padu mewujudkannya, kita boleh optimistis akan bisa mewujudkan Indonesia Inc. dengan menjadikan resto diaspora sebagai senjata ampuh nation branding Indonesia,” ujar Yuswo lagi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)