Tiga Strategi Kemenpar Kembangkan Pariwisata Kuliner

Menteri Pariwisata Arief Yahya (ketiga dari kiri) saat peresmian Batavia Cafe di Lotte Mart Bintaro, Tangerang, Banten, (28/2). (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan bahwa Kementerian Pariwisata memiliki tiga strategi dalam mengembangkan pariwisata kuliner agar semakin go international. Ketiga strategi tersebut adalah memperkenalkan makanan nasional, sertifikasi destinasi kuliner, dan co-branding Wonderful Indonesia dengan restoran di luar negeri.

Menurutnya, Kemenpar tidak bertanggung jawab pada kuliner, tetapi pada delivery channel seperti hotel, restoran dan kafe. “Sektor kuliner dalam industri pariwisata menyumbang sekitar 30 – 40 persen pendapatan pariwisata. Ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38 persen terhadap perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp 852,24 triliun, dari total kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69 persen,” kata Arief saat menghadiri pembukaan Batavia Cafe di Lotte Mart Bintaro, Tangerang, (28/2).

“Diplomasi terbaik di dunia baik secara sosial budaya maupun ekonomi adalah melalui kuliner. China membuat Chinatown dan restoran China di berbagai negara, tanpa terasa mereka mempengaruhi seluruh dunia. Hal yang mirip dilakukan oleh Thailand dengan ribuan restoran Thailand. Kuliner adalah diplomasi ekonomi paling halus (soft diplomacy),” tambahnya.

Tantangan kuliner di Indonesia adalah belum memiliki makanan nasional. “Namun ini adalah nice problem karena kita terlalu banyak pilihan. Akhirnya dari hasil diskusi Kemenpar, Bekraf, Kemenlu, dan BKPM menetapkan soto sebagai makanan nasional Indonesia. Namun Kemenpar menetapkan rendang, soto, nasi goreng, sate, gado-gado sebagai 5 makanan nasional. Sementara untuk minuman diputuskan kopi sebagai minuman nasional,” ujar Arief.

Sementara destinasi kuliner juga telah ditetapkan dan akan disertifikasi oleh UNWTO, yaitu Bali, Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang) dan Bandung. Kesuksesan tiga destinasi ini nantinya akan di-copy ke kota-kota lainnya.

Dalam hal branding atau pemasaran, Menpar memiliki strategi co-branding dengan 10 existing restoran Indonesia di luar negeri. “Saya telah mencoba namun gagal untuk membuka restoran di luar negeri, biayanya tidak murah dan pemerintah tidak menyediakan anggaran. Sebagai pembanding, pemerintah Thailand memberi subsidi setara dengan US$ 100 ribu kepada yang membuka restoran Thailand. Akhirnya saya putuskan adalah branding existing restoran yang sudah ada,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, peresmian Batavia Cafe merupakan waralaba yang dimiliki oleh Susanty Wijaya yang telah memiliki ratusan restoran waralaba, diantaranya Mie Kota Batavia, Crispy Duck Bebek Garing, Bakmi Naga Resto. Dalam kesempatan tersebut Arief menobatkan Susanty Wijaya sebagai Ratu Waralaba Indonesia

Editor : Eva Martha Rahayu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)