Banting Setir Tissa Aunilla Dari Corporate Lawyer ke Bisnis Cokelat

Tujuh tahun sudah cukup bagi Tissa menggeluti pekerjaan sebagai corporate laywer. Ia memilih berbisnis cokelat, yang sudah merambah pasar ekspor.

Tissa AunillaAwalnya ketika Tissa Aunilla sedang mengambil S-2 Hukum di Universiteit Utrecht Belanda, 2004-05. Selama di sana, ia sering menemukan berbagai produk cokelat dari Swiss, Amerika Serikat, dan Spanyol. Dan ternyata, produk-produk itu mengedepankan label pada bungkus cokelatnya dari Indonesia, seperti Bali, Flores, dan Papua. Bahkan, cokelat premium Felchlin pun mengambil cokelatnya dari Jember, Jawa Timur. Di website-nya, ditunjukkan peta Jember beserta penjelasan letak geografis hingga flavor-nya. “Saya kaget, cokelat semahal itu ternyata mengambil dari perkebunan kita,” ujar Tissa heran.

Buat Tissa, realitas itu sungguh ironis. Katanya, Indonesia merupakan produsen biji cokelat terbesar dengan kualitas terbaik ke-3 di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Negara-negara di Eropa yang mengambil biji cokelat dari Indonesia. Dan, banyak non-governmental organization (NGO) dari AS dan Swiss yang datang ke Indonesia untuk melatih para petani memproduksi biji cokelat yang baik. Anehnya, di Indonesia malah belum ada produksi cokelat premium yang mengambil dari perkebunan sendiri.

Hal itu yang mendorong lulusan S-1 Hukum Universitas Indonesia yang juga pernah mengambil sertifikasi non-degree, Master Chocolatier Sertification di Swiss, ini mendirikan bisnis cokelat di Tanah Air. Memang sebuah awalan yang bisa dibilang nekat karena sebenarnya Tissa masih minim pengetahuan tentang bisnis percoklatan.

Sebagai persiapan awal, Tissa melakukan survei dan eksperimen untuk menemukan cokelat premium yang akan menjadi produk yang dijajakannya. Lalu, bersama sang adik, Irfan, yang sudah menggeluti bisnis kopi, ia mendirikan Pipiltin Cocoa, yang khusus menggarap pasar cokelat lokal.

Tissa optimistis usahanya akan berhasil ketika mengetahui adanya kebutuhan cokelat premium seperti dari hotel-hotel bintang 5 dan supermarket. Maka, sebagai langkah awal, ia membuka café dessert di Jakarta dengan menu unik untuk memperkenalkan cokelat Indonesia. Dari kafe tersebut, orang mulai tahu rasa cokelat besutan Tissa. Awalnya mereka tidak percaya kalau cokelat di kafe itu berasal dari Indonesia, bukan impor.

Sejak itu, Tissa memproduksi dan memasarkan cokelat bar Pipiltin Cocoa hingga digandrungi pelanggan. Bahkan, cokelat barnya itu selain dipasarkan di berbagai daerah di negeri ini juga diekspor. “Alhamdulillah, yang grow adalah cokelat barnya. Yang betul-betul grow di Jakarta, Bali, Lombok, Singapura, dan Jepang,” katanya bangga.

Ekspor mulai dilakukan tahun lalu. Seperti ke Jepang, ia menjual cokelat bar single origin seperti cokelat dari Aceh, Flores, dan Bali. Ekspor ke Jepang tergantung pada season. Misalnya, di Februari saat Valentine musim dingin, penjualannya menjadi lebih tinggi, bisa mencapai ribuan bar. Namun, saat summer, penjualannya turun karena orang makan cokelat lebih banyak pada musim dingin. Untuk Singapura, ia mengekspor chocolate drink dalam bentuk bubuk.

Saat ini, secara total ada sekitar 3.000 kaleng yang kami kirim dan distribusikan ke berbagai supermarket. Untuk cokelat bar, sehari kami bisa memproduksi 1.600 bar. Artinya, sebulan bisa 34 ribu bar dari berbagai varian,” kata Tissa. Saat ini, pihaknya memproduksi 28 varian produk, termasuk yang single origin Aceh, Bali, Jawa Timur, dan Flores. “Pertumbuhan per tahun cokelat bar yang tertinggi sebelum kami masuk ke ritel dengan sesudah masuk ke ritel bisa 40-50% kenaikannya. Pas kami masuk ke ritel, langsung kerasa banget, dan lagi lebih efisien karena kami tidak perlu lagi rent space,” katanya.

Di dalam negeri, Pipiltin Cocoa bermitra dengan berbagai hotel dan supermarket. Misalnya, Mandarin Oriental, Grand Hyatt, Raffles Jakarta, Pullman Hotels, The Hermitage, Fairmont Jakarta, Keraton at the Plaza Hotel, WH Smith, The Goods Dept, Potato Head, Kem Chicks Pasific Place, Alun-Alun Indonesia, The Katamama, Javara, Grand Lucky, Omiyage, Art & Scince, Food Hall, Rench Market, dan Papaya. “Kenapa kami sekarang mau masuk ke supermarket, karena kami belajar, cokelat harus affordable. Kami tidak bisa menjual produk yang terlalu premium, terlalu idealis, dan akhirnya tidak bisa jualan. Cokelat itu harus affordable,” ujar Tissa menjelaskan.

Lalu, dari daerah mana saja asal cokelatnya? Menurut Tissa, sumber cokelatnya itu diambil dari Bali, Aceh, Trenggalek, Glenmore, dan Flores. Namun, tidak menutup kemungkinan pihaknya juga akan mengambil cokelatnya dari Sulawesi dan Kalimantan. Saat ini, pihaknya bekerjasama dengan koperasi, dan satu koperasi mencakup 40-100 petani. “Sebulan, kami bisa menghasilkan 11 ton untuk cokelat jadi, sedangkan untuk biji cokelat bisa mencapai 45 ton,” ungkapnya.

Di kafenya sendiri, Tissa akan mengeluarkan produk setiap empat bulan sekali. Hal ini penting untuk pasar lokal karena pelanggannya tidak loyal. Pasalnya, cokelat bukan konsumsi setiap hari tetapi sifatnya impulsif, tidak seperti kopi. Maka, pihaknya harus membuat effort yang besar untuk menjual cokelatnya, termasuk cara mengemasnya.

Selain itu, kami juga sedang melakukan bagaimana caranya capture daily consumtion. Makanya, sekarang kami juga supply ke kafe-kafe karena di coffeshop penjualan kedua setelah kopi adalah cokelat,” kata Tissa. Intinya, sang ahli hukum ini akan terus berinovasi agar Pipiltin Cocoa makin digandrungi pasar.(*)

Dede Suryadi dan Anastasia Anggoro Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)