Adi Arriansyah Berselancar Kembangkan Sagara Technology

Adi Arriansya, founder startup Sagara Technology (PT Sagara Asia Teknologi)
Adi Arriansyah, founder startup Sagara Technology (PT Sagara Asia Teknologi)

Kecintaan pada laboratorium komputer dan bidang programming mengantar Adi Arriansyah (27 tahun) mendirikan startup Sagara Technology (PT Sagara Asia Teknologi). Sagara adalah perusahaan konsultan teknologi dan agensi produk digital yang berbasis di Jakarta dan Bandung.

Banyak klien yang sudah menggunakan jasa Sagara. Di antaranya, Ruangguru.com, PBB (United Nations), Telkom Indonesia, Telkomsel, Telkom University, Universitas Indonesia, Shopback, Qatar National Bank, Boston Consulting Group, Dagelan, Infia, Kickfest, Qlue, Blanja.com, GMF Aero Asia, Foodizz, Cartenz, serta CRP Group (Upnormal, Bakso Boedjangan, Sambal Karmila, Nasi Goreng Rempah Mafia, dll.). Untuk pemerintahan, antara lain ada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan dan Transportasi, Kementerian Kesehatan, Uni Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP), serta Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Kisah Adi membangun Sagara berawal saat ia kuliah di Jurusan Electrical and Electronics Engineering Telkom University, Bandung. “Saya suka mengerjakan proyek-proyek pembuatan software dari dosen. Kemudian, beralih ke proyek dari kampus, hingga akhirnya memperoleh kesempatan mengerjakan proyek-proyek perusahaan,” kata co-founder & CEO Sagara ini.

Ia juga pernah menjadi anggota Computer and Communication Laboratory IT Telkom, lab yang berkaitan dengan web and apps development dan jaringan komputer. Beberapa proyek pun pernah dikerjakannya, seperti Android-Based Wireless Electronic Stethoscope, Augmented Reality for Architecture and Construction 3D, dan Intelligent Digital Speedometer for Future Car. “Saking cintanya dengan lab dan programming, saya bahkan berniat untuk tidak perlu punya kosan dan tinggal sebagai juru kunci di laboratorium, dengan tidur di sana dan mandi di kamar mandi umum,” ungkap Adi sambil terkekeh.

Sebenarnya, niat Adi kuliah di Bandung tidak ada hubungannya dengan perkuliahan ataupun komputer. “Niat saya kuliah di Bandung hanya supaya saya bisa dekat dan nonton grup band kesukaan saya, Burgerkill atau Seringai, yang sering mengadakan konser di Bandung. Terus, jadilah saya malah tidak pernah nonton konser seperti yang direncanakan ketika lulus SMA. Malah coding di lab,” katanya.

Sampai pada saatnya, oleh temannya yang bernama Evan Purnama --saat itu Evan masih kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan sekarang menjadi CTO Qiscus Pte. Ltd.-- Adi dikenalkan dengan teman Evan yang juga lulusan NTU untuk mengerjakan startup di Singapura. Adi pun saat itu berangkat ke Singapura dan cuti dari kuliahnya di Telkom University. “Sebelum saya lulus, saya cuti untuk terbang ke Singapura, berniat menyukseskan startup supaya seperti Mark Zuckerberg. Tapi, startup itu gagal. Meskipun, sudah mendapat grant yang lumayan pada saat itu. Saya kembali ke Bandung melanjutkan studi saya,” katanya mengenang.

Saat kembali untuk melanjutkan kuliah, Adi pun membagikan pengalamannya kepada teman-temannya di Bandung. Selain itu, karena pernah tinggal di lab komputer, ia pun kenal dengan para dedengkot lab tersebut. Mulai dari ketua Programming Club (Proclub) yang langganan juara kompetisi dunia Microsoft Imagine Cup sampai mahasiswa berprestasi seperti Gigih Septianto, Wirausaha Muda Mandiri dan pendiri situs crowdfunding untuk medical service, wecare.id.

Nah, dari situlah, tercetus ide dan didirikanlah Sagara Technology pada November 2014. “Didasari keinginan berkontribusi di bidang teknologi untuk Tanah Air, kami berlima membangun startup Sagara Technology,” katanya. Namun pada pertengahan 2016, semua anggota tim di Sagara, kecuali Adi, diajak bergabung dengan PT Infia Media Pratama. “Kondisi itu membuat saya memulai dari awal lagi,” ujarnya. Namun, saat ini ia sudah mempunyai 25 karyawan yang kebanyakan adalah programmer.

Lalu, apa saja bentuk layanan digital dan proyek kreatif yang ditawarkan Sagara Technology? Layanan yang disuguhkan adalah website development, e-commerce, mobile apps android dan iOS development, desktop apps, big data, data mining, dan masih banyak lagi. “Target pasar kami adalah perusahaan yang mau bikin web/aplikasi dengan desain yang bagus dan berkualitas,” katanya.

Nilai lebih layanan Sagara adalah menyediakan custom dan ide untuk membuat aplikasinya. “Kami juga ada tim QA dengan otomasi dan manual specialist. Semua aplikasi yang keluar, kami tes dan ada quality measurement-nya. Dalam budaya kerja perusahaan, kami menganut startup culture yang sifatnya open communication dan creative problem solving,” kata Adi menjelaskan. Yang pasti, tim Sagara juga harus peduli kepada klien dan memiliki cara berkomunikasi yang bagus. “Great communication to clients is the key,” ungkapnya menyimpulkan.

Mengenai tantangan yang dihadapi dalam membesut bisnis ini, dijelaskan Adi bahwa semua agen digital di Indonesia memiliki tantangan sendiri dan tidak bisa dipukul rata. “Mungkin kendalanya adalah sulit untuk scaling up jika hanya project-based. Sulit untuk berkembang secara signifikan dan mencapai valuasi perusahaan yang tinggi, meskipun ini profitable business kecuali kalau spin off ke produk,” paparnya.

Bicara soal menggaet investor untuk pendanaan bisnis, diakui Adi, hingga saat ini pihaknya belum membutuhkan pendanaan dari investor. Sebab, sampai saat ini bisnisnya sudah cukup profitable, walaupun ia tak bersedia menyebutkan nilai omset bisnisnya, “Ke depan, kami ingin berkontribusi untuk menjadikan Indonesia sebagai Smart Nation, dengan membantu passionate young entrepreneur dari Indonesia agar mimpi mereka tercapai,” ujar Adi mengungkap obsesinya. (*)

Dede Suryadi dan Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)