Ambisi Veteran Silicon Valley Membesarkan Urbanindo

Demi mewujudkan mimpinya, Arip Tirtarela tidak mengambil gaji selama dua tahun. Toh, pengorbanan pria yang meninggalkan kariernya di Silicon Valley pada 2011 demi membesut Urbanindo.com itu, terbayar sudah. Urbanindo yang berdiri pada November 2011 kini mulai diakui sebagai situs jual beli properti terpercaya. Setiap hari, puluhan ribu pengunjung mengklik 1/4 juta listing properti yang terpasang di situs tersebut.

Arip Tirta ~~

Arip sendiri memiliki bekal pengalaman yang lebih dari cukup di dunia start-up teknologi saat memulai Urbanindo. Lulusan S-1 dari University of California Los Angeles dan S-2 dari Stanford University Jurusan Scientific Computing itu sebelumnya bekerja selama 7 tahun di Hercules Technology Growth Capital (HTGC), perusahaan penyedia kredit ventura (debt venture) di Palo Alto, Kalifornia, Amerika Serikat. Markas besar HTGC berlokasi di kawasan yang lebih dikenal dengan nama Silicon Valley. Terakhir menjabat sebagai Direktur Analisis Investasi dan Strategi HTGC, bertahun-tahun Arip menganalisis berbagai start-up dari dalam dan luar AS yang akan diberi kredit dan saran manajemen oleh HTGC.

Meski demikian, pada 2011, kelahiran Bandung tahun 1978 itu memutuskan kembali ke Tanah Air untuk turut mengakselerasi pertumbuhan start-up teknologi. “Tahun 2011 saya lihat di Indonesia seperti mengalami Internet boom yang pertama. Di AS, ini terjadi 1990-an yang kemudian diikuti berdirinya perusahaan seperti Google yang akhirnya besar sampai sekarang. Saya tidak mau ketinggalan momen,” ungkap Arip kepada SWA.

Bagi Arip yang terbiasa memberikan saran manajemen kepada para start-up, mendirikan sebuah perusahaan di bidang teknologi cukup mudah. Namun ia sadar, tantangan sebenarnya adalah membesut sebuah start-up yang mampu mengatasi permasalahan masyarakat. Pada saat itulah dia ingat “kendala” yang dihadapinya ketika akan berinvestasi properti. Tepatnya pada 2010 saat masih tinggal di Santa Clara, Kalifornia, ia mengaku kesulitan menentukan properti di Indonesia untuk sarana berinvestasi. “Saya coba beberapa online real estate market place di Indonesia. Walaupun saya sudah membuka puluhan iklan properti dan melakukan analisis sendiri, saya masih belum yakin menemukan properti yang bagus untuk investasi,” ucapnya mengenang.

Dari situlah ia bertekad membesut situs properti yang akan mengatasi permasalahan para calon pembeli rumah seperti dirinya. Hanya bermodal Rp 500 juta yang dikumpulkan bersama empat temannya, Arip nekat meninggalkan karier cemerlang di AS untuk memulai dari nol kembali di Indonesia. Ia pun mulai merancang situs online market place properti yang tak hanya menampilkan iklan rumah, tanah, apartemen, ruko dan properti lainnya dari para agen atau pemiliknya, tetapi sekaligus menampilkan berbagai data pendukung seputar properti tersebut,seperti data harga pasar tertinggi dan terendah properti lain di sekitarnya, informasi akses angkutan umum, sekolah yang bagus, peta ke lokasi, persentase pergerakan harga tahunan dan sebagainya. “Jadi, kami memberikan data dan juga tool yang memungkinkan pengguna kami menganalisis apakah properti yang sedang dilihatnya itu bagus untuk dijadikan tempat tinggal dan atau investasi,” papar dia. Berbagai fitur ekstra itulah yang menyebabkan Arip menyematkan slogan Cara Pintar Cari Properti di situs Urbanindo.

Model bisnis Urbanindo demi mendulang laba adalah menerapkan pola freemium. Artinya, Urbanindo menggratiskan layanan standarnya yang memungkinkan para pengiklan mengunggah unit properti sebanyak-banyaknya ke situsnya. Namun, bagi yang berminat atas layanan ekstra alias premium, baru dikenai biaya tambahan.

Ada tiga jenis layanan premium yang disodorkan Urbanindo yakni fitur diutamakan, halaman depan dan promosikan agen. Dengan fitur-fitur tersebut, iklan properti akan tampil di halaman pertama Urbanindo. Bagi agen properti yang menggunakan layanan promosi, profilnya ditampilkan di halaman pencarian ataupun listing properti. Harganya? “Dari Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu per 5 ribu sampai 10 ribu impression, jadi sekitar dua minggu tayang. Kalau mereka beriklan di koran, satu hari tiga baris, mungkin menghabiskan ratusan ribu. Jauh lebih mahal. Dengan Urbanindo, gratis. Atau, kalau mau lebih agresif, mereka bisa pakai layanan premium selama dua minggu,” papar Arip yang mengklaim pengguna layanan premiumnya kini mencapai sekitar 1/5 dari total pengiklan.

Tentu, segala keseksianUrbanindo akan sia-sia jika tidak ada penjual properti yang beriklan ataupun calon pembeli yang mengunjungi situsnya. Arip sadar, keberadaan kedua elemen itu sama pentingnya bagi sebuah situs jual beli properti. “Proposisi nilai bisnis Urbanindo bagi pengguna kami akan lebih besar jika Urbanindo bisa mempertemukan antara penjual atau pemilik dengan pembeli atau penyewa,” Arip menegaskan.

Karena itu, ia “menepuk” keduanya sekaligus. Caranya, ia mengunjungi para agen properti sekaligus menerapkan taktik pemasaran gerilya untuk menarik banyak pengunjung ke situsnya.Praktik riilnya, pertama, memberikan kartu nama dan banner dijual/disewa kepada agen properti aktif yang terdaftar di Urbanindo. “Jadi, tiap orang yang diberi kartu nama itu atau lihat banner kami yang dipasang di rumah yang lagi dijual, mereka bisa datang ke situs kami untuk ngecek rumah atau agennya dengan lebih detail,” tuturArip.

Kedua, kerja sama dengan shuttle service, Xtrans – di setiap van Xtrans, di belakangnya ada stiker Urbanindo. Ketiga, melalui pemasaran online. Keempat atau terakhir, mengembangkan halaman Facebook dengan konten yang relevan dan informatif untuk menarik para pengunjung yang sudah me-likepage Urbanindo untuk datang ke situsnya juga. “Sekarang kami mempunyai lebih dari 332 ribu like di Facebook kami,” ujar Arip.

Dengan strategi itu, lanjut Arip, Urbanindo berhasil menarik banyak pengunjung sekaligus agen properti. Dia mengklaim, kini setiap hari terdapat 55 ribu pengunjung yang mengklik 250 ribu unit properti yang dipasang oleh 27.500 agen atau pemilik properti. Sejak didirikan, imbuh dia, jumlah pengunjung, iklan properti ataupun agen terdaftar bertambah 15%-20% per bulan. “Untuk mempercepat pertumbuhan, kami juga mendapatkan pendanaan dari beberapa investor seperti East Ventures, GREE Ventures, IMJ Fenox dan beberapa angel,” kataArip yang enggan menyebutkan jumlah modal tambahan yang diperolehnya dari para investor tersebut.

Ke depan, Arip bertekad terus menambah fitur dan data yang ditampilkan. Dia tak hanya ingin melihat start-up-nya saja yang maju, tetapi juga para start-up dari Indonesia mampu berkembang melewati batas negaranya. “Lima sampai 10 tahun ke depan, Indonesia merupakan pasar terbesar. Dengan pasar yang besar, harusnya kita yang mendominasi. Kita yang harusnya bisa membeli perusahaan dari negara-negara sebelah, bukan sebaliknya,” ujar dia optimistis.

Salah seorang klien Urbanindo, Budiono Yuwono, mengaku sejak Juli lalu menggunakan layanan premium Urbanindo. Meski hingga saat diwawancara SWAvia telepon pada 3 September lalu listing-nya di Urbanindo belum ada yang terjual, Budi mengaku menyukai Urbanindo. “Menurut saya, Urbanindo user-friendly. Kami sebagai marketer enak menggunakannya,” ujar agen dari kantor broker properti Remax Eagle di Surabaya itu.

Berhubung baru menggunakannya, Budi belum bisa berkomentar lebih jauh. Meski demikian, ia menyarankan Urbanindo agar lebih banyak berpromosi di Surabaya. “Saran saya, banyak-banyak melakukan branding, terutama di Surabaya, karena yang terbesar di Surabaya bukan Urbanindo,” ungkap Budi terus terang.

Rif’atul Mahmudah dan Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)