Berawal dari Tugas Kampus

 Aditya Rahman, pemilik merek tas lokal bernama Niion

Penting bagi para mahasiswa untuk tidak menyepelekan tugas kampus, siapa tahu kelak tugas itu menjadi cikal bakal untuk dikembangkan sebagai bisnis serius dan menguntungkan. Tak percaya? Coba tanya Aditya Rahman, pemilik merek tas lokal bernama Niion yang kini bisnisnya tumbuh baik. Pria yang biasa dipanggil Adit Yara ini awalnya memulai usaha tas demi memenuhi persyaratan untuk kuliah S-2 di SBM ITB, tetapi ternyata itu menjadi bisnis serius. Dari sana per bulan kini ia bisa menjual 5.000 tas. Ia pun sudah mempekerjakan 15 orang karyawan.

Sebelum merintis usaha sendiri, arsitek lulusan Universitas Parahyangan ini sempat bekerja di perusahaan Singapura, Charles & Keith dan firma WOW Architects & Warner Wong Design. Tahun 2012 ia memutuskan resign guna melanjutkan kuliah S-2 di ITB. Di ITB, ada syarat bagi mahasiswa umtuk mempunyai bisnis, sehingga tahun 2013 bersama tiga partnernya ia membuat bisnis. Ia tertarik berbisnis tas karena ketika masih di Singapura sering melihat saat akhir pekan banyak orang Singapura yang menggunakan tas simpel bila berpergian. “Saat itu saya terpikir untuk membuat produk seperti itu karena di Indonesia belum ada,” ujar Adit mengenang.

Gayung bersambut. Pada Mei 2013 ia dan mitranya berhasil meluncurkan bisnis baru ini, menggunakan merek Niion. “Niion diambil dari kata Neon dan Nylon. Nylon itu mewakili karakter dari bahan, splashproof dan foldable,” ungkap pria kelahiran Bandung, 26 September 1985 ini. Usaha ini dimulai dengan modal Rp 20 juta hasil patungan berempat. Sekitar 80% dari modal dipakai untuk kebutuhan produksi, mulai dari R&D, sampling, biaya produksi, hingga foto. Di saat pertama, Adit dkk. langsung membuat lima artikel tas, masing-masing memiliki lima varian warna.

Soal bahan baku, sejatinya di awal Adit dkk. memilih memakai bahan baku yang serba go green sehingga saat itu banyak memakai kain sisa dari pabrikan besar (limbah). Hanya saja, seiring permintaan yang makin banyak, pihaknya kemudian membeli bahan rol-rolan. Tas Niion ini dijual dengan harga Rp 100 ribu-300 ribuan. Di awal Adit hanya menjual ke teman-teman kelasnya di ITB dulu. “Ternyata hampir kawan sekelas membeli, jadi nggak dua bulan balik modal,” ujarnya mengenang.

Banyak cara unik dilakukan timnya dalam promosi. Contohnya, dulu Adit dkk. pernah meminta beberapa teman fotografer agar memotret tasnya dengan latar belakang personel Coboy Junior. Dengan cara itu, Niion kemudian menjadi viral. Demikian juga, saat Marshanda memakai tas itu dan kemudian difoto. Padahal, saat itu pihaknya belum menggunakan endorser bayaran. “Saat Marshanda memakai warna Niion, penjualan kami ikut naik. Karena, produk Niion dianggap bisa menyesuaikan culture yang sedang berkembang. Di situlah awal meningkatnya penjualan," kata Adit seraya menjelaskan, pihaknya sekarang aktif berpromosi online, termasuk melalui Instagram dan Facebook.

Kini, selain berpromosi dan berjualan secara online, Niion juga aktif berpromosi dengan mengikuti beberapa event atau bazar. Niion kini juga banyak dijual secara offline, antara lain di The Goods Dept, serta di beberapa gerai di Yogyakarta dan Makassar. Penjualan sudah menjangkau seluruh Indonesia. Kebanyakan pembelinya memang dari Jawa dan Sulawesi. Untuk pasar internasional, “Kami sudah masuk ke Singapura, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Di luar negeri kami pakai reseller,” katanya.

Dari sisi pasar, menurut Adit, perkembangan Niion sudah bagus, bahkan pihaknya sering kehabisan stok. Hanya saja, untuk distribusi pihaknya masih terus belajar, mencari pola terbaik. Dari sistem produksi, awalnya Adit dkk. menggunakan pola alih daya (outsourcing), menggandeng 5-7 penjahit rumahan sehingga staf produksi Niion tiap hari keliling ke rumah para penjahit. Namun, dengan pola itu banyak mengalami masalah. Proses produksi sering macet. Sebab itu, pihaknya kini memilih bekerjasama dengan satu mitra konveksi besar.

Kini, didukung 15 karyawan, Adit akan terus mempercepat ekspansi Niion. Dalam perjalanannya, bila di awal usaha ini dimiliki empat sekawan, kini tinggal dua orang saja, Adit dan Rangga. Adit lebih banyak mengelola aspek pemasaran, penjualan, dan keuangan. Adapun Rangga mengurusi bagian operasi, termasuk desain produk, karena punya pengalaman sembilan tahun mengelola brand besar yang biasa mengelola merek secara sistematis.

Bila ditotal, dalam setahun pihaknya meluncurkan 10 artikel tas. Bila dijumlah dengan aksesori, kini pihaknya sudah punya 100 SKU produk. “Karena itu, kami mulai bukan hanya jualan tas, tetapi lebih melihat behaviour dan lifestyle,” katanya. Ke depan, dengan akan terus diperbaikinya sistem produksi, Adit dan tim menargetkan bisa jualan lebih dari 5 ribu tas/bulan dan akan mulai masuk ke toko-toko dengan pola konsinyasi. (*)

Sudarmadi dan Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)