Dapurfit, Gairah dan Kreativitas Julius Sathya-Yansen Suanlim

Julius Sathya, founder & owner startup katering sehat Dapurfit
Julius Sathya, founder & owner startup katering sehat Dapurfit

Dekat-dekatlah dengan anak muda karena mereka akan mengembuskan gairah dan energi kreatif yang tiada habisnya. Anjuran itu termasuk mendekati para pendiri startup Dapurfit. Katering sehat ini menyediakan menu yang membuat fit: untuk body contest, kesehatan, dan menurunkan berat badan.

Dapurfit sebenarnya merupakan materi tugas akhir Julius Sathya di Jurusan Creativepreneur, First Media Design School, Singapura. Sehingga, sebelum diluncurkan tujuh tahun lalu (2012), sudah melalui proses riset pasar, business plan, hingga business model yang detil dan terukur, layaknya sebuah penelitian ilmiah.

Kami mempelajari market, tetapi tidak mengikuti kemauan market,” kata Julius mencontohkan. Menurutnya, pasar memang tidak pernah tahu apa yang mereka butuhkan. Tugas pemasar mencari tahu kebutuhan apa yang tepat untuk pasar dan mengedukasi mereka dengan memberikan hal yang mereka butuhkan.

Mengapa pilihan jatuh pada katering sehat? Menurut Julius, hal itu tidak lepas dari lingkungan yang ditemuinya selama di Singapura ataupun di Jakarta. Ia mengaku memiliki banyak teman yang berprofesi sebagai binaraga/model fitness/model/influencer. Ia pun sering membantu mereka dalam programming untuk kontes/photoshoot. Hal itu secara langsung dan tidak langsung menimbulkan ketertarikan pada dunia fitness dan nutrisi.

Yang kemudian membedakan dengan kawan-kawannya, Julius mempunyai passion mempelajari nutrisi. “Hobi saya mempelajari jurnal, dan banyak subscribe ke research reviewer,” ungkapnya. Dari apa yang dibacanya, banyak buku nutrisi yang hanya merupakan interpretasi penulis tentang keseluruhan scientific evidence yang ada. Banyak buku yang didasari ilmu pengetahuan yang out-of-date, dan banyak penulis yang memiliki bias masing-masing. “Karena itu, saya lebih suka membaca sumbernya langsung, sehingga bisa menyimpulkan sendiri bukti-bukti dari penelitian yang ada,” ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman membaca dan melihat realitas di lapangan, Julius tertarik membuat program nutrisi untuk orang dengan keperluan medis. Apalagi, saat itu ia melihat tren dan pasar gaya hidup sehat terus berkembang. Diketahuinya, makanan dan kesehatan adalah dua kebutuhan pokok (makanan, terutama) yang tidak akan pernah out of trend. Lalu, di zaman sekarang, mayoritas penyakit disebabkan oleh kelainan metabolisme dan kelainan sel. Penyakit yang banyak menyerang manusia modern bukan lagi disebabkan virus dan bakteri, melainkan kelainan metabolisme/sel yang disebabkan gaya hidup. “Manusia modern terlalu banyak makan, long term stress, terlalu kurang gerak, dan terlalu kurang tidur,” ujar Julius tentang kebiasaan tidak baik masyarakat zaman sekarang.

Dengan kebiasaan seperti itu, kini banyak orang tidak bisa meluangkan waktu untuk memasak makanan sehat dengan gizi seimbang. Butuh banyak waktu untuk membeli bahan, mempersiapkan, memasak, dan mencuci perabot, belum lagi untuk menghitung kalori/nutrisi dan merencanakan menu.

Maka, Julius melihat peluang jasa katering sehat. Gayung bersambut ketika kakak ipar, Yansen Suanlim, menawarkan kemitraan dengan membantu pendanaan untuk mewujudkan Dapurfit. “Kami memulai dari menyewa rumah kecil dengan karyawan terbatas,” kata Julius mengenang saat-saat memulai usaha. “Saya mengantar sendiri beberapa makanan dengan sepeda motor, untuk menghemat biaya, dan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, memperkenalkan Dapurfit, dan mendengarkan saran mereka,” Julius menceritakan.

Seperti dugaannya, dalam tiga bulan pertama, Dapurfit langsung banyak peminat. Julius menduga, mungkin karena Dapurfit masuk ke bisnis ini bertepatan dengan munculnya era media sosial. Dapurfit adalah Instagram-based healthy catering pertama di Indonesia. Dugaan lain karena Dapurfit banyak membuat program untuk model/pageant/atlet yang kemudian menjuarai pertandingan. Dan, kemungkinan lain adalah adanya strategi word of mouth, yang terbukti mampu mendongkrak pemasaran dan branding Dapurfit.

Kolaborasi dengan kakak ipar membuat gerak Julius lebih cepat. Hanya dalam waktu satu tahun, mereka sudah menggabungkan dua rumah untuk kantor, dapur, penyimpanan, dan ruangan untuk menimbang semua bahan untuk kontrol kualitas dan menghitung nutrition fact. Selain itu, juga sudah melibatkan dosen Swiss Germany University untuk membantu sebagai konsultan dapur. “Semua profit kami selama hampir dua tahun habis untuk membangun dapur yang benar-benar aman dan higenis,” ujar Julius senang.

Kemudian, Dapurfit membuka satu dapur lagi di Jakarta Selatan. “Agar makanan kami dapat tetap dimasak dan diantar dua kali sehari, dan hanya butuh satu jam untuk makanan sampai ke pelanggan,” ungkapnya. Hal itu dapat meningkatkan kesegaran makanan.

Bagi Julius, pembenahan pada produk dan kualitas adalah faktor kunci keberhasilan Dapurfit. Setelah itu, karena Dapurfit merupakan produk jasa, pelayanan menjadi faktor kunci lain yang diperhatikan. Ia meyakini, layanan akan membedakan Dapurfit dengan penyedia jasa katering sejenis. “Nilai yang kami tawarkan adalah dari segi kepraktisan. Kami menawarkan cara paling praktis, dan paling enak untuk menjadi fit (sehat, terhindar dari peningkatan risiko penyakit, kuat, dan bentuk badan ideal),” katanya menjelaskan.

Adapun untuk aktivitas pemasaran, Julius tetap mengandalkan strategi word of mouth. “Sebab, kami percaya 'Good product sells itself',” ungkapnya. Berdasarkan survei, mayoritas pelanggan Dapurfit bermula dari word of mouth. Mereka terus berlangganan karena merasa kualitas dan layanannya seperti yang diharapkan.

'No Marketing' Marketing’,” Julius menyebut strategi pemasaran Dapurfit. Pasalnya, ia memercayai, dalam bisnis kesehatan, trust adalah segalanya. Berbeda dengan segmen lain, misalnya fintech dan fashion, Dapurfit fokus menciptakan trust, bukan hanya hype. Karena itu, Dapurfit fokus menulis artikel yang bertujuan mengumpulkan audiens yang tepat, sekaligus menolak audiens yang salah. “Kami fokus membantu banyak orang melalui pengetahuan, motivasi, komunitas, dll. Kami berusaha untuk tidak komersial. Kami datang sebagai orang yang dapat dipercaya dan mau membantu,” katanya menegaskan.

Namun, bukan berarti Dapurfit abai dengan kegiatan promosi. Sebagai pionir, Dapurfit tetap mencoba bergerak lebih cepat dibandingkan pemain lain sebagai upaya promosi. Misalnya, Dapurfit telah menyimpan 1.000 lebih testimoni yang terdokumentasi di Instagram, dan sudah tersebar dari mulut ke mulut selama hampir tujuh tahun. “Kami dikenal sebagai sumber terpercaya karena konsisten, selama enam tahunan,” katanya bangga.

Selain itu, Dapurfit juga telah menulis kurang-lebih 800 artikel kesehatan yang banyak dirujuk, bahkan oleh profesional di bidang kesehatan dan medis. ”Kami juga dengan sengaja fokus ke credibility, lebih dari exposure. Audiens kami tahu bahwa artis/aktor/atlet/model yang mengonsumsi. “Ini yang sangat membedakan dengan era sekarang. Di era sekarang ini, orang sudah mulai tidak percaya dengan endorsement yang hanya foto produk,” lanjut Julius.

Untuk event promosi, Dapurfit pernah mengadakan event akhir tahun “20 Days Around the World with Dapurfit” . Yakni, sebuah acara yang menyajikan 160 menu dari 40 negara berbeda selama 20 hari. Pelanggan mendapatkan sticker bendera sesuai dengan negara asal makanannya, yang kemudian dapat ditempelkan dalam passport diet. Passport diet tersebut berisikan tip dan motivasi. Jika koleksi benderanya lengkap, dapat ditukarkan dengan diskon. Untuk seru-seruan, pelanggan juga mendapatkan boarding pass, dll.

Yang pasti, Dapurfit tidak pernah berusaha (bahkan menghindari) menjadi “Everything for Everyone”. Itu sebabnya, Dapurfit banyak menolak permintaan diet yang tidak science-based --hanya didasari mitos. “Kami fokus ke 1% audiens yang memang peduli kualitas, dan merupakan #SmartDieter. Kami menolak pesanan katering bagi orang yang ingin diet kilat (tanpa hasil yang maintainable, dan bisa tidak sehat),” katanya tegas. “Kami fokus untuk menjadi yang paling terpercaya bagi segelintir kecil orang yang memang target audiens kami,” Julius meyakinkan.

Prinsip Dapurfit tidak sekadar memberikan makanan. “Bagi kami, makanan hanya a small part of healthy living. Kami membantu langganan kami dalam banyak sekali hal, kami mengubah mindset mereka, memberikan pengetahuan yang science-based, membantu memotivasi mereka, menekankan pentingnya olahraga untuk kesehatan, dll,” jelas Julius.

Setelah berjalan mencapai tahun ke tujuh, kini Dapurfit yang melibatkan 70 karyawan berhasil menyediakan katering 600-800 boks per hari. Jumlah ini terus bergerak naik, dari 100-an boks per hari (2012-2013), sampai 200-an boks per hari (2013-2014), 300-400-an boks per hari (2015-2016), dan sekarang berkisar 600-800 boks per hari. Adapun harga per kotak antara Rp 92.500 dan Rp 100.000. Paket bulanan sebesar Rp 3,7 juta-5,5 juta, tergantung pada program katering yang dibeli.

Julius mengatakan, pencapaian tersebut tidak akan membuatnya lengah. Ia menegaskan, di samping keberhasilan, Dapurfit pun menghadapi tantangan tak kalah besar, yakni terkait dengan copycat.

Konten kami, slogan, visual, tagline, copywritting, desain, nama menu, foto menu, dll... sering diikuti plek-plek. Event kami “20 Days Around the World with Dapurfit”, juga diikuti. Artikel kami diikuti. Bahkan, template penerimaan order dan paket-paket kami diikuti secara persis,” katanya mengeluhkan.

Solusi untuk menghadapi tantangan tersebut, diakui Julius, hanya satu: terus berkarya dan menciptakan yang terbaik. Menurutnya, memang mudah mengikuti tampilan luar, tetapi sebagai orang yang menjalani, sangat tidak mudah menciptakan kualitas yang sesungguhnya. “Semua orang boleh mengikuti tampilan luarnya, tetapi, untuk jangka panjang, kembali lagi kualitas yang menentukan,” katanya yakin.

Terbukti, mayoritas pelanggan Dapurfit saat ini adalah pelanggan lama. Pelanggan baru yang justru pernah mencoba, pindah ke katering lain. Walaupun harganya premium, rupanya pelanggan justru memilih jasa yang memberikan solusi. “Business model kami mampu menjawab semua kebingungan pelanggan dan memberikan rekomendasi yang benar,” kata Julius. “Meskipun, terkadang rekomendasi kami bertentangan dengan tenaga medis yang digunakan pelanggan. Kami tetap dapat memberikan buktinya, baik dari penelitian up-to-date dan real world result-nya,” lanjutnya.

Ke depan, Julius berharap Dapurfit bisa mengembangkan sayap dengan merambah bisnis lain yang dapat membantu pola hidup sehat via jalur selain makanan. Misalnya, gym untuk membantu orang lebih aktif, atau psikolog untuk membantu orang meningkatkan kesehatan mental, dsb. Saat ini, Julius tengah menyiapkan pengembangan Whey Supplement dengan merek Fitlife. “Pokoknya, ke depan kami tidak hanya menjual service, tapi juga komunitas. Ketika orang bergabung, mereka sebenarnya bergabung dengan komunitas kami,” kata Julius mempertegas model bisnis yang dikembangkannya.

Istijanto Oei, pengajar Prasetiya Mulya Business School, memuji pilihan bisnis dan strategi pemasaran yang ditempuh Dapurfit. Menurutnya, potensi bisnis yang berkembang karena dorongan eksternal dan internal akan jauh lebih prospektif kelangsungannya ketimbang bisnis ikut-ikutan. Dalam hal ini, dorongan eksternal Dapurfit berasal dari luar diri konsumen, yaitu karena perkembangan kehidupan modern. Adapun dorongan internal bersumber dari dalam diri individu, seperti kesadaran akan pentingnya manfaat hidup sehat.

Dengan demikian, apa yang harus dilakukan Dapurfit tinggal menjaga ragam menu dan mempertahankan pelanggan. Namanya makanan, variasi menu menjadi syarat bagi konsumen. Untuk itu, perlu tim yang mampu meracik menu-menu beragam sehingga pelanggan tidak bosan, meskipun yang mereka cari makanan sehat. Jadi, tidak bisa menjadi alasan, bahwa makanan sehat berarti tidak enak atau tidak bervariasi. “Inilah tantangan bagi Dapurfit. Jika pelanggan jenuh, akan memutus habit sehingga berpeluang susah kembali jika sudah menghentikan langganan,” demikian kekhawatiran Istijanto. Untuk itu, ia menyarankan, “Upaya-upaya customer satisfaction dan customer retention harus menjadi prioritas Dapurfit.”

Istijanto juga menyarankan, ke depan Dapurfit perlu melakukan program bersama dengan rumah sakit, lab klinik (untuk menu medis dan sehat), atau tempat kebugaran (untuk program penurunan berat badan). Ia membayangkan, jika di antara mereka bisa saling sharing data, dampaknya pasti akan lebih besar dan istimewa. (*)

Reportase: Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)