Di Balik Sukses Inspigo

Tyo Guritno, Co-Founder & CEO Inspigo

Peluang bisnis digital kian terbuka lebar di dunia knowledge sharing. Dan, itulah yang ditangkap Tyo Guritno, Eva Ditasari, dan Yoris Sebastian lewat aplikasi Inspigo. Ini adalah aplikasi audio podcast yang menghadirkan beragam konten pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan profesional, mulai dari kepemimpinan, self improvement, hingga pengembangan karier.

Pengguna Inspigo terus tumbuh. Pengunduhnya di Google Play Store mencapai 40.000 dengan rating 4,8. Selain pelanggan pribadi, Inspigo juga digunakan puluhan pelanggan korporat yang deal secara B2B sehingga karyawan di berbagai perusahaan itu bisa menikmati layanan premium secara gratis karena sudah dibayarkan perusahaan. “Tujuan kami, memberi dampak terbaik ke lebih banyak orang di Indonesia dengan topik-topik sharing yang kami sediakan,” Tyo, co-founder & CEO, seraya menjelaskan, Inspigo singkatan dari Inspirasi on The Go.

Dunia kreatif memang tak lepas dari keseharian tiga pendiri perusahaan ini. Sebelum pulang ke Indonesia, Tyo malang-melintang mengembangkan aplikasi game di Amerika Serikat. Ia alumni Silicon Valley. Lalu, Eva (istri Tyo) berkarier di Google. Dan, Yoris sudah tersohor sebagai orang kreatif.

Yoris lama bersahabat dengan Tyo dan selalu mendorong kawannya itu mudik ke Indonesia untuk membuat sesuatu. Selain pernah bekerja di perusahaan game top seperti Namco dan Electronic Arts, Tyo juga membangun startup, yakni Good&Co dan WonderBox, yang sudah dijualnya ke Khan Academy.

September 2016, setelah ditantang Yoris membuat sesuatu, Tyo mengembangkan semacam podcast, dengan konsep radio on demand. Ia lalu mengajak Rene Suhardono –pembicara publik bidang motivasi kerja dan passion– untuk menjadi kelinci percobaan proyek awal ini. Kebetulan Rene dan Yoris juga berkawan dekat. “Saya rekam sharing Rene. Studio masih nyewa,” ujar Tyo mengenang.

Setelah menemukan format yang pas, pada Oktober 2017 Inspigo resmi diluncurkan. “Saya hati-hati, karena harus mencari gaya yang Indonesia banget. Aplikasi audio streaming ini hal baru, bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia, mengingat yang di-share adalah knowledge. Pembicara dan praktisi yang membagikan pengalamannya,” kata Tyo.

Kini pengguna Inspigo sudah bisa menikmati materi dari 350-an pembicara yang membuat album knowledge sharing. Tiap kategori ada topik dengan beberapa pembicara. Antara lain, Rene, Wishnutama, Andi F. Noya, Najwa Shihab, Billy Boen, dan Yoris. Wishnutama (Dirut Net TV), misalnya, menyampaikan materi people management selama satu jam yang dipecah materinya 4-6 menitan. “Jadi, seperti model album lagu. Bukan video, tapi bentuk suara obrolan. Kalau kenal Spotify atau Podcast akan paham model Inspigo ini, hanya saja isinya bukan lagu, tapi materi knowledge sharing dan ilmu praktis,” kata Tyo sembari menyebutkan, sejauh ini materi paling favorit adalah tentang mindfulness.

Segmen pendengar Inspigo, usia 18-34 tahun yang memang haus update pengetahuan dengan cara mendengarkan. Pengguna bisa mengakses layanan gratis ataupun premium yang berbayar.

Yoris menjelaskan, saat awal dibesut, Inspigo didorong untuk berkolaborasi dengan kalangan korporat dengan konten-konten yang dibutuhkan pekerja. Tak mengherankan, basis pelanggan awalnya kebanyakan korporat. Lalu, memasuki tahun kedua, baru ke konten entrepreneur. Hanya dengan 10-an anggota tim, kini Inspigo berkembang karena dipromosikan oleh para penggunanya dari mulut ke mulut. “Inspigo merupakan master class-nya Yoris, dan menjadi sebuah karya Tyo dan kawan-kawan, orang yang berpengalaman panjang di Silicon Valley,” kata Yoris.

Ia lalu menambahkan, guna mengembangkan bisnisnya, Inspigo telah dibantu angel investor. Pihaknya membangun sistem yang membuat hitung-hitungan dengan jelas agar uang investor dan calon investor bisa kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama, dengan keuntungan yang didapat dari valuasi Inspigo. “Perusahaan startup lain harus tunggu bertahun-tahun uangnya kembali. Di sini tidak perlu, kami sudah bisa membiayai operasional. Ini karya lulusan Silicon Valley yang bertemu real entrepreneur di Indonesia,” kata Yoris meyakinkan.

Bagaimana realisasi keyakinan itu, tentunya mesti kita tunggu. (*)

Sudarmadi dan Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)