Gagal di Bola, Gayeng di Bisnis

Delly Fitriansyah DarusmanJalan hidup orang memang sulit ditebak. Kala remaja, Delly Fitriansyah Darusman bercita-cita menjadi pesepakbola profesional. Maka, ketika SMP, dia ikut seleksi Persib Junior. Setelah melalui tahapan proses seleksi, Delly diterima dan bergabung dengan klub sepakbola asal kota Bandung itu saat kelas I SMA. Namun, untuk masuk Persib Senior, ternyata seleksinya sangat ketat. “Akhirnya, saya banting setir ke bisnis,” tutur Delly.

Sejak itu, lelaki kelahiran Bandung, 17 Juni 1986, ini asyik berbisnis. Awalnya, tujuan dia berbisnis pada 2004 adalah untuk membantu biaya kuliah. Saat itu, usianya 18 tahun. “Saya mulai dari menjual produk clothing line untuk mengumpulkan modal,” cerita Delly yang membantu rekannya untuk menjual produknya kepada teman-teman, tetangga, dan keluarganya secara door to door.

Dari situlah, dia melihat prospek cerah di bisnis clothing line – salah satu bagian dari industri kreatif di bidang fashion yang terus berkembang dan diminati generasi muda. Model busana ini umumnya berupa T-shirt yang memiliki keunikan pada desain gambar. Desain tampil dengan ciri khas tersendiri; jarang ada desain yang sama sehingga dianggap mewakili karakter setiap pemakainya. Karakteristik unik inilah yang membuat bisnis clothing line terus berkembang dan tetap eksis sampai sekarang.

Setahun kemudian, 2005, dengan modal Rp 2,5 juta dari pinjaman kartu kredit, Delly membangun usaha sendiri. Belakangan, dia menambah modalnya dengan uang gadai sertifikat rumah orang tua sebesar Rp 40 juta. Brand yang dia kibarkan adalah Dobu Jack Invasion – Dobu singkatan dari Doa Ibu.

Karena ingin berkonsentrasi penuh di bisnis, dia terpaksa meninggalkan bangku kuliah tahun pertama di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. “Saya memulai semuanya secara otodidak. Mencari konveksi, penjahit, dan lain-lain,” kata Delly yang kantornya berlokasi di Kompleks Puri Dago Mas, Jalan Cibodas Raya 19, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat.

Mulanya, produk andalan Dobu Jack adalah kaus. “Namun, setelah dijalani, ternyata kurang maksimal karena perlu desainer yang bagus. Saat itu kami belum dapat desainer. Akhirnya, saya arahkan ke tas, hoodie, dan sweater. Karena, kalau sweater, lebih fokus ke pola daripada desain. Kalau kaus, harus betul-betul bagus di grafisnya. Saat ini kami menjual semuanya: sepatu, tas, kaus, jaket, sweater,” papar Delly yang akhirnya meraih gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dia mengakui, Dobu Jack sekarang lebih membaca minat pasar dengan membaca tren terbaru. “Jadi, kami mengikuti arahnya saja. Zaman sekarang kalau kami idealis ingin memiliki ciri khas sendiri, agak sulit menjualnya. Misalnya, tahun ini trennya desain pop, tahun depan mungkin sudah berganti ke gothic. Jadi, kami tidak produksi desain pop lagi tahun depan,” kata Delly yang juga mendapat inspirasi desain dari H&M, Zara, dan Supreme.

Dulu, Dobu Jack membeli desain dari pihak lain, namun sekarang sudah memiliki tim desainer sendiri. Sejak 2016, Dobu Jack juga mulai menjahit sendiri dengan 1-2 penjahit. Adapun lokasi produksinya di Bandung. “Namun, kami lebih banyak membagi-bagi project ke orang lain,” ungkap Delly.

Rentang harga produk Dobu Jack adalah dari Rp 125 ribu untuk kaus sampai dengan yang termahal Rp 550 ribu untuk sepatu. Target pasar Dobu Jack sendiri menyasar remaja usia 16-17 tahun sampai anak dewasa usia sekitar 30 tahun.

Dobu Jack kini telah menjadi salah satu clothing brand yang terkenal di kalangan anak muda Bandung. Toko offline-nya yang pertama dibuka di Bandung pada 2007, dan kini punya satu lagi di Bekasi. Selain itu, produk Dobu Jack telah disalurkan di 20 kota di Indonesia seperti Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, serta beberapa reseller di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dobu Jack pun rutin mengikuti ajang pameran pakaian anak muda terbesar tiap tahun seperti Kickfest dan JakCloth. “Kami tidak begitu maksimal di online, kontribusinya hanya 10-20%,” ujar Delly.

Delly kini membawahkan sekitar 20 karyawan, termasuk dua desainer. Dobu Jack meraih omset Rp 300 juta per bulan untuk low event. “Namun, saat high event seperti Lebaran kami mampu meraih omset hingga Rp 2 miliar-3 miliar per bulan, dan Rp 600 juta-700 juta saat Natal,” katanya.

Delly mengakui, pekerjaan rumahnya masih banyak. Mulai dari kualitas produk yang harus ditingkatkan lagi, hingga keinginannya menjadi brand yang tidak lagi mengikuti tren. “Ke depannya, kami ingin menciptakan tren,” ungkapnya serius.

Di mata pengamat kewirausahaan Handito Yuwono, bisnis Dobu Jack sudah berjalan 13 tahun, berarti pertumbuhannya masih bisa dipercepat. “Kalau sudah 13 tahun, itu artinya dia sudah menjalankan bisnis secara konsisten dan dengan passion yang tinggi. Saya melihat, dia sudah memiliki fondasi yang baik. Ini adalah modal penting,” katanya tandas.

Senada dengan keinginan Delly, Handito juga berharap Dobu Jack harus beyond the customer expectation. “Tidak cukup hanya menuruti keinginan konsumen, tetapi harus lebih dari itu supaya bisa jadi trendsetter. Kalau dia bisa menjadi trendsetter, pertumbuhannya akan cepat.”

Handito menyadari, zaman sekarang memang tidak mudah menemukan orang-orang yang satu visi dan satu ide. “Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mendukungnya. Kemampuan teknis bisa menyesuaikan. Tidak perlu ragu-ragu mengambil orang dari berbagai latar belakang bisnis, pendidikan, dan pengalaman. Itu hal yang dibutuhkan oleh pelaku usaha seperti ini,” katanya.

Handito juga melihat, sekaranglah saat yang tepat bagi Dobu Jack untuk mengembangkan pasar online-nya. Bisa menggunkan Instagram, Twitter, juga e-commerce dan marketplace. “Semua ini bisa digunakan bersamaan karena masing-masing bisa saling melengkapi,” demikian saran Handito.

Reportase: Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!