Hypernet, Bisnis Managed Service Provider Kakak Beradik

Sudianto Oei, CEO Hypernet

Tak dapat dimungkiri, internet telah menjadi kebutuhan vital bagi perusahaan untuk menjalankan roda bisnisnya. Melihat peluang besar ini, Sudianto Oei (35 tahun) bersama adiknya, Sudino Oei, mendirikan Hypernet. Sudianto bertindak sebagai chief executive officer dan Sudino sebagai chief commercial officer. Keduanya lulusan sarjana komputer dari Universitas Bina Nusantara (Binus).

Hypernet berdiri sejak 2005, berawal dari sebuah warung internet dan berkembang menjadi penyedia wireless internet connection skala kecil untuk mahasiswa di sekitar kampus Binus. Layanan Hypernet mendapat respons yang baik dari para lulusan Binus. Banyak dari mereka yang meminta Hypernet untuk menyediakan jaringan koneksi internet di perusahaan tempat mereka bekerja.

Kami yang awalnya sebagai home industry, pada 2007 Hypernet resmi menjadi perusahaan berbadan hukum bernama PT Hipernet Indodata dan juga menjadi internet service provider (ISP) yang menyasar segmen korporat. Saat itu, khususnya pelanggan perusahaan dari departemen teknologi informasi (TI) yang kebanyakan alumni Binus,” ujar Sudianto.

Memang, ketika lahir saat itu Hypernet lebih mengandalkan referensi/word of mouth dari pelanggan karena Hypernet tidak lahir dari perusahaan besar. Berkat kegigihan pendirinya, perusahaan ini terus berkembang. Seperti pada 2010, Hypernet membuka kantor cabang di Bandung dan membangun infrastruktur jaringan berbasis fiber optic untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hingga saat ini, kantor cabang Hypernet sudah ada di Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Bali. “Kami berencana dalam waktu tiga tahun ke depan untuk ekspansi ke tiga kota lainnya, yaitu Palembang, Makassar, dan Balikpapan. Saat ini, jumlah karyawan kami sebanyak 230 orang,” kata Sudianto.

Hypernet memiliki visi sebagai perusahaan alih daya TI (IT outsourcing company) yang punya layanan kelas dunia. Alih daya infrastruktur TI akan menjadi tren bisnis ke depan karena perusahaan cukup fokus pada bisnis inti masing-masing.

Dijelaskan Sudianto, sejak 2015 Hypernet telah mengganti fokus bisnis tidak hanya sebagai penyedia koneksi internet atau ISP tetapi sebagai managed service provider (MSP), yaitu layanan terintegrasi penyediaan resources serta pengelolaan segala bidang TI. MSP merupakan total solution. Jadi, yang ditawarkan kepada pelanggan tidak hanya infrastruktur jaringan internet, tetapi juga hardware, software, hingga personel teknisi alih daya untuk pengelolaan seluruh aset TI. “Kami berharap customer kami fokus pada core business mereka tanpa repot mengurusi masalah TI di belakangnya,” ucapnya setengah berpromosi.

MSP memiliki business model dengan pembayaran per bulan selama kontrak atau subscription-based. Sehingga, dari sisi kacamata pelanggan lebih menarik, tanpa perlu melakukan investasi besar-besaran tetapi sudah mendapatkan fasilitas TI secara lengkap. Selama masa kontrak, semua itu sudah mencakup biaya maintenance sehingga kalau butuh perbaikan, biaya sudah fixed cost, tidak fluktuatif seperti jika membangun infrastruktur TI sendiri. Hal ini dapat menekan risiko karena perusahaan tidak secara langsung menangani infrastrukturnya. Layanan MSP dirancang untuk kebutuhan berbagai industri dengan solusi yang dapat customized untuk tiap-tiap industri.

Dengan fokus pada MSP, bukan berarti Hypernet tidak menyediakan jaringan internet lagi. ISP hanya menjadi salah satu produk MSP. Meski, tidak dapat dimungkiri bahwa penyediaan jaringan internet merupakan produk utama Hypernet. Namun, Hypernet menawarkan keunikan, tidak sekadar koneksi internet melainkan dengan detail yang spesifik sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Contohnya, di industri kesehatan, dengan salah satu kliennya: Bio Medika. Hypernet menawarkan solusi jaringan internet yang menyediakan data medis online yang dapat diakses di semua cabang, sistem reservasi online, serta optimalisasi efisiensi dari segi operasional rumah sakit.

Intinya, Hypernet tidak sekadar menawarkan koneksi internet dalam bentuk general seperti untuk pelanggan ritel/perorangan. “Itulah alasan kenapa Hypernet tidak menyasar segmen B2C atau ritel, namun kami hanya fokus di B2B. Kami juga melihat di pasar ritel persaingan sudah sangat ketat, namun di segmen bisnis belum banyak provider yang fokus pada supporting business,” katanya.

Berbeda dengan ISP yang mengincar jaringan homepass (rumah yang terkoneksi internet) sebanyak mungkin, Hypernet di sektor B2B menggunakan metode average revenue per user, yakni tagihan per pelanggan harus ada target yang harus ditingkatkan tiap tahun. Hypernet berupaya meningkatkan nilai transaksi pelanggan. Fokusnya adalah meningkatkan value dibandingkan kuantitas dengan membantu pelanggan untuk tumbuh dengan layanan yang ditawarkan Hypernet.

Saat ini klien Hypernet antara lain Binus, Wijaya Karya, Grup Agung Podomoro, BPPT, Sekretariat ASEAN, Waskita Precast, Grup Lippo, Ismaya, Dyandra, Electronic Solution, HokBen, Radana Finance, Swiss-Belhotel, dan Bio Medika. Saat ini terdapat 3.500 perusahaan yang menggunakan layanan Hypernet. “Target kami adalah 35% year-to-year growth secara revenue. Kami tidak fokus pada jumlah pelanggan namun jumlah revenue,” ungkap Sudianto.

Ke depan, Hypernet akan tetap fokus pada MSP TI dan trennya nanti akan menjadi business process outsourcing. TI pun akan terus berkembang, dan Hypernet akan berusaha keep up dengan perkembangan yang juga seiring dengan kebutuhan pelanggan bisnisnya. Tren TI akan sangat dinamis sehingga Hypernet harus terus update.(*)

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!