Irsyad Nurdin Sukses Berbisnis Tas Bordir Tasikmalaya

Irsyad Nurdin (29 Tahun) pemilik dan pendiri Tara Bags bersama sang Istri Nia Husniati (28 Tahun) berfoto di depan boothnya di pameran Konferensi Tingkat Tinggi IMF dan Bank Indonesia di Jakarta.

Irsyad Nurdin (29 tahun) tampak sibuk melayani pengunjung booth tas wanita Tara Bags miliknya di acara Konferensi Tingkat Tinggi IMF dan Bank Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Istrinya, Nia Husniati (28 tahun) juga ikut membantu melayani menjawab dan menjelaskan kepada pengunjung seputar motif-motif tas bordir khas Tasikmalaya itu.

Mereka berdua memulai usaha rumahan in sejak tahun 2012. Pria lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Tasikmalaya tahun 2012 itu memang bertekad ingin jadi wirausaha sejak di bangku sekolah. Kini, bisnisnya baru mulai tumbuh. Bagaimana Irsyad dan sang isteri membangun Tara Bags ini? Berikut kutipan wawancara SWA Online :

Apa yang melatarbelakangi Anda membuat usaha ini ?

Ini awal berdirinya tahun 2012, ketika saya baru saja lulus kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Tasikmalaya. Kenapa saya memulai usaha ini, karena memang sejak kuliah saya cita-citanya mau wirausaha, tidak mau jadi karyawan kantoran. Tetapi keluarga besar saya sebenarnya kurang setuju, mereka inginnya saya harus kerja 'kantoran'. Sebab, dalam cara pandang keluarga saya terutama orang tua, sarjana itu pantasnya kerja kantoran bukan berdagang. Memang keluarga besar saya semuanya pegawa negeri sipil, tidak ada yang wirausaha. Karena terus didorong untuk melamar kerja, saya ikuti. Ada beberapa panggilan tes, tapi saya tidak penuhi, saya diamkan saja, karena memang saya mau fokus jadi wirausaha.

Awalnya kecil-kecilan saja usaha ini. Saya mulai dengan bergabung di sentra kerajinan tangan di Tasikmalaya, namanya Kecamatan Rajapolah. Saya mulai dengan bikin tas dari anyaman berbahan serat eceng gondok, kebanyakan model seperti tas keranjang gitu, lalu kotak tisu, dan lainnua. Tapi yang jadi produk unggulan adalah tas. Lalu tahun 2014 saya ikut, semacam inkubasi wirausaha dari Bank Indonesia.

Jadi seluruh wirausahawan muda daftar, kemudian diseleksi. Yang memenuhi syarat kemudian masuk ke kelas inkubator wirausaha Bank Indonesia. Jadi dari yang daftar ratusan wirausaha, diseleksi tahap satu diambil 75 orang, kemudian tahap kedua 25 orang dan tahap ketiga, finalis 10 orang termasuk saya. Nah, 10 finalis ini kemudiann digodok sampai matang oleh Bank Indonesia, mulai dari pelatihan manajemen produksinya, pemasarannya, manajemen SDM, seluruh aspek dari usaha ini termasuk masalah inovasi produk. Nah, kami bisa mengembangkan produk tas ke anyaman polyester, anyaman pelepah pisang, kulit, di situlah awal mulanya. Jadi tahun 2014 saya mulai fokus bikin tas bordil manual dengan bahan kulit asli.

Jadi sejak 2014 itu kami mulai mantap menetapkan positioning, yakni sebagai tas bordir manual untuk segmen menengah atas. Lalu sama BI di ajak ikut berbagai pameran tingkat internasional, saya pernah ikut di pameran OKI, terus di pameran Indonesia Fashion Week , Inacraft, dan sebagainya. Jadi lewat pameran-pameran itu terbuka akses dan jaringan pasar.

Sekarang sudah ada berapa karyawan Tara Bags ?

Sudah 15 orang, mereka karyawan tetap yang mengurus administrasi dan keuangan. Kalau yang mengerjakan produksi bukan karyawan tetap, mereka dibayar berdasarkan orderan. Kami lebih banyak terima orderan dari instansi, mereka pesan buat tas souvenir untuk seminar dan kegiatan lainnya. Klien kami ada BI Pusat, Bhayangkari Polda Jawa Timur di Surabaya, Bhayangkari Polda Metro Jaya. Produksi untuk yang premium rata-rata 54 unit per bulan. Kalau yang untuk tas souvenir seminar itu bisa 2.000 unit per order.

Berapa harganya untuk tas premium?

Mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta per buah

Tantangan apa untuk membesarkan bisnis seperti ini ?

Pertama adalah pengrajinnya (SDM), sulit mencari pengrajin bordir manual. Sedanngkan yang punya ketrampilan bordir manual di Tasikmalaya mulai jarang, karena tergerus sama bordir komputer. Kebanyakan yang masih ada (pengrajin bordir manual) usianya sudah di atas 50 tahun. Sekarang kami buka kelas pelatihan bordir manual. Lumayan banyak yang mau ikut, alumninya kami rekrut untuk bantu di Tara Bags, tetapi di antara mereka ada juga memanfaatkan skill untuk bikin usaha sendiri, kami berikan kesempatan.

Dibandingkan bordir komputer, apa kelebihannya bordir manual ?

Jadi yang bordil komputer itu, kalau satu benangnya lepas maka seluruh bordiran akan lepas semua. Sedangkan yang manual, karena dikerjakan satu per satu jahitannya itu, maka setiap jahitan punya ikatannya seniri-sendiri, jadi kalau satu benang lepas, tidak ada akan mengganggu yang lain. Lalu dengan manual, kami lebih luas mengembangkan motif-motifnya, kalau komputer udah ada template-nya tidak bisa diubah-ubah lagi. Sehingga yang manual motifnya tidak pasaran, jadi bisa disamakan seperti batik tulis, motifnya tidak pernah ada yang sama persis. Satu bahan bordir yang sudah dipola itu paling cepat pengerjaannya selama satu minggu satu orang.

Sudah memasarkan ke luar negeri ?

Memasarkan dalam arti kami dapat orderan lewat Instagram, beli-nya satuan. Itu dari India, Malaysia, New York, Singapura dan Hong Kong. Tapi kalau memasarkan dalam arti ekspor, kami belum ada ekspor. Jadi produk kami sudah pernah dikurasi oleh seorang kurator craft dari Amerika Serikat, Miss Jeniffer, waktu produk kami dibawa disebuah even di New York. Nah dari situ saya menjadi salah satu yang terpilih untuk ikut event-event internasional berikutnya.

Strategi pemasarannya ?

Saya aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram. Selain itu,rajin ikut pameran, karena yang lebih cepat terasa respon pasarnya itu saat pameran. Itu lumayan penjualan kami naik bisa 50% dari hari biasa. Dan kami juga ada reseller.

Sudah berapa banyak reseller-nya ?

Hampir 100 orang reseller, tersebar di Jakarta, Surabaya dan Tasikmalaya.

Apa rencana dan targetnya ke depan ?

Rencananya kami ingin ekspor, tapi ya itu masih tekendala di tenaga produksi. Jadi nanti kalau ahli bordir manualnya sudah cukup banyak (hasil pelatihan Tara Bags), kami akan coba untuk menggarap ekspor.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)