Kiat Elang Handiyana Pasarkan Miniatur Alat Musik ke Mancanegara

Elang Handiyana sebelumnya tidak membayangkan bisa menjadi pengusaha sukses. Di usianya yang masih relatif muda (tepatnya 34 tahun), ayah satu anak ini telah berhasil membesarkan CV Marlinda Craft hingga bisa mengekspor produk kerajinan miniatur alat musik ke berbagai negara. Tak kurang dari 10 ribu potong miniatur alat musik ia produksi setiap bulannya. Dari angka tersebut sebanyak 90% diekspor ke berbagai negara seperti Italia, Spanyol, Portugal, Inggris, Korea Selatan, Australia, Amerika Serikat, dan Israel.

Elang HandiyanaPria asal Yogyakarta itu mengaku pilihan hidupnya berbisnis, karena merasa karakter pribadinya yang tidak cocok bekerja di bawah orang lain. Meskipun telah mengantongi gelar Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Proklamasi, Yogyakarta, Elang tak berminat melamar pekerjaan dan memilih merintis bisnis sendiri. Padahal, ia mengaku tak punya modal finansial memadai untuk membuka bisnis berskala besar. “Boleh dibilang, hanya modal dengkul saja,” katanya.

Elang merasa tuntutan hiduplah yang memaksanya untuk berpikir kreatif. Tanpa pengetahuan yang mumpuni di bidang pemasaran dan bisnis, ia memberanikan diri menjadi reseller barang kerajinan. Beragam produk kerajinan ia jual mulai dari batik, tas, miniatur alat musik dan lain-lain. Belajar dari pengalamannya, ia mencatat bahwa dari keseluruhan barang yang dijualnya, miniatur gitar dan alat musik lainnya merupakan produk paling prospektif.

Sejak saat itu, Elang fokus hanya menjual miniatur gitar dan alat musik. “Jadi berjalan dengan sendirinya, karena dari sisi ekonomi itu good for me, padahal saya juga bukan seniman, ” katanya.

Di tahun awal pendirian, Marlinda Craft menjual produk miniatur gitar yang didapat dari pihak ketiga dengan model yang masih polos dan sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu, ia memberikan sentuhan kreativitas, dengan konsep dan desain atas setiap miniatur, agar nilai jualnya lebih tinggi. Sejak tahun 2011, Marlinda Craft memproduksi sendiri miniatur gitarnya. Saat ini bisnisnya dibantu oleh 60 perajin dan 12 karyawan yang mengurusi bagian pengemasan. Sebanyak 80% produk merupakan hasil produksinya sendiri, sedangkan sisanya dari pihak lain.

Adapun resep Elang untuk bisa dikenal ke mancanegara adalah mengakuisisi klien. Ia punya target agar produknya bisa dijual oleh siapa saja tanpa mengalami kerepotan. Maka, ia mengonsepkan dengan betul, semua proses, mulai dari pemesanan, pengantaran hingga barang itu sampai ke konsumen.

Ia memberikan kemudahan para kliennya untuk menjual kembali produknya, lewat berbagai cara, mulai dari penetapan harga, hingga proses delivery. “Saya carikan shipping cost yang murah, saya carikan kargo yang murah, bahkan saya cari sistem yang baik untuk kurir, lisensi, dan lain-lain. Pendeknya, saya pikirkan semua,” ungkapnya. “Jadi, saya tidak hanya menjual dan setelah itu dapat uang. Saya tidak ingin produk saya hanya berhenti di satu orang,” kata Elang membeberkan jurus pemasarannya.

Elang menceritakan, dalam memasarkan dulu lebih banyak melalui kanal online. Ia masih ingat betul, ketika tahun 2008, belum banyak industri rumahan yang menggunakan Internet sebagai sarana pemasaran. Namun nyatanya, ia berhasil melakukan ekspor perdananya ke Israel. “Mereka tahu saya dari Internet,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Elang, hampir mayoritas pembelinya orang-orang yang tidak dikenalnya. Karena itu, guna memupuk kepercayaan dan menghadirkan repeat order, Elang tak pernah main-main soal kualitas produk. Ia selalu berusaha menghadirkan barang dengan kualitas terjamin tanpa cacat. “Orang bule itu kalau sudah percaya, akan lebih memudahkan kami untuk berbisnis,” ujarnya memberikan tip.

Selain aktif memasarkan lewat online, Elang juga menggunakan jaringan pertemanan. Langkah terbarunya adalah membuka gerai Marlinda Craft di salah satu mal di Yogyakarta untuk meluaskan pasar dalam negeri. Pria kelahiran 1982 itu membanderol harga Rp 25-160 ribu setiap produknya. Dari harga tersebut ia mengambil margin 20%-30%.

Permintaan sebulan minimum 8 ribu piece dari semua klien,” ungkapnya. Untuk pasar Italia saja, per tahun, Elang bisa mengirimkan sebanyak 3 kontainer miniatur alat musik. “Sekali kirim bisa beragam, ada yang 500, seribu, 3 ribu piece, bahkan ada yang satu kali pengiriman mencapai 5 ribu piece,” ia menguraikan.

Ke depan, Elang mengaku tak banyak target yang dipatok. Ia hanya ingin bekerja lebih keras agar bisa menjadi orang yang lebih berguna bagi sesama. Ia bersyukur pernah dihadapkan pada situasi sulit dalam hidupnya, sehingga bisa menjadi manusia yang lebih kreatif dan tangguh. Ia mengibaratkan orang dengan kehidupan yang pas-pasan harus berusaha memutar otak tiga kali sehari untuk memenuhi kehidupannya, dan ini berbeda dari yang hidup berkecukupan. “Kalau orang seperti saya bisa putar otak tiga-empat kali karena memang butuh. Jadi apa yang saya miliki saat ini, sudah jauh melebihi target,” katanya bersyukur.

Handito Hadi Joewono, konsultan pemasaran dari Arrbey, mengapresiasi keberanian Marlinda Craft melakukan ekspor. Menurutnya, sebenarnya banyak pengusaha dalam negeri punya kemampuan mengekspor. Hanya saja telanjur berpikir bahwa ekspor itu susah. “Padahal potensi ekspor sekarang lagi besar di tengah pasar domestik yang sedang lesu,” kata Handito.

Dari segi produk yang diekspor, Handito menilai bisnis miniatur alat musik memang masih jarang pemainnya. “Marlinda masih punya banyak ruang untuk memperluas pasar,” ujarnya Handito juga menyarankan Marlinda Craft mulai aktif membuka pasar ekspor baru. Keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN bisa jadi peluang tersendiri karena letak geografisnya lebih dekat.

Ananda Putri & Nerissa Arviana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)