Kiat Marco Mengembangkan Barbershop Premium

Ekspatriat betah mencukur rambut di Sterling Barbershop. Target yang dibidik adalah konsumen segmen A hingga B.

Sekitar dua tahun lalu, Marco Sebastian, 32 tahun, yang berdomisili di apartemen kawasan Sudirman, Jakarta, acapkali kesulitan mencari tempat cukur rambut yang berdekatan dengan apartemennya ini.

Jika ingin mencukur rambutnya, Marco harus menyambangi kawasan Melawai atau pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Berpijak dari kesulitan mencari tempat cukur alias barbershop yang dekat dengan tempat kediamannya ini, maka Marco terpacu untuk mendirikan barbershop yang lokasinya berdekatan dengan kawasan perkantoran, niaga, apartemen, dan perguruan tinggi.

Setelah mencermati berbagai hal itu, Marco di tahun 2014 menyiapkan rencana bisnis mendirikan barbersop di pusat perbelanjaan prestisius. Lalu, Marco di pengujung tahun 2015 mendirikan Sterling Barbersop di Citywalk, Sudirman, Jakarta.

Lulusan S-2 dari University of Seatlle, Washington, Amerika Serikat ini, merancang Sterling sebagai barbershop premium. Tarif mencukur rambut premium di Sterling ini mencapai Rp 100 ribu. ”Untuk mempromosikan Sterling saya melakukan word of mouth marketing di media sosial, seperti Instagram,” ujar Marco saat dijumpai SWAonline di Sterling Barbershop, Citywalk, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia rajin mengunggah suasana dan aneka macam promosi Sterling di Instagram. Pelangganya yang menyambangi Sterling juga mengunggah hasil potongan kreasi sang pencukur rambut (barber) Sterling. Kiat Marco menjaring pelanggan adalah bermitra dengan pusat kebugaran dan menggandeng Bank ANZ yang memberikan potongan harga kepada pemegang kartu kredit ANZ sebesar 15%. “Sterling adalah barbershop yang pertamakali bekerjasama dengan bank,” sebut Marco. Anggota pusat kebugaran juga diberikan potongan harga jika memotong rambut di Sterling.

Kendati tarif potong rambutnya tergolong premium, pengunjung Sterling kian bertambah. Mereka adalah para eksekutif yang berkantor di seputar Citywalk, mahasiswa, atau pekerja asing yang kantornya tidak jauh dari lokasi Sterling itu. “Pelanggan kami adalah segmen A dan B. Ekspatriat sudah banyak yang sering ke sini. Kami memberikan layanan bernilai tambah kepada pelanggan, misalnya mengevaluasi hasil potongan rambut, jika pelanggan tidak suka, kami siap memberikan potongan rambut yang sesuai keinginan pelanggan,” jelas alumnus S-1 dari University of Washington, AS ini.

Untuk memanjakan pelanggan Sterling dari kalangan ekspatriat, Marco mengedukasi para barber-nya untuk bisa berbahasa asing tingkat dasar. Sebanyak empat barber di sana cukup piawai berbahasa asing tingkat dasar. Alhasil, banyak  pelanggan asing itu betah atau kembali lagi mencukur rambut di Sterling. Pelanggan domestik pun kesengsem dilayani barber Sterling.

Menurut Marco, ketrampilan para barber-nya sangat piawai. Rata-rata pengalaman kerja barber di Sterling ini selama lima tahun. Berkat jasa dan keramahan barber melayani pelanggan, maka mereka memiliki pelanggan tetap sekitar 100 orang per barber. “Kunjungan paling banyak di weekend, kalau jumlah pelanggan di hari kerja sekitar 40-an orang,” ucap Marco.

Guna meningkatkan ketrampilan si barber, Marco menyediakan pelatihan dan memepelajari berbagai model potongan rambut terkini di You Tube. Yang tak kala penting, Marco memberikan sistem bagi hasil yang cukup besar kepada barber. “Kami menerapkan sistem bagi hasil, yakni 70% untuk manajemen dan 30% untuk barber. Sistem ini meningkatkan kesejahteraan mereka karena penghasilan setiap bulannya di atas Upah Minimum Regional Jakarta,” klaim Marco.

Selain jasa mencukur rambut dewasa, Sterling juga menyediakan potong rambut untuk anak-anak, krim Wak Doyok, pomade, jasa mencuci dan mengecat rambut dan pijit. “Sterling adalah salah satu distributor resmi Wak Doyok,” tukas Marco.

Ke depannya, Marco akan menambah jasa manicure dan pedicure atau jasa mereparasi sepatu sneaker di Sterling. “Ibarat ruang sewa di mal, kami mengoptimalkan ruang di Sterling sebagai gerai menjual produk yang bisa menghasilkan pendapatan,” tandasnya. Rata-rata total pendapatan Sterling, menurut Marco, naik 10% setiap bulan.

Selain memiliki Sterling, Marco juga mendirikan bisnis konsultan arsitektur dan desain interior premium. Namanya Vindate yang menggarap arsitektur dan desain interior di apartemen, perumahan, kantor, restoran atau café, atau masjid. premium. Proyek yang pernah digarap Vindate adalah Sterling, Providence Park Apartmen, Cityloft Apartment, Essence Dharmawangsa, Residence Senopati, The Capital Residence, Madame Ching Restaurant, Clairmont Patisserie, The Ubud, Ro in Yogyakarta Hotel,Tolaram Group, atau Pakubuwono. Marco juga memiliki Cross Fitt, pusat kebugaran yang berlokasi di SCBD. Mayoritas anggota pusat kebugaran ini adalah para ekspatriat. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)