Kiat Tiga Sekawan Kembangkan Advotics

Boris Sanjaya, CEO & co-founder Advotics.
Boris Sanjaya, CEO & co-founder Advotics.

Advotics didirikan pada 2016 oleh tiga engineer dengan latar belakang beragam. Boris Sanjaya, lulusan Industrial Engineer yang pernah bekerja di Boston Consulting Group; Hendi Chandi, mantan software developer senior di Amazon dan lulusan Program Teknik Komputer University of Washington, Amerika Serikat (AS); serta Jeffry Tani, peraih gelar Ph.D Teknik Mesin dari Massachusetts Insttitute of Technology (MIT) Boston, AS.

Advotics merupakan startup Software as a Service (SaaS) yang fokus membantu para pelaku bisnis rantai pasok (supply chain) barang dalam mengambil keputusan berdasarkan data. Advotics ingin mendigitalkan aktivitas perdagangan offline menjadi sebuah data yang bisa digunakan manajemen perusahaan dalam membuat keputusan bisnis, seperti penetrasi penjualan, produktivitas, serta strategi penjualan ritel.

Saat ini Advotics telah mendapatkan pendanaan tahap awal (seed funding) senilai Rp 39 miliar (US$ 2,7 juta) yang dipimpin oleh East Ventures. Klien Advotics kurang-lebih ada 60 perusahaan dengan berbagai ukuran bisnis. Klien besarnya antara lain Exxon Mobil, Mulia Group, Philip Morris, Danone, Federal Oil, Nutrifood, Motul, Saint-Gobain, dan Kansai Paint.

“Proses mendekati 2-3 klien pertama kami tidak mudah. Kami masih perlu mengedukasi tentang betapa pentingnya digitalisasi supply chain. Namun, kami mengupayakan agar aplikasi yang digunakan user friendly,” ungkap Boris Sanjaya, CEO & co-founder Advotics, menceritakan pengalamannya.

Bicara tentang digitalisasi UKM yang sedang dilakukan Advotics, Boris melihat UKM masih jauh dari digitalisasi. Segmen UKM ini sangat luas dan jumlahnya sangat banyak. “Mungkin banyak di luar sana pelaku UKM yang ingin mendigitalisasi bisnis mereka tapi bingung mulai dari mana, sehingga Advotics mencoba memfasilitasinya,” katanya.

Memang, tantangan untuk UKM dan perusahaan besar itu berbeda. Tantangan untuk perusahaan besar lebih kompleks, perlu melibatkan banyak stakeholder, dll. “Nah, kalau UKM, biasanya bisa langsung memakai produk kami yang ready to use. Kalau sudah oke, tinggal masukkan database,” katanya. Contohnya, untuk solusi Workforce Management System, tinggal memasukkan data karyawan serta data pelanggan. Biasanya lebih simpel dan tinggal dibantu training.

Menurut Boris, ada dua faktor dalam model bisnis SaaS dan solusi rantai pasok yang dapat terintegrasi, serta bisa dibilang Advotics adalah pemain pertamanya. “Mungkin di market ada pemain yang build software dan IT solutions sesuai request klien. Namun, biasanya biayanya lebih mahal dan butuh development time,” katanya. Lalu, juga ada pemain lain yang mungkin hanya fokus di produk tertentu, maksimum dua. Sementara Advotics mempunyai 7-8 solusi yang bisa digunakan secara sendiri ataupun terintegrasi.

Tim Advotics

“Kami mengambil best practice dan menciptakan integrasi supply chain, mulai dari SDM-nya hingga business network-nya. Mayoritas klien kami dari industri FMCG, otomotif, dan bahan bangunan,” kata Boris. Ia menanbahkan, Advotics kini punya 120 karyawan yang sebagian besar ada di bagian pengembangan software.

Dari semua solusi Advotics, mana yang paling banyak digunakan? Boris menjelaskan, karena banyaknya pedagang dan toko, solusi yang paling banyak dipakai adalah Workforce Management System. Kedua, Advotics Management System. Untuk produsen, yang paling game-changing adalah Product Digitalization Management.

Venny Septiani, Head of Growth Advotics, menjelaskan, Workforce Management System adalah solusi yang diperuntukkan bagi salesman, teknisi, merchandiser, canvasser, collector, dan surveyor. Tenaga penjualan dapat menggunakan aplikasi dari Advotics untuk jemput bola, guna mengetahui database toko mana saja yang bisa disuplai barang. Fitur utamanya, Geo-tagging check in dan pengumpulan data kunjungan, otomasi pesanan penjualan, serta penjadwalan dan pelacakan.

Dalam pandangan Boris, karena terjadinya pandemi Covid-19, ada perusahaan yang mengalami penurunan penjualan. Solusi Advotics bisa digunakan untuk mengetahui penurunan ini bisa terjadi di mana, di wilayah distribusi apa, terjadi untuk produk yang mana, seberapa besar penurunannya, dll. “Kami bisa membantu mereka untuk bisa melakukan perencanaan produksi yang akurat. Ketika mereka mau rebound, lebih mudah,” katanya.

Kemudian, saat salesman mengalami kesulitan dan ketika mereka harus melakukan kunjungan ke toko-toko tersebut. Nah, dengan menggunakan solusi Advotics, toko bisa memesan produk langsung ke distributor atau produsen sehingga barang bisa langsung dikirim ke mereka tanpa salesman. Atau, salesman juga dapat mendata pesanan toko secara visitless saat bekerja dari rumah.

Selain itu, adanya pandemi ini juga merupakan momen yang tepat bagi bisnis untuk memperkuat transformasi digital mereka. Banyak proses digital yang sebelumnya menjadi kemewahan sekarang menjadi kebutuhan. “Dengan digitalisasi, mereka bisa lebih cepat forecast kebutuhan pasar dan menyiapkan supply chain yang lebih baik,” kata Boris. (*)

Dede Suryadi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari; Riset: Ayusha Laksmi Sitepu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)