Kolaborasi Bisnis dan Sosial ala Pei

Tak banyak pengusaha yang menjalankan bisnis dengan kegiatan sosial secara beriringan. Biasanya yang seperti itu kebanyakan dilakukan oleh korporasi besar mengingat kegiatan sosial terkadang butuh dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, suatu hal yang tidak biasa bila itu bisa dijalani oleh sebuah usaha kecil-menengah (UKM).

Phaerlymaviec Musadi, atau akrab disebut Pei, pemilik bisnis baju anak-anak Parental Advisory

Adalah Phaerlymaviec Musadi, atau akrab disebut Pei, pemilik bisnis baju anak-anak Parental Advisory yang menjalani bisnis sembari melakukan kegiatan sosial melalui Yayasan Adikaka. "Jadi, gini asalnya Parental Advisory, pertama itu kita bangun Yayasan Adikaka," kata Pei kepada SWA Online, di Bandung, Senin (7/1/2013).

Dia bercerita bahwa yayasan yang terbentuk tahun 2000 tersebut untuk mengayomi anak-anak tidak mampu yang berasal di daerah Pasar Kosambi, Bandung. Lebih jauh, yayasan ini berusaha menjadi jembatan antara orang tua dengan budaya remaja. Selang satu tahun, yakni 2001, yayasan pun vakum. Dia menuturkan, tidak adanya dana menjadi alasannya. "Kami punya yayasan tapi nggak punya duit. Nggak ada funding," imbuhnya.

Dari situ, bersama tujuh rekannya, ia lantas mendirikan usaha distro dengan nama United Moron yang bercirikan streetwear dengan menyasar anak remaja. Kebetulan, selama tahun 2001-2004, fesyen ala streetwear lagi digandrungi anak muda. Alhasil, ia pun kebanjiran pesanan. Dengan begitu, Pei menyebutkan, ia mempunyai dana untuk menghidupkan kembali yayasan. "Tepatnya tahun 2006, yayasan benar-benar baru jalan. Jadi, tahun 2001-2006 kita benar-benar fokus ke bisnis," sebut dia.

Yayasan dijalankan kembali, namun usaha United Moron bubar. Usaha tersebut mulai goyang sekitar tahun 2004. Akhirnya, Pei menuturkan, ia dan rekannya mendirikan usaha masing-masing. Sekitar tahun 2006, ia pun mendirikan bisnis baju anak Parental Advisory. Namun usaha ini sifatnya hanya sebagai sampingan. Usaha utamanya adalah Distribute Merchandising. Jika Parental konsepnya retail, maka Distribute sifatnya lebih kepada pesanan, di mana ia banyak mengerjakan pesanan, seperti merchandise, dari perusahaan besar, artis, hingga band musik. “Manajemennya sebenarnya sama,” tambah dia.

Sejalan dengan dimulainya usaha, Yayasan Adikaka pun berjalan kembali. Mengenai yayasan, ia menjelaskan bahwa salah satu hal yang dilakukan adalah kampanye Never Grow Up. Kampanye ini mengajak orang tua untuk meluangkan waktu 15 menit sehari demi bermain dengan anaknya. Dan tahun 2007, ia pun mendirikan Neverland Supervise Playground, yang merupakan taman bermain anak dengan pengawasan.

Di playground ini, anak-anak tak hanya sekadar bermain. Mereka juga diajari untuk akhirnya bisa mempunyai perilaku yang lebih baik. Yang diajarkan, diantaranya, adalah bagaimana menjaga kebersihan, mengantri, dan bertutur kata yang sopan. Bahkan, yayasan pun menyediakan pelatih yang khusus mengajari anak-anak bermain skateboard.

Pei pun menyebutkan, yayasannya juga mempunyai program Budipreneur. Ada sekitar 20 orang anak yang rata-rata berada di kelas 1-2 SMP mengikuti kelas ini. Di kelas yang baru berjalan satu tahun belakangan ini, anak-anak mendapatkan ilmu kewirausahaan melalui sejumlah modul pelajaran."Kita ajari mereka agar jangan jadi tukang sablon saja, tapi jadi instruktur, supaya punya daya saing. Kita bantu mereka menilai skill mereka. Kita ajarin bahwa standar fotografer amatir itu di bayar segini," sambung dia.

Lantas bagaimana hubungan yayasan dengan bisnisnya? Pei menjawab, setiap pekerja yang bekerja dengannya harus meluangkan waktu untuk kerja sosial. Misalnya, pekerja bagian desain meluang waktu untuk mengajarkan cara menggambar kepada anak-anak. "Itu kenapa sosial bisnis, misalnya yang saya rekrut, yakni akuntan, dia meluangkan waktu sekian persen untuk kerja sosial," tutur dia.

Selain itu, sebagian keuntungan usaha pun disalurkan ke yayasan. Usaha fesyen baju anak yang dimiliki Pei sendiri terus berkembang. Bahkan, melalui pemesanan secara online, produk Pei pun sudah dipasarkan sampai ke daratan Eropa, seperti Jerman dan Swiss. “Omzet Parental Advisory ketika masih ada toko Rp 50 juta-an per bulan, setelah (toko) kebakaran sekitar Rp 20-30 juta per bulan. Kalau yang Distribute Rp 100 juta-an per bulan,” ucap dia.

Lalu, usaha fesyennya pun menggunakan anak-anak sebagai model iklan ketimbang menggunakan profesional. Ia bilang, "Nggak usah hire (rekrut) model, kami ambil anak-anak, bayar anak-anak ekonomi bawah."

Pei menegaskan, sekalipun ia membantu anak-anak tak mampu melalui yayasan tersebut, ia bilang bahwa kesejahteraan karyawannya adalah hal pertama yang dia perhatikan. "Karena nggak mungkin menolong orang kalau (karyawan) di dalam bisnis saya tidak makmur," tandasnya yang pernah mendapatkan penghargaan dari Danamon tahun 2007. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)