Leonardo Kamilius, Mantan Konsultan Muda yang Terjun ke Bisnis Sosial

Saya ingin hasil keringat saya bukan cuma berupa uang atau perusahaan tambah gede. Tapi, saya ingin melakukan sesuatu yang berguna dan bermakna, yaitu bisa membantu orang-orang yang kurang mampu.” Itu bukan pernyataan yang keluar dari mulut pengusaha senior, melainkan seorang anak muda berusia 28 tahun bernama Leonardo Kamilius.

Leonardo Kamilius Leonardo Kamilius

Niat lelaki yang akrab disapa Leon ini terjun ke bidang sosial semakin kuat setelah ia menjadi relawan gempa bumi di Sumatera Barat pada 2009. Selain itu, Leon juga mengaku terinspirasi oleh sebuah buku karya Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank dan peraih Nobel Perdamaian dari Bangladesh, tentang bisnis sosial.

Maka, pada 2010 lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini memutuskan berhenti sebagai Analis Bisnis di perusahaan konsultan asing McKinsey. Tak lupa, Leon pun menyampaikan niatnya itu kepada istri dan orang tuanya. “Yang paling kaget ibu saya. Ibu khawatir dengan kehidupan saya jika keluar dari kerjaan, karena kami ini bukan keluarga kaya. Makan satu telur saja pernah harus dibagi lima,” ungkap Leon.

Toh, tekad Leon sudah bulat. Lalu, bermodal Rp 50 juta dari tabungan pribadinya, dan dibantu dua teman kuliahnya, pada Januari 2011 Leon mendirikan lembaga keuangan mikro yang diberi nama Koperasi Kasih Indonesia (KKI). Lokasi yang dipilih untuk kantor KKI yakni di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara. Alasannya, daerah tersebut merupakan salah satu wilayah termiskin di Jakarta. “KKI adalah lembaga keuangan mikro yang ditujukan untuk membantu masyarakat menengah-bawah, terutama ibu-ibu, dengan penghasilan tidak lebih dari Rp 20 ribu per hari,” kata Leon. “Awalnya, saya pikir KKI ini hanya berfungsi sebagai lembaga peminjaman modal. Lalu, setelah bertemu dengan para ibu, ternyata mereka tidak memiliki tabungan. Mereka perlu dilatih tentang bagaimana cara mengelola keuangan,” tambahnya.

Diakui Leon, awalnya tidak mudah mengajak ibu-ibu bergabung di KKI. Begitu pula, ada kesulitan tersendiri untuk mendapatkan pegawai penyuluh, yang disebut pegawai kesejahteraan. “Banyak pesaing kami yang juga menawarkan pinjaman. Misalnya para rentenir atau lembaga sosial lain. Lalu, mendapatkan karyawan juga sulit. Banyak yang keluar masuk,” ungkap Leon.

Pada masa awal berdiri hanya ada 24 orang yang mau bergabung dengan KKI. Dan sepanjang tahun 2011 hanya terhimpun 286 orang. Tahun berikutnya jumlah anggota KKI hanya bertambah jadi 682 orang. “Jika para ibu atau nasabah tidak mengalami perkembangan, tahun 2013 KKI akan saya tutup,” kata Leon sambil tersenyum.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)