Marlissa Dessy Setyo Utami, Membawa Indosight Ekspansi ke Vietnam

Marlissa Dessy Setyo Utami pada 2011 mendirikan PT Indosight yang bergerak di bidang market entry consulting yang memberikan berbagai macam pelayanan dan konsultasi bagi investor asing yang hendak berinvestasi dan membuka badan usaha di Indonesia. Sebagai Wakil Pendiri Indosight, Marlissa mampu melejitkan bisnis perusahaan sebesar 300% setiap tahun. Klien Indosight, seperti dituturkan Marlissa, adalah perusahaan asing. Indosight sejak pertama kali beroperasi sudah melayani ratusan klien, baik individu maupun institusi asing. “Sejak tahun 2011 hingga Agustus 2016, jumlah perusahaan yang menjadi klien kami sekitar 700,” ungkapnya.

Marlissa Dessy Setyo UtamiIndosight tahun ini mengepakkan sayap bisnisnya dengan menggarap klien lokal yang ingin mendirikan badan usaha perseroan terbatas (PT) dan telah membuka kantor cabang di Vietnam. Adapun nilai proyek yang dibayarkan klien ke Indosight bervariasi jumlahnya. “Kami pernah menangani satu proyek yang nilainya hampir mencapai Rp 1 miliar,” ujarnya. Itu adalah angka tertinggi yang pernah ditangani Marlissa dalam satu proyek.

Berbicara urusan perizinan ke birokrasi, pengalaman Marlissa sudah terasah saat berkarier di salah satu perusahaan ritel di Indonesia. Tugas yang diembannya selama 8 bulan di perusahaan itu adalah mengurus berbagai surat dan dokumen ke kantor pemerintah. Sulitnya birokrasi di Indonesia, menurut Marlissa, menjadi kendala yang dihadapinya. Alih-alih kecewa, pengalaman itu malah menginspirasinya untuk membuat perusahaan konsultasi bagi investor mancanegara yang berminat menanamkam modalnya di Indonesia.

Walau minim pengalaman di bidang ini, Marlissa berhasil menyakinkan perusahaan asing untuk menjadi kliennya. Perusahaan riset asal Shanghai, China, merupakan klien yang pertama kali disabet Marlissa. Perusahaan itu menghubungi Marlissa melalui jejaring sosial profesional Linkedin untuk merekrutnya sebagai karyawan. Akan tetapi, Marlissa menolaknya dengan halus. Justru sebaliknya, dia menawarkan jasa untuk mencarikan karyawan asal Indonesia. “Perusahaan Shanghai itu menjadi klien yang pertama Indosight. Saat itu, kami belum berbentuk PT,” tuturnya. Mantan pegawai di salah satu lembaga nirlaba di Thailand ini mengurus izin pendirian usaha Indosight bersama kedua rekannya, yang salah satunya berpaspor Estonia. Setelah Indosight resmi berbadan hukum, Marlissa rajin mencari klien dengan cara pemasaran dan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth marketing).

Tentus saja, hasilnya tidak maksimal untuk menarik minat perusahaan asing. Karena itu, Marlissa mengubah strategi pemasaran dengan mengembangkan situs indosight.com. “Karena orang asing lebih suka mencari informasi dari website,” ucap gadis kelahiran 1 Desmber 1987 ini. Situs Indosight itu menampilkan beragam informasi yang komunikatif dan interaktif, serta dikemas populer agar memudahkan investor asing mendalami informasi mengenai aturan dan iklim investasi di Indonesia. “Kami ingin investor asing itu mengetahui Indosight melalu website dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya,” ujar Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Selain itu, menurut Marlissa, pihaknya rutin memutakhirkan informasi mengenai regulasi terbaru yang diterbitkan pemerintah. Indosight juga mengunggah video beresolusi tinggi yang ditampilkan di situs dan blog. Video itu dikemas informatif untuk memudahkan orang asing mencerna dan memahami informasi mengenai regulasi di Indonesia. “Kami mencoba mengubah bisnis yang konservatif menjadi lebih menyenangkan, youthfull, inovatif dan solution-oriented,” dia menerangkan.

Beragama layanan ditawarkan Indosight, antara lain riset pasar, kajian hukum, ataupun mendaftarkan pegawai perusahaan klien ke program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. “Istilahnya, mereka cukup fokus mengurus bisnis dan kami mengurus kelengkapan yang dibutuhkan perusahaan yang dimiliki klien. Terkadang mereka meminta kami untuk mencarikan karyawan,” ia menjabarkan.

Sebelum bisnis Indosight meroket, Marlissa membuka kantor di apartemen. Saat itu, sebagian besar karyawannya berstatus pekerja lepas. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Kini, jumlah pegawainya sudah melonjak lebih dari 12 kali lipat atau sebanyak 50 karyawan. Sejak tahun 2014, kantor Indosight hijrah ke gedung perkantoran di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan. Dalam waktu dekat, kantor Indosight akan kembali bergeser ke ruang perkantoran yang lebih lapang, yakni seluas 250 m2.

Rencana perpindahan kantor itu sejalan dengan melejitnya pertumbuhan bisnis Indosight. “Target bisnis kami tahun ini, bisa mencapai pertumbuhan sebesar 300%,” ungkap Marlissa yang kini sedang melanjutkan pendidikan S-2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Saat ini, jumlah pegawai Indosight membengkak. Indosight baru-baru ini membuka kantor cabang di Bali dan Vietnam. “Perusahaan yang di Vietnam kami beri nama Emberhap dan menyediakan jasa yang sama seperti Indosight,” kata Marlissa.

Menanggapi strategi pemasaran Indosight, Yuswohady, pengamat pemasaran dari Inventure, menyarankan Marlissa memadukan pemasaran digital, menjemput bola dengan mendatangi investor asing serta memperluas jaringan kerja (networking), misalnya menjalin komunikasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di luar negeri. “Kalau dia sudah ada network di luar negeri lalu masuk ke Kadin di sana, lalu dia mempresentasikan potensi Indonesia, saya rasa itu akan lebih powerfull,” ucap Yuswohady. (*)

Nerissa Arviana & Vicky Rachman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)