Mela Gunawan, Garap Kelas Menengah yang Ingin Bugar

Berbekal pengalaman dan passion di bidang fitness dan hospitality, Mela Gunawan bersama tiga temannya mendirikan ReFit Club di bawah bendera PT Mitra Bugar Bersama (MBB). Berbeda dari pusat-pusat kebugaran pada umumnya, ReFit disasarkan untuk kalangan menengah. ReFit, singkatan kata Repeat dan Fitness, mengusung konsep affordable gym alias gym yang harganya sangat terjangkau, Rp 200 ribu-300 ribu/bulan. “Karena kami yakin hampir 75% masyarakat Indonesia berada di kelas B dan C. Kami belum melihat pengusaha di industri fitness yang menengok ke segmen ini,” ujar Mela.

Mela GunawanItu sebabnya, Mela pun antusias menggarap pasar baru. Dan terbukti, hanya dalam waktu enam bulan, ReFit sebagai pemain anyar langsung melesat. Kini ReFit beroperasi di Green Lake City, Jakarta Barat; Aeropolis Club House, Soekarno-Hatta, Jakarta; dan Simpang Lima, Semarang.

Menurut Mela, sebagai konsekuensi dari konsep yang ditawarkannya, ia benar-benar memperhatikan fasilitas dan benefit yang dibutuhkan pelanggan. “Karena affordable gym, kami memang tidak menyediakan air hangat karena itu merupakan bentuk kemewahan di tempat gym. Namun, standardisasi kami sama dari segi alat dan fasilitas di kelas,” ujar Mela yang pernah bekerja di konsultan manajemen di industri bisnis fitness selama empat tahun.

Kendati mengusung affordable gym, pelayanan tidak boleh asal-asalan. Mela menyediakan trainer yang bersertifikasi. Bahkan, instrukturnya juga bersertifikasi internasional. Mereka pun masih sering dikirim ke seminar-seminar terkait. Selain itu, keunggulannya, ReFit membuat kelas sendiri, namanya ReAction dan ReCon. ReAction adalah latihan kardio berdurasi 45 menit dengan kombinasi seni bela diri campuran. Adapun ReCon adalah kelas yang ditujukan untuk melatih daya tahan otot yang diiringi musik yang memacu adrenalin, dipandu instruktur berstandar internasional. Selain itu, ReFit juga menyediakan zumba, yoga, aerobic, dll.

Alasan Mela dan ketiga temannya mendirikan ReFit, dari dulu Mela memang menyukai dunia olahraga, tidak hanya fitness. “Setelah itu, saya dan dua teman saya yang memang pernah satu kantor dan Jerry yang juga punya passion di industri ini mempunyai ide untuk membuat sesuatu yang beda. Lalu, kami ambil konsep affordable gym,” ujarnya menjelaskan. Jerry yang dimaksud adalah Jerry Mulyadi yang menjadi Presiden MBB. Sementara kedua temannya yang lain juga manajemen di MMB, yaitu Irawan Amanko sebagai chief executive officer dan Agus Meftahudin sebagai chief technical officer. Mela sendiri sebagai chief marketing officer.

Selain bisnis ini menyehatkan masyarakat, Mela juga punya alasan tersendiri mengapa terjun ke bisnis ini, yaitu pengalaman hidupnya yang sebelumnya bergaya hidup tidak sehat. “Saya baru sadar akan kesehatan saat umur 30 tahun. Dahulu saya bergaya hidup tidak sehat. Akhirnya, saya sadar dan melihat kedua orang tua saya meninggal. Di situ akhirnya saya sadar akan hidup sehat,” ujarnya mengenang. Dan, saat itulah dirinya terpanggil untuk membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan membangun sarana yang bisa menyehatkan.

Untuk investasi awal, pihaknya membangun ReFit yang menghabiskan Rp 3 miliar yang banyak tersedot untuk membeli peralatan. Untuk menambah cabang, ReFit juga mengembangkan sistem waralaba dengan investasi terdiri dari biaya pengembangan (development cost) senilai kurang-lebih Rp 1,9 miliar. Ini sudah termasuk desain, alat, dan perlengkapan interior lainnya. Harga ini juga tergantung pada luas lahan yang dibangun dan royalty fee senilai Rp 400 juta, Adapun management fee-nya sekitar 10% dari pendapatan kotor setiap bulan.

Selain itu, manajemen pengelolaan bisnis juga harus satu pintu. Jadi, segala jenis branding dan marketing plan-nya harus dari kantor pusat terlebih dulu. Salah satu contohnya, cabang tidak boleh melakukan promosi sendiri-sendiri karena harus dilakukan secara serentak.

Bagaimana perkembangan bisnisnya saat ini? Jumlah anggota (member)-nya semakin banyak. Di cabang Green Lake, misalnya, anggota aktifnya 300-400 orang. Di Semarang, ada 500-600 anggota aktif karena di sana kapasitasnya lebih besar. “Rata-rata pengunjungnya dalam sehari mencapai 100 member yang checkin,” kata alumni Shanghai International Study University dan Universitas Pelita Harapan ini.

Menurutnya, dalam 3-3,5 tahun, pihaknya bisa kembali modal. “Dan, ini terbilang cepat karena biasanya di industri ini yang segmen atas itu kembali modalnya bisa hingga lima tahun. Karena, mereka investasi untuk membeli alatnya lebih besar. Kami, cost-nya low dan variasi kelas kami pun tidak banyak,” ujarnya menjelaskan.

Cita-citanya ke depan, ReFit hadir menyeluruh di Indonesia supaya masyarakat negeri ini bisa sadar kesehatan. “Kami menargetkan hingga akhir tahun ini bisa menambah dua cabang lagi. Hingga tahun 2020, kami menargetkan bisa menambah 20 klub lagi,” kata wanita berusia 33 tahun ini optimistis.

Reportase:  Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)