Muhammad Imran, Technopreneur di Bidang Big Data

Menjadi eksekutif kunci di tiga perusahaan mungkin hal lumrah bagi seorang eksekutif kawakan. Namun, itu merupakan hal istimewa bila disandang oleh seorang anak muda. Itulah jabatan yang dipikul Muhammad Imran, pria berusia 34 tahun yang merupakan CEO Data Driven Asia, sekaligus CMO Evotek dan CMO Algoritma. Imran memang bukan sekadar eksekutif, tetapi juga pemilik ketiga perusahaan itu. Ketiganya bergerak di bidang TI, khususnya big data, yang secara keseluruhan mempekerjakan 50 orang.

Muhammad Imran, Technopreneur di Bidang Big DataSaya adalah lulusan Jurusan Elektronika dan Instrumentasi dari Universitas Gadjah Mada,” ujar Imran, mengawali cerita. Lantaran kesibukannya mengelola tiga perusahaan tersebut, entrepreneur muda ini mengaku jam tidurnya setiap hari hanya 3-4 jam.

Menurut Imran, kecintaannya terhadap hal-hal yang menyangkut data sudah dimulai saat ia duduk di bangku SD, pada saat Bank Summa dilikuidasi pemerintah. Ia ingat dirinya sudah bisa berpikir bagaimana bank yang merupakan gudangnya uang bisa dilikuidasi. Dari situ, dibantu ayahnya, ia mulai belajar memahami cara kerja bank, prinsip-prinsip bank, apa itu NPL, dsb. “Itu tidak dipaksa orang tua, memang dorongan diri sendiri saja,” katanya.

Imran memulai kariernya sebagai konsultan di Telkom pada 2011. Lepas dari Telkom, ia bekerja di lembaga internasional. Tantangan baru yang diterimanya adalah menjadi analis TI di Bank Dunia (World Bank). Dari sana, ia kemudian memperdalam keahliannya dengan bekerja sebagai analis big data di Unicef Innovation Labs.

Setelah berkarier di berbagai tempat, ia sempat menimang-nimang peluang untuk mengisi posisi vice president di salah satu bank lokal. Namun, standar gaji yang diperolehnya ketika bekerja di Bank Dunia dan Unicef sudah terlampau tinggi. “Karena timpangnya gaji tersebut, saya akhirnya memilih menjadi entrepreneur,” ujar Imran.

Selepas kariernya di Unicef, Imran pun mendirikan perusahaan bernama Data Driven Asia (DDA) pada 2015. Bidangnya tidak jauh-jauh dari keahliannya, yakni konsultasi data analytics. DDA akan mengolah data yang tersedia untuk para kliennya. Dan, untuk perusahaan yang menjadi kliennya, DDA membuatkan perangkat business intelligence dashboard yang akan menghasilkan data modeling dan insight (informasi dan pemahaman) bagi perusahaann. “Ibaratnya kami sebagai tukang jahit data,” kata Imran.

Sejumlah lembaga besar telah menjadi klien DDA, antara lain Bank Mandiri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perindustrian, Debindo, Jakarta Post, dan aCommerce, serta beberapa perusahaan startup.

Untuk KKP, misalnya, DDA menyediakan solusi yang dapat mempercepat pelaporan adanya illegal fishing. Sebelumnya pelaporan illegal fishing hanya dilakukan oleh petugas KKP, tetapi sekarang masyarakat (nelayan atau warga umumnya) bisa ikut melaporkan. “Selama belasan tahun ke belakang, pelaporan mengenai illegal fishing biasanya membutuhkan waktu 3-4 minggu, saat ini bisa dalam hitungan menit,” katanya.

Selain DDA, Imran pun mendirikan Evotek, yang juga bergerak di bidang big data. Berbeda dari DDA yang berperan sebagai “penjahit data”, Evotek memiliki produk yang bisa langsung digunakan, dengan teknologi business intelligence (BI). Produk Evotek adalah FUSE, semacam “all-in one solution” sebagai sistem operasi untuk perusahaan, yang mencakup fitur data administration, account & access management, business process management, decision support module, dan reporting module.

Salah satu perusahaan pengguna FUSE adalah BCA. Imran menjelaskan contoh cara kerja FUSE. Apabila seseorang ingin mengajukan kartu kredit BCA yang sebelumnya telah menggunakan kartu kredit bank lainnya, BCA harus tahu rekam jejak pengguna kartu kredit tersebut. BCA menggunakan engine dari Evotek untuk melakukan BI checking buat menentukan apakah permohonan seseorang bisa disetujui atau tidak. “Jadi, semacam otomatisasi BI checking supaya bank bisa bekerja lebih cepat,” ungkapnya. Klien Evotek memang paling banyak dari sektor perbankan, antara lain BCA, Bank Mandiri, BNI, Bank Permata, CIMB Niaga, BTN, Standard Chartered, Bank Mega, dan Bank Danamon.

Satu perusahaan Imran lainnya, Algoritma, membidangi pusat pelatihan. Targetnya adalah menghasilkan orang-orang yang terampil di bidang data science. Algoritma beroperasi sejak Februari 2017, tetapi baru diluncurkan secara resmi pada Juni 2017. Lembaga pelatihan ini diperkuat oleh 14 mentor yang merupakan para data scientist. “Di Evotek dan Algoritma, saya bermitra dengan teman,” ungkapnya.

Meskipun enggan menyebutkan omset tiga perusahaan tersebut, Imran mengklaim performa ketiganya relatif baik. Malah, ia mengaku pertumbuhan bisnisnya bisa mencapai 60%. (*)

Jeihan Kahfi Barlian & Ananda Putri

Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)