Nila Siti Fatimah, Raih Omset Rp 6 Miliar dari Jualan Jukajo

Bermodalkan Rp 5 juta, Nila Siti Fatimah bersama ibunya, Ida Rosida, sejak 2013 merintis bisnis Jukajo, minuman jus kacang hijau. Kapasitas produksi Jukajo pada 2013 sebanyak 600 botol/minggu. Setahun kemudian, volume produksinya meningkat 66%. “Sekarang, rata rata produksi Jukajo antara 2.000 dan 3.000 botol per hari, dengan nilai omset Rp 500 juta setiap bulan,” ungkap Nila. Merujuk angka penjualan harian itu, maka rata-rata penjualan Jukajo mencapai Rp 6 miliar setiap tahun. Bisnisnya melaju kencang sejak 2014.

Raja Fauzi & Nila Siti Fatimah

Raja Fauzi & Nila Siti Fatimah

Guna memenuhi permintaan konsumen, Nila mempekerjakan 42 karyawan, 14 orang di antaranya di bagian produksi. Ia juga memiliki pegawai di divisi pengiriman produk yang ditunjang empat mobil dan tiga sepeda motor. Di masa mendatang, ia akan membuka cabang di lima kota besar serta memperluas rumah produksi dan mengembangkan penelitian untuk mengkaji khasiat Jukajo bagi ibu menyusui.

Pada tahap awal, Nila bergerilya seorang diri dalam memasarkan Jukajo. Ia rajin mengirim contoh produk ke calon konsumen atau mengantar Jukajo ke alamat pembeli. “Saya kirim sendiri dari pintu ke pintu, mendatangi perusahaan dan mengirim tester-nya,” ujarnya. Ia menjalani tugasnya itu selama setengah tahun sejak pertama kali berbisnis minuman jus kacang hijau siap minum ini.

Nila menjelaskan, setiap keuntungan dari penjualan produknya itu disisihkan untuk menambah modal buat membeli mesin guna meningkatkan kapasitas produksi. Itu dilakukan untuk menyiasati berbagai kendala yang menghadang laju bisnis Jukajo, antara lain kapasitas produksi yang terbatas atau fisik Nila yang terkuras karena kelelahan menjalankan operasional bisnisnya ini. Untung saja, suami Nila, Raja Fauzi, mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk membantu operasional bisnis Jukajo. Menurut Nila, suaminya itu menangani pemasaran yang lebih sistematis dan efisien. “Sekarang peran suamiku sebagai CEO Jukajo, saya dan ibu sebagai founder,” ia menambahkan seraya menyebutkan, sang ibu adalah yang mencetuskan Jukajo sebagai nama mereknya. Nama Jukajo itu merupakan akronim dari “jus kacang ijo”.

Pengalaman Raja bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan cukup membantu pemasaran Jukajo. Raja, menurut Nila, sejak 2014 mengompilasikan data produksi dan penjualan sebagai acuan dalam menerapkan strategi pemasaran. Tujuannya, meningkatkan volume produksi serta penjualan. Kesimpulannya, produksi Jukajo harus ditingkatkan menjadi 600 botol per hari agar bisnis Jukajo semakin melejit ke depan. Pada Januari 2014, produksi Jukajo malah mencapai 1.000 botol/hari. Jukajo diproduksi di rumah pribadi Nila dan suaminya di kawasan Karawaci, Tangerang, Banten.

Produknya ini dijual kembali oleh pembeli Jukajo. Mereka dikenal sebagai reseller. Saat ini, menurut Nila, ada 1.300 reseller Jukajo. “Prinsip kerja sama dengan reseller adalah beli putus,” ujar wanita kelahiran Jakarta 32 tahun silam ini. Harga Jukajo di tingkat reseller, Rp 15 ribu per botol. Adapun harga di toko ritel modern bervariasi. Di Mal Aeon, misalnya, Rp 22.800 dan di Foodhall Rp 24 ribu per botol. Pemasaran Jukajo juga dilakukan di media sosial. Nita merekrut karyawan yang khusus menangani penjualan Jukajo di dunia maya.

Kini, varian minuman Jukajo terdiri dari jus kacang hijau, jus kacang merah dan jus kacang kedelai yang masing-masing dikemas dalam botol berukuran 350 ml. Nila menjual Jukajo ke reseller seharga Rp 11 ribu-13 ribu per botol. Kemudian, reseller menjualnya kembali ke konsumen seharga Rp 15 ribu-17 ribu. “Jukajo kacang merah yang saya jual ke reseller itu harganya lebih mahal dari Jukajo kacang hijau, yaitu Rp 13 ribu, sedangkan harga kacang hijau Rp 11 ribu. Kacang merah Jukajo ini berbeda karena menggunakan kacang merah azuki dari Jepang. Kami perintis jus kacang merah azuki ini,” ia menjelaskan.

Alumni Akademi Sekretari dan Manajemen Taruna Bakti, Bandung, itu mengklaim, Jukajo berbeda dengan jus siap minum yang beredar di pasar. Jus produk kompetitor, menurut Nila, menggunakan sari kacang hijau. Sementara Jukajo, “Kacang hijau dalam bentuk jus. Produk yang selevel Jukajo itu belum ada di pasar,” ia menegaskan. Jukajo juga menggunakan santan, sehingga bisa bertahan selama tujuh hari, dan menggunakan air heksagonal –sebelumnya menggunakan air dalam kemasan konvensional. Air heksagonal ini disuling berkali-kali agar tingkat keasaman mencapai titik ideal bagi tubuh manusia, dan tingkat higienitas Jukajo pun semakin tinggi. Kualitas kemasan diperhatikan pula oleh Nila, seperti menggunakan botol hot fill agar mudah diproses pasteurisasi dalam suhu 50 derajat celcius.

Sederet inovasi ini merupakan daya pikat Jukajo yang bisa menembus pasar korporat dan instansi pemerintah, misalnya kantor Sekretariat Negara yang rutin membeli produk ini. Untuk jamuan kenegaraan yang diadakan pemerintah, Nila menyediakan Jukajo premium. Harganya, Rp 55 ribu/liter, dan tidak dijual ke segmen ritel. Sekadar kilas balik, Nila memproduksi Jukajo ketika masih bekerja sebagai pramugari Garuda Indonesia. Adapun Ida adalah mantan pegawai Aero Catering Service. Kala itu, jus kacang hijau buatan Nila dan Ida memenangi lelang untuk menyediakan minuman di pesawat kepresidenan. Jukajo, seperti dikatakan Nila, adalah minuman favorit Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. “Selama enam bulan, Jukajo adalah menu wajib di pesawat kepresidenan,” tuturnya.

Reportase: Yosa Maulana , Riset: Sarah Ratna Herni

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Dimo Sasar 1 Juta Komunitas Paytren

Sinergi merupakan salah satu upaya agar bisnis membesar dengan sehat. PT Dimo pay Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang payment...

Close