The Palapa Group, Membidik Peluang Properti di Daerah

Bermodalkan impian memajukan perekonomian berbagai daerah di Indonesia, empat sahabat satu angkatan lulusan SMAN 8 Jakarta –Satrio Rama Widyowicaksono, Ryan Gulfa Wijaya, Pandu Satrio Nugroho, dan Richard Max Gustav Schulz– mendirikan The Palapa Group (TPG) yang bernaung di bawah PT Palapa Dhanapati Putera. Dalam dua tahun, dua properti TPG telah berdiri di lokasi yang berjauhan, di Pulau Jawa dan Sumatera. Sukses perdana yang mereka raih dengan cepat ini kian memantapkan langkah mereka untuk merambah berbagai kota lain.

Satrio Rama Widyowicaksono, Ryan Gulfa Wijaya, Pandu Satrio Nugroho, dan Richard Max Gustav SchulzKisah berdirinya TPG cukup unik. Pada 2015, empat sekawan yang semuanya berusia 27 tahun itu memiliki ide membangun perusahaan investasi yang fokus pada sektor properti, teknologi, sumber daya alam, dan infrastruktur. Mereka menyasar peluang di luar kota besar. Tujuannya, menciptakan keseimbangan pertumbuhan sekaligus memacu laju perekonomian di berbagai daerah yang selama ini belum banyak dilirik investor. “The Palapa Group mengusung sistem investasi dekonsentrasi atau fokus di luar kota-kota besar untuk menyeimbangkan permintaan persediaan dalam setiap proyek yang dilakukan. Sistem investasi dekonsentrasi tersebut juga diharapkan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia di Indonesia,” kata Rama kepada SWA.

Demi mewujudkan ambisi itu, mereka meninggalkan kemapanan bekerja di perusahaan besar. Rama, yang kini menjabat Presdir Proyek & Komisioner Perusahaan TPG, sebelumnya berkarier sebagai analis di Fenox Venture Capital di San Francisco, AS. Ryan, yang kini menjabat VP Pemasaran & COO Perusahaan TPG, sebelumnya bekerja di bagian pemasaran PT Djarum. Pandu, yang kini menjabat VP SDM & GM Proyek TPG, sebelumnya supervisor di PT HM Sampoerna Tbk. Adapun Richard, yang menjabat VP Keuangan & GM Perusahaan TPG, sebelumnya konsultan audit internal di Ernst & Young Indonesia.

Rama memaparkan, bidikan investasi perdana mereka ditujukan ke Jatinangor, Jawa Barat, lantaran kawasan itu diprediksi melesat dalam 5-10 tahun mendatang sebagai pusat sejumlah universitas besar di Indonesia seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Institut Koperasi Indonesia, dan Universitas Winaya Mukti. Nama propertinya: Panorama Residence Jatinangor (PRJ). Proyek yang digarap pada 2015 dan mulai beroperasi pada 2016 ini menelan investasi Rp 3 miliar dan dibangun bersama investor.

Proyek perintis TPG itu diklaim sebagai kos-kosan pertama dengan konsep premium student residential di Jatinangor. Kos-kosan ini terdiri dari 47 unit kamar dengan fasilitas lengkap, mulai dari Wi-Fi, laundry, shuttle, tempat parkir, tempat ibadah, hingga rooftop untuk para penghuni bersantai dan bercengkerama. Pemasaran TPG dilakukan melalui media sosial. Menurut Rama, PRJ sudah mencapai isian 95% dengan rata-rata periode kontrak selama setahun. “Dengan pendapatan tambahan dari jasa shuttle dan laundry yang kami miliki, Panorama Residence Jatinangor memiliki proyeksi pengembalian investasi kurang-lebih tiga tahun,” imbuh Ranggie Chanandra, dari Bagian Humas TPG.

Dari Jatinangor, TPG lalu mengarahkan bidikan investasinya ke Krui, Kabupaten Pesisir Batam, Lampung. Daerah yang masih asing bagi banyak wisatawan domestik ini ternyata menyimpan surga tersembunyi. Banyaknya wisatawan asing yang datang ke Krui untuk berselancar menimbulkan rasa penasaran bagi TPG. “Krui merupakan daerah berpotensi tinggi yang dapat meningkatkan pariwisata di Indonesia, khususnya dari para peselancar internasional. Kami juga percaya bahwa Krui dapat menjadi pusat peselancar di Asia Tenggara,” ungkap Ranggie.

TPG melihat, akomodasi di Krui masih kurang sehingga harganya mahal. “Dari situ, TPG tertarik melakukan investasi dan pengembangan di Krui. Dari kondisi yang ada, produk kami yang bernama Cabana Surf and Stay dapat menjadi game changer dan angin segar untuk para wisatawan, dengan harga bersaing dan fasilitas yang lebih baik,” kata Ranggie.

Fasilitas yang dibangun TPG di Krui menelan investasi Rp 6 miliar, terdiri dari lima pondok eksklusif dan dua pondok kasur tingkat yang dilengkapi fasilitas restoran, antar-jemput bandara, laundry, penyewaan papan selancar dan kendaraan, serta les selancar.

Untuk memopulerkan Cabana, TPG berupaya mengangkat nama Krui di kalangan wisatawan domestik dan mancanegara, khususnya para peselancar kelas dunia, melalui strategi kehumasan, media sosial, dan pemasaran. Sejumlah kegiatan liga selancar internasional juga telah diselanggarakan di Krui, yang membuat sepotong surga tersembunyi itu semakin dilirik. Rama berani menargetkan investasi di Krui ini akan kembali dalam waktu lima tahun.

Melihat respons pasar yang bagus, tahun ini TPG berencana mengembangkan konsep kos-kosan premium ke lima kota lainnya yang memiliki potensi tinggi seperti Jatinangor. “Dalam lima tahun ini, kami mempunyai visi untuk meningkatkan dan berhasil mengangkat beberapa destinasi dan komoditas yang akan menjadi pusat investasi baru di Indonesia,” kata Ranggie.

Rama meyakini, TPG telah berada di jalur pengembangan yang tepat dan tidak menutup kemungkinan mampu menguasai pasar di segmennya di masa mendatang. “Melalui bentuk investasi yang unik, kami yakin dapat menjadi pemimpin pasar atau paling tidak menjadi penantang pasar. Kami juga ingin mendorong semangat dan menginspirasi anak-anak muda untuk berkontribusi lebih untuk Indonesia,” kata Rama.(*)

Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)