Pasutri Kibarkan Mannequin Plastic yang Beromset Rp 800 Juta

Evan Driyandana dan Attina Nuraini, suami istri co-founder
Mannequin Plastic

Attina Nuraini dan Evan Driyandana adalah pasangan suami-istri yang dikenal sebagai penggiat budaya pop. Mereka memiliki hobi yang sama di bidang seni, budaya pop, fashion, dan mainan bercitarasa seni (toys art).

Tahun 2008, ketika masih kuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, mereka mendirikan Mannequin Plastic sebagai merek fashion dan aksesori. “Kami memberi nama Mannequin Plastic karena mannequin adalah boneka display yang digunakan untuk fashion dan plastik sebagai bahan baku membuat mainan. Harapan kami, penggunaan nama ini adalah agar kami bisa selalu dekat dengan kegiatan bermain di sepanjang hidup,” tutur Evan, co-founder & Art Director Mannequin Plastic.

Awalnya, bisnis Attina dan Evan ini merupakan pekerjaan sampingan di sela-sela mengerjakan tugas kuliah. Mereka menyisihkan uang saku harian untuk digunakan sebagai modal kerja. ”Diawali dari uang Rp 5 ribu yang kami kumpulkan dari sisa uang jajan harian ketika kami masih kuliah, lalu secara bertahap membeli bahan baku untuk memulai produksi. Sampai pada suatu hari, salah satu hasil karya seni patung kami ada yang terjual oleh seorang kolektor,” kata Evan mengisahkan, seraya menyebutkan, istrinya yang lahir di Bandung, 17 April 1986, merupakan co-founder & Direktur Kreatif Mannequin Plastic.

Kemudian, dana itu dibelikan bahan baku untuk membuat produk ber-genre art pop lainnya. Hasil penjualan diputar kembali untuk membesarkan bisnis. Seiring berjalannya waktu, Evan menambahkan, Mannequin Plastic di penghujung tahun 2010 memiliki kantor dan merekrut pegawai. Saat ini, jumlah total karyawan berkisar 16-20 orang yang bertugas sebagai staf administrasi, produksi, keuangan, operasional, pemasaran dan kreatif.

Mannequin Plastic memproduksi berbagai varian produk yang harganya dibanderol Rp 150 ribu-600 ribu. Varian produk itu, antara lain, berupa tas beserta aksesori yang berlabel MPplayroom, kemudian koleksi apparel dan aksesori berupa kalung dan gelang yang diluncurkan di musim tertentu dan diproduksi dalam jumlah terbatas. Bahan baku diperoleh dari pemasok dan hunting ke sejumlah penyedia. Uniknya, mereka tidak menggunakan kulit hewan untuk membuat tas. Alasannya, mereka penyayang hewan peliharaan.

Mereka membuat tas dari bahan kulit imitasi dan resin (fiber) yang disempurnakan dengan teknik mematung. Bentuk tasnya unik dan bernilai seni. Volume produksi disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan konsumen. “Misalnya, tas series tertentu ada yang cepat terjual, maka setiap kali produksi jumlahnya berkisar 30-50 pieces, dan bisa diproduksi 2-3 kali dalam sebulan. Selain itu, kami juga masih memproduksi lebih dari 30 seri tas lainnya, belum termasuk apparel dan aksesori,” tutur Evan.

Segmen yang dibidik adalah pembeli berusia 12-35 tahun. Produknya didistribusikan sesuai dengan target pasar dan bermitra dengan pelaku industri kreatif, seperti dalam acara seni rupa, serta dipromosikan di media sosial. Produk mereka kini antara lain tersedia di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Makassar, yaitu di gerai modern seperti Sogo, The Goods Dept, dan concept store seperti Happy Go Lucky, Localstrunk, Widely Project, District 12, serta Watss Store. “Kami pun bekerjasama dengan beberapa buyer dari luar negeri untuk memasarkan produk kami di Malaysia, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan,” lanjutnya.

Menurut Evan, setiap produk Mannequin Plastic yang dirilis memiliki latar belakang ide dan cerita. “Jadi, dalam membuat koleksi, kami tidak hanya melihat apa yang sedang laku di pasaran. Namun, kami lebih menyajikan sebuah produk dengan personal style yang kuat dan hasil visualisasi yang diperoleh dari beberapa inspirasi dalam membuat desain produk, seperti kebahagiaan, keajaiban, khayalan, mimpi, dongeng, taman bermain, dan deformasi objek,” tutur Evan setengah berpromosi. Cara ini sukses memikat konsumen, dan produknya pun ludes dibeli konsumen.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Adakalanya, menurut Evan, penjualan menyusut dan naik-turun yang nilainya berkisar Rp 100 juta-200 juta di bulan tertentu. “Rata-rata omset per tahun Rp 600 juta-800 juta dari penjualan toko dan online shop. Kami selalu siasati dengan kembali membentuk market baru dengan memanfaatkan berkembangnya media sosial,” tutur Evan, kelahiran 8 Agustus 1987.

Istijanto Oei, pengamat bisnis dari Universitas Prasetiya Mulya, menyarankan Attina dan Evan melakukan riset produk dan pemasaran ke target konsumen guna mengelaborasi tema yang digandrungi anak-anak muda serta membentuk komunitas di media sosial. “Ini penting karena tema atau sosok yang dipilih akan memiliki ikatan emosional dengan pembelinya. Untuk mengetahui hal ini, perlu melakukan semacam riset ke mereka. Bentuknya tidak harus formal, tapi bisa dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dan menggali informasi,” kata Istijanto.(*)

Chandra Maulana & Vicky Rachman; Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)