Peruntungan Anak Pekalongan di Bisnis Kopi

Bisnis pembuatan website tanpa sengaja mengantarkan Togu Panandaditya Siregar menggeluti dunia perkopian. Dengan mengibarkan merek JPW Coffee –di bawah PT JPW Indonesia–Togu kini mencecap nikmatnya bisnis kopi (biji dan bubuk), permesinannya, sampai kemasan khusus kopi.

Togu Panandaditya SiregarAwalnya, pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 1985 itu menggeluti bisnis pembuatan situs web, sembari kuliah di Jurusan Teknik Informatika Universitas Bina Nusantara. Dua tahun setelah lulus, 2010, ia menyeriusi bisnisnya di bawah PT JPW Indonesia dengan merek JPW Creative –JPW singkatan dari Jasa Pembuatan Web.

Namun, pada 2012 Togu banting setir menggeluti bisnis kopi. Penyebabnya, seorang pelanggan yang meminta dibuatkan situs web kopi meminta pula agar Togu turut memasarkan kopinya melalui dunia maya. “Setelah webnya jadi, ternyata mau jualan di internet nggak gampang juga. Lalu, dia minta saya sekaligus membuat strategi pemasaran online, seperti meningkatkan posisi SEO (search engine optimization),” tutur Togu kepada SWA di kantornya, Kavling Polri Ampera, Jl. B1/24, Ragunan, Jakarta Selatan.

Keterbatasan modal si pelanggan mengantarkan Togu menjadi mitra bisnisnya. Walaupun kemitraan tersebut hanya berjalan setahun, itu menjadi pembuka jalan peruntungan besar Togu di bisnis kopi. Sebab, usai berpisah, ia tetap menekuni bisnis kopi. “Jadi, di awal dulu, kopi dan web itu saya jalani 50:50. Tapi, semakin lama yang terlihat makin bagus itu kopi. Jadi, saya putuskan fokus di kopi saja,” ujarnya.

Selain memasarkan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia, Togu kemudian juga menjadi reseller mesin kopi dari Italia dan plastik khusus kemasan kopi yang diimpor dari luar negeri. Mesin yang dijual JPW antara lain espresso machine, barista tool, dan manual brewing tool dengan merek-merek seperti Alex Duetto, Sorrento, dan Milesto. Adapun bisnis penjualan kopinya diberi merek JPW Coffee, sementara kemasan kopi dan peralatan kafe di bawah merek JPW Packaging.

Togu yakin, pasar kopi di Indonesia akan melesat. Bahkan, bisa jadi kecintaan kopi di negeri ini akan menyamai fanatisme kopi di Italia. Di Italia, paparnya, masyarakatnya membeli kopi tiga kali sehari. “Jadi, di Italia, orang beli kopi layaknya beli air mineral saja, sudah jadi kebutuhan. Mereka sehari beli espresso bisa enam shoot,” katanya menjelaskan.

Sejumlah strategi telah ia gariskan untuk membesarkan bisnis kopinya. Pertama, menguatkan toko online. Ia memborong hampir semua nama domain web yang strategis di seputaran bisnis kopi. Contohnya, coffeeshop.co.id, kopiarabica.com, kopiindonesia.com, specialtycoffee.co.id, jpwcoffee.com. “Itu semua saya bikin webnya masing-masing untuk mengepung calon pembeli. Jadi, orang nyari apa pun yang berhubungan dengan kopi akan dihubungkan dengan web kami,” ungkapnya.

Dulu Togu membangun hingga 15 situs web. Namun, sejak 2015 ia hanya fokus di dua web, coffeeshop.co.id yang menjadi induk webnya, dan jpwcoffee.com. “Setiap web mewakili beberapa keyword yang strategis, jadi orang saat mencari dengan keyword apa pun ketemunya dengan web kami,” paparnya.

Strategi lainnya, ia menetapkan waktu respons maksimal layanan pelanggan JPW pada rentang 10 menit. Pasalnya, di bisnis online, kecepatan respons penjual menjadi salah satu kunci utama kepuasan pelanggan. “Saya terapkan ke anak-anak, kalau ada pesan WhatsApp, e-mail, atau komentar di media sosial, harus segera direspons kurang dari 10 menit,” kata Togu yang memiliki empat tenaga layanan pelanggan yang siap berjaga di depan komputer.

JPW juga aktif melakukan branding di media sosial, yakni dengan merekam dan kemudian mengunggah aktivitas keseharian JPW ke akun Facebook, Twitter, dan Instagram JPW Coffee. “Kalau ada customer lagi ramai, kami foto posting di FB dan IG. Kami lagi bikin kopi, kami videokan, lalu upload ke YouTube dan IG. Itu kan branding. Lama-kelamaan brand awareness kami jadi kuat,” katanya.

Kini, penjualan biji kopi dan kemasan menyumbang porsi terbesar omset JPW Coffee, selebihnya disumbang dari penjualan mesin kopi dan peralatan kafe. Pembeli JPW Coffee pun tak hanya dari dalam negeri; sekitar 20% dari luar negeri. “Mayoritas 80% lokal, terdiri dari kafe dan perorangan. Ada juga yang mau jual kopi dengan mereknya sendiri. Mereka tinggal kirim stiker mereknya, kami yang tempelin di bungkusnya sehingga sudah siap jual,” tuturnya.

Salah satu tantangan Togu di bisnis ini adalah mencari pemasok yang mampu menjaga stabilitas kualitas pasokannya. Karena itu, ketika satu pemasok tidak mampu lagi memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan, tim JPW mencari pemasok baru dan membina kembali dari awal.

Dalam sebulan, JPW kini mampu menjual 1 ton biji kopi mentah serta 800 kg sampai 1 ton biji kopi matang dan dalam bentuk bubuk. Permintaan terbanyak adalah varian kopi Gayo dan Toraja. “Untuk kopi robustanya, terbanyak yang dari Lampung. Tapi, belakangan ada beberapa varian yang mulai naik seperti Papua, Flores, dan Bali. Dan yang saat ini juga lagi hit adalah Kerinci, ada arabika dan robustanya,” Togu menguraikan.

Sampai kini, Togu konsisten hanya menjual varian kopi Indonesia yang dinilainya memiliki kekayaan citarasa yang mampu bersanding dengan kopi luar negeri.

Ke depan, ia berencana mengembangkan bisnis kopinya dengan membuka kafe. Tempatnya telah ia pilih, yaitu ruko Grand Depok City, Depok, Jawa Barat. “Sekitar Februari atau Maret 2018 siap dibuka. Konsepnya, kafe di lantai satu, lantai duanya showroom kopi, peralatan dan packaging. Setelah di sana jalan, baru akan kembangkan cabang,” ucap Togu optimistis.

Reportase: Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)