Raja Stroberi dari Pasir Ipis

Besarnya kebutuhan stroberi premium di perkotaan bisa dibaca dengan jeli oleh Julianto. Per tahun Indonesia mengimpor stroberi premium sekitar 150 ton yang selama ini diisi buah dari Korea Selatan, Amerika Serikat dan Australia. Adapun kebutuhan pasar stroberi kualitas lokal mencapai lebih dari 5.000 ton. Lalu, apa yang dibaca Julianto?

JuliantoLelaki 35 tahun ini melihat ada celah yang belum diisi: pasar stroberi berkualitas premium dengan harga lebih murah daripada produk impor (rata-rata Rp 300 ribu/kg), tetapi di atas harga stroberi lokal (rata-rata Rp 30 ribu/kg).

Maka sejak 2011, pengusaha asal Bandung ini pun menggulirkan agrobisnis perkebunan stroberi. Di kawasan Pasir Ipis, Lembang, Jawa Barat, di atas lahan seluas 10 hektare, dia pun membangun “kerajaan stroberinya” dengan bendera La Fresa Strawberry.

Melalui serangkaian upaya belajar yang tidak mudah, kebun itu pun tumbuh. Mengambil posisi antara impor dan lokal, Julianto menjual La Fresa di harga rata-rata Rp 100 ribu per kg. Dan hasilnya menawan. La Fresa merangsek ke Jakarta, Bandung dan Surabaya, memanfaatkan jalur distribusi peritel premium seperti Ranch Market, All Fresh dan Total Buah Segar, serta memasok ke sejumlah hotel-restoran-kafe. Rata-rata per bulan kebun Pasir Ipis mampu menghasilkan 10 ton dengan omset bulanan Rp 600 juta-700 juta.

Saya ini korban salah jurusan,” Julianto menjelaskan kisah bisnisnya. Dia memang pernah kuliah kedokteran di Universitas Tarumanagara yang tidak pernah diselesaikannya. Namun sebenarnya, bisa dikata dia adalah buah dari ajaran yang benar. Mengapa?

Sebelum menggeluti stroberi, lelaki ini pernah gagal berbisnis garmen di Tanah Abang. Namun, dia ingat pesan orang tuanya: boleh saja dalam bisnis jatuh 100 kali, tetapi harus bangkit 101 kali. Itulah sebabnya, pada 2011 dia mantap memulai perkebunan stroberi. Kebetulan, berkebun sudah menjadi hobi lamanya.

Julianto melihat perkebunan stroberi bisa dibesarkan di Indonesia karena iklim di Lembang, Ciwidey dan Garut cocok untuk buah ini. Sayangnya, selama ini kebun yang ada belum dikelola laiknya bisnis yang serius, atau kalau ada yang punya kebun, biasanya hanya seluas 1.000-2.000 m2. Belum ada pengusaha yang punya kebun hingga 10 ha. Lalu, dari sisi jenis yang dikembangkan pun, umumnya stroberi untuk kalangan bawah. Inilah yang turut mendorongnya masuk dalam skala besar di segmen stroberi premium.

Namun, semua kisah indah ini diawali dengan tidak mudah. Investasinya pun tak murah. Julianto memulai dari satu ha dengan investasi Rp 500 juta. Dari sisi kualitas produk, juga sangat sulit menghasilkan stroberi premium. Untuk itu, seorang profesor Taiwan yang ahli tentang perkebunan stroberi diundang ke Pasir Ipis. “Kami tidak mengimpor buahnya, melainkan mengimpor profesornya. Kami minta dia mengajari dan memberi pelatihan sehingga standar perkebunan kami level Asia,” kata Juianto.

Selain tak murah dan tak mudah, juga perlu kesabaran membangun bisnis ini. “Dua tahun pertama, kami tidak ada income sama sekali. Kami hanya garap lahan, pembibitan, irigasi dan persiapan lain. Setelah dua tahun baru bisa masuk market,” Julianto mengenang.

Namun, masuk pasar pun tak segampang membalikkan telapak tangan. Publik tak langsung menerima produk stroberi lokal dengan positioning premium berbanderol rata-rata Rp 100 ribu per kg. Setelah Julianto menjelaskan perbedaannya, lama-lama pasar mulai bisa mengenali perbedaannya. Dia selalu meyakinkan ke pelanggan bahwa kualitas stroberinya bisa menyamai buah impor. “Stroberi impor itu mahal karena melalui jalur udara. Mereka tidak bisa menggunakan kapal karena umur buah itu pendek. Biaya angkut itu yang membuat mahal. Kalau kualitas, kita sudah sepadan,” katanya. Untuk mempromosikan produknya, Julianto aktif mengikuti-event kerja sama dan promosi yang diselenggarakan kalangan supermarket dan toko buah.

Perlahan tetapi pasti, pasar pun menerima. “Dari sisi kualitas, terjaga. Citarasa La Fresa lebih manis dan beraroma. Kemudian, handling produk juga sudah baik. Ke depan kami harapkan dijaga konsistensinya, baik secara kualitas maupun kuantitas pasokan,” ungkap Arie Yudha dari Divisi Purchasing Yogya Group. Jaringan ritel Yogya Group termasuk salah satu klien La Fresa Strawberry.

Apa yang diungkap Arie sangat dipahami Julianto. Di bisnis agri seperti yang digelutinya, ada faktor 3K yang selalu dia jaga: kualitas, kuantitas dan kontinuitas. “Apabila ada salah satu yang pincang, akan kesulitan,” katanya. Kontinuitas, misalnya. Dia harus bisa menghasilkan buah yang manis, enak dan banyak secara bersinambung. Tak kontinyu, berarti akan ditolak pasar. “Karena itu, kami mengatur pola tanam agar panen bisa berkesinambungan secara terjadwal,” lanjutnya.

Lewat lima tahun berjalan, La Fresa berkembang pesat. Kebun Pasir Ipis sudah menghasilkan 20 varian stroberi, hasil impor bibit dari Taiwan dan Jepang. Namun, Julianto belum merasa puas. Dia mengungkap ambisinya: membawa La Fresa menghasilkan stroberi terbaik di ASEAN karena sekarang menurutnya dia sudah yang terbaik di Indonesia. Dia bahkan ingin menjadi top five di Asia, menyaingi pemain dari Korea Selatan, Jepang dan Taiwan yang mendominasi. “Saya ingin membawa stroberi Indonesia masuk lima besar kualitas Asia,” katanya tandas.(*)

Sudarmadi & Jeihan Kahfi Barlian

Editor : Bernadeta Pintarti

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Toyota Maksimalkan Penggunaan  Konten Lokal

Makin pesatnya perkembangan Industri petrokimia dalam negeri,  tampaknya disambut oleh industri otomotif untuk memenuhi kandungan lokal dalam pembuatan produk-produk otomotif....

Close