Southeast, Kerajinan Kulit Handmade Kin & Nadya

Kin Darma (kiri) dan Nadyatami Amalia Nurul Ichwan (kanan, pasangan suami istri yang mendirikan Southeast

Harapan dan cita-cita anak muda sering sulit diduga. Seperti yang terjadi pada pasangan suami-istri asal Bandung: Kin Darma dan Nadyatami Amalia Nurul Ichwan. Dua hari setelah menikah, mereka merantau ke Bali, mencari kehidupan baru dari nol dengan melepaskan diri dari semua embel-embel, fasilitas pendidikan --bahkan memilih putus kuliah-- ataupun fasilitas ekonomi dari orang tua.

Apa yang mereka cari? “Kami ingin menjemput peruntungan di Pulau Dewata yang cocok dengan jiwa kami,” ungkap Kin yang bersama istrinya pernah menempuh pendidikan di bidang desain komunikasi visual di Bandung, tetapi tidak selesai. “Hobi saya menggambar karakter. Tapi di Bali saya bekerja sebagai freelance photographer,” kata Kin yang saat menjadi pengantin baru itu, tinggal di rumah kontrakan, tanpa saudara, dan hanya memiliki sedikit teman.

Rupanya Bali bukan tempat yang tepat bagi pasangan muda ini. Selama di sana, banyak sekali peristiwa yang membuat mereka trauma dan depresi, mulai dari harus melakukan aborsi karena janin calon bayi mereka tidak berkembang, sang istri yang tidak pernah berhenti menangis, hingga uang terkuras habis karena ditipu seseorang di mesin anjungan tunai mandiri.

Gara-gara suasana batin yang tidak kondusif, kurang dari setahun, Kin dua kali berganti pekerjaan. Awalnya, pernah bekerja dan tinggal di wilayah selatan Bali, kemudian pernah juga bekerja dan tinggal di wilayah timur Bali. Kedua pengalaman itu sangat mengesankan bagi Kin dan istri, sehingga ketika mencari nama untuk produk kerajinannya, lahirlah nama Southeast untuk mengingatkan masa-masa perjuangan mereka. “Southeast adalah nama yang menjadi motivasi kami dalam berjuang karena mengingatkan pengalaman dan pelajaran selama di Bali, termasuk suka, duka, dan kecewa,” ungkap Kin yang kini berusia 32 tahun.

Di tengah keterpurukan itu, Kin dan istri memang rajin menonton video tutorial di YouTube, untuk menggali ide-ide untuk berwirausaha di bidang aksesori kerajinan berbahan kulit. “Kami ingin kembali ke Bandung, tapi saya tidak mau jadi fotografer karena tidak menjanjikan,” kata Kin.

Yang membedakan dengan produk pengrajin lain, kerajinan kulit mereka handmade, dibuat dengan tangan, bukan dengan mesin. “Kami sendiri yang membuatnya secara langsung, sehingga kami bisa menjamin kualitas yang ditawarkan,” kata Kin yang menarget pasar mahasiswa dan pemuda idealis di rentang usia 18-40 tahun.

Selain dibuat dengan tangan, Southeast juga memilih tanpa mitra, tanpa pinjaman modal, tanpa bantuan finansial dari orang tua. Mengapa? “Kami benar-benar ingin mandiri,” ujar Kin menegaskan.Ia menggunakan modal awal Rp 9 juta dari hasil penjualan beberapa peralatan fotografi.

Setahap demi setahap, Southeast menemukan pelanggan. Lewat penjualan secara online, melalui Instagram dan beberapa e-commerce, pelanggan Southeast mulai terbentuk. “Kami selalu mengembangkan inovasi baru, menghindari kesamaan dengan kompetitor. Kami pun mewarnai bahan kulit kami sendiri, sehingga ada beberapa warna yang tidak dimiliki kompetitor lain,” kata Kin tentang perbedaan produknya dengan produk lain.

Adapun bahan yang digunakan tetap kulit. Selain menggunakan kulit sapi, Southeast juga memakai kulit kerbau karena tingkat kepadatannya baik dan tidak melar. Berbeda dengan kulit sapi pada umumnya, yang apabila menahan beban kamera, DSLR khususnya, akan melar.

Pihaknya juga mewarkan penulisan nama inisial pembeli pada produk yang dibeli secara gratis. “Saat ini kami sedang bereksperimen untuk mengembangkan warna, desain. dan motif baru,” kata Kin.

Memang, untuk produksi, diakui Kin, masih menjumpai banyak kendala. Pengalaman yang paling tidak mengenakkan ialah ketika menghadapi sulitnya sistem impor di Indonesia, karena beberapa material yang digunakan berasal dari Jepang, Hong Kong, dan Italia. “Kami pernah kehabisan material produksi dan harus menunggu selama enam bulan karena beberapa bahan kami tertahan di Bea Cukai,” kata Kin mengenang.

Dengan harga jual tali jam Rp 190.000-250.000, dompet Rp 350.000-780.000, dan tas sekitar Rp 2.000.000, Kin optimistis dapat melampaui target penjualan. Kini Southeast berhasil menjual 40-60 kerajinan per bulan. Karena sistemnya praorder, pelanggan juga bisa memilih bahan dan warna yang diinginkan. Untuk praorder dompet, 4-5 hari selesai. Produk yang lain, bisa selesai dalam sehari.

Dengan model penjualan seperti itu, omset Southeast rata-rata Rp 25 juta-30 juta per bulan. Kalau di bulan-bulan puncak, permintaan akan melebihi jumlah itu. Kin menyadari, sebagai pemain artisan, ego dan idealisme sangat tinggi. Sehingga, saat ini mereka masih memproduksi sendiri produknya, tanpa bantuan karyawan. Kin menangani desain, produksi, dan pewarnaan, sedangkan Nadya menjahit dan mengemas.

“Kami menganggap produk kami sebagai karya, bukan sekadar barang. Kami tidak memiliki kepercayaan untuk menyerahkan proses produksi ke tangan orang lain,” kata Kin tandas. Ia yakin, dengan idealisme seperti itu, bisnis kerajinan kulitnya akan tetap maju. (Reportase: Chandra Maulana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)