Strategi Fajar Maulana Merintis Wisata Udara

Fajar Maulana, Founder dan CEO Flytours Indonesia

Dunia aviasi tidak terbatas hanya pada transportasi udara saja. Flytours Indonesia, startup yang dirintis Fajar Maulana, berfokus pada industri pariwisata yang mengombinasikan kedirgantaraan dan travelling. Ia mengembangkan startup ini dengan tujuan mengembangkan wisata udara yang dilengkapi dengan tour layanan penuh.

Beberapa negara telah membuktikan bahwa kegitan bisnis ini menjadi program unggulan untuk mendatangkan turis, di antaranya Malaysia dengan Malaysia Balon Udara Tour, Maldives, Bahamas, dan Hawaii.

Fajar Maulana mendirikan startup Flytours pada November 2016 dan membentuk tim pada Maret 2017. Startup ini terdaftar sebagai perseroan terbatas dengan nama PT Aurora Sayap Abadi. Adapun Flytours merupakan sebuah webside dan aplikasi daring untuk pemesanan kegiatan kedirgantaraan bagi traveler yang ingin mendapatkan pengalaman baru dan atau menjalankan hobinya dalam dunia kedirgantaraan Indonesia.

Layaan yang diberikan Flytours meliputi terbang santai, terbang jelajah, paralayang, terjun payung, dan hot air balloon. Terbang jelajah melayani rute-rute zona pariwisata, misalnya dari Bali ke Banyuwangi, Labuan Bajo, Lombok dan kembali lagi ke Bali. Layanan lain seperti hot air balloon disediakan di daerah Bromo, Borobudur dan beragam kota di Indonesia.

Startup ini berhasil masuk ke dalam 30 besar startup yang diinkubasi Kementerian Pariwisata dalam program Wonderful Startup Academi Batch II. Di bawah ini wawancara SWAonline dengan Fajar Maulana, CEO Flytours Indonesia.

Apa latar belakang pendidikan dan kerier
Anda sebelum mendirikan Flytours?

Saya memiliki minat untuk menjadi penerbang. Setelah lulus SMA ada dua sekolah yang menjadi pemikiran saya untuk melanjutkan, yaitu Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug dan Bandung Pilot Academy. Akhirnya saya pilih Bandung Pilot Academy. Setelah selesai, saya mengambil sekolah lanjutan untuk instruktur pilot di Halim, lalu terbangnya di Curug. Setelah itu saya bekerja sebagai flight instructor di Banyuwangi. Tidak hanya mengajari terbang tetapi juga teori. Saya bekerja di sana selama 2 tahun mengajari calon pilot maskapai.

Setelah itu saya ke Sulawesi menjadi corporate pilot untuk pesawat charter di White Sky Aviation yang terbang untuk melayani company private, VIP. Ini sudah berjalan tahun kedua sampai sekarang.

Bagaimana timbul ide mendirikan Flytour?

Ide bisnis Flytours tercetus waktu saya di Banyuwangi. Waktu itu saya sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi dunia aviasi di Indonesia secara umum. Setelah saya selesai di Banyuwangi, saya pindah ke Sulawesi. Ketertarikan saya di pariwisata, karena merupakan sektor bisnis yang everlasting.

Setelah saya terbang melewati pulau-pulau kecil yang eksotis, saya memikirkan ide ada pesawat amphibi yang bisa membawa wisatawan masuk ke pulau kecil itu. Akhirnya tercetus platform di mana wisatawan bisa pergi ke suatu tempat yang terisolasi tapi dengan waktu yang singkat. Pertamanya itu, akhirnya berkembang hingga platform yang sekarang. Dimana kami sudah melebarkan divisi menjadi platform khusus wisata udara. Jadi seluruh olahraga udara, wisata udara kami tampung di website kami. Mau ada terbang layang, terjun payung, terbang latih, terbang santai, balon udara, kami buat platform itu.

Siapa pesaing Flytours?

Di Indonesia belum ada yang seperti kami. Yang ada itu hanya wisata khusus seperti wisata helicopter di Bali yang harganya mencapai Rp 8 jutaan.

Karena terbatasnya informasi di masyarakat, makanya saya membuka portal ini untuk memudahkan masyarakat mengakses olahraga dirgantara dan wisata udara. Kami ingin regenerasi di olahraga dirgantara. Kami mengembangkan bisnis di wisata udara, yaitu balon udara dan terbang jelajah. Terbang jelajah menggunakan pesawat pribadi, kalau bisa amphibi selama 6-7 hari. Setelah itu pindah tempat lalu kembali ke tempat semula. Layanan ini bersifat full service berikuthotel, transportasi darat, makanan, asuransi, dan transportasi udara.

Bagaimana persiapan sebelum membangun
bisnis?

Awalnya mematangkan ide dulu. Awalnya kami berempat, timnya belum solid. Akhirnya pecah karena memiliki kesibukan masing-masing, tapi saya tetap kontinyu. Itu tahun 2017. Pertengahan 2018 saya bertemu dengan tim baru dan mereka mau dengan apa yang saya pikirkan, dengan visi yang sama. Mereka turun dan sekarang kami ada berempat. Sudah legal sebagai PT. Tahun 2019 kami tinggal mengembangkan di sistem ordernya.

Berapa modalnya?

Sekitar Rp 30 juta untuk membangun website, biaya perjalanan dan legalitas perseroan. Sedangkan untuk membeli dua balon udara dan satu pesawat amphibi tipe Cesna 206 memerlukan investasi Rp 22 miliar. Sementara itu, biaya operasional pesawat amphibi sekitar Rp 6 juta per jam. Sedangkan untuk balon udara menghabiskan Rp 1,5 juta per terbang selama 40 menit.

Jenis wisata apa saja yang sudah berjalan?

Balon udara on spot (diam di tempat) di Bali karena kami belum tahu keamanan medan di Indonesia untuk balon udara. Jadi kami pilih on spot dulu. Nantinya kami akan melayani keliling pakai balon udara. Misalnya, dari Bromo, ada destinasi lain misal Danau Toba, atau Jakarta.

Ada juga Paralayang di Bali dan Malang. Lalu Joyflight yang menggunakan pesawat terbang 2 penumpang dan 4 penumpang. Terbang bersama safety pilot. Lokasinya dekat dengan Jakarta, di Pondok Cabe dan Cibubur. Sedangkan Skydiving sudah beroperasi di Pangandaran, hanya sekarang ada kendala pesawatanya sedang maintenance.***

Editor: Sujatmaka

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)