ThenBlank, “Mutiara” Kamila Athiya

ThenBlank

Sesuai dengan namanya, Mutiara Kamila Athiya, perempuan kelahiran 23 Desember 1997 ini memiliki “mutiara” dalam perjalanan hidupnya. Ya, tahun 2012, di usianya yang masih belia, 15 tahun, dan masih duduk di bangku SMA, Kamila --demikian ia disapa-- telah menemukan passion-nya dengan merancang dan memproduksi baju-baju fashion remaja yang membawanya sukses hingga sekarang. Menggunakan label Blank A Wear yang tujuh tahun kemudian diubah menjadi ThenBlank, merek ini menghadirkan koleksi busana yang menyasar segmen wanita muda seperti dirinya.

Kamila yang dihubungi melalui telepon mengatakan, ThenBlank adalah jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan. “Sejak SD saya memang sudah suka jualan,” ungkapnya. Kebetulan sang ibunda memiliki butik produk busana limited dan customized, yaitu baju-baju untuk pernikahan dan acara-acara khusus, sehingga ia sejak kecil sudah familier dengan fashion dan mengenali jenis-jenis kain.

Suatu ketika, saat duduk di bangku SMP, Kamila minta ke mamanya dibuatkan baju-baju gamis ready to wear untuk ia jual di sekolahnya, sebuah pesantren. Ternyata, teman atau orang tua temannya banyak yang suka. “Dari situ saya semakin tertarik menjalankan bisnis yang berdekatan dengan pakaian, fashion,” katanya mengenang.

Minat bisnis fashion itu ia hidupkan kembali tatkala duduk di kelas XI SMA. Saat itu, kebetulan bisnis butik sang mama tutup karena penjualannya macet. “Saya langsung terpikir mengambil alih dengan membuat clothing line,” Kamila mengenang saat memulai bisnis. “Saat itu jualannya lewat BBM group, penawarannya ya lewat teman-teman saja,” ceritanya bangga.

Karena ia masih sekolah, diakui Kamila, sang mama adalah supporter terbesarnya dalam mewujudkan bisnisnya itu. Sang mama terlibat sebagai desainer dan ia sendiri lebih ke urusan konsep, tren, dan pemasaran. “Mama saya punya skill design karena kuliah di fashion design. Mama tahu persis teori dan trik-trik menjahit yang kualitasnya bagus. Jadi, itu yang jadi masukan untuk mitra-mitra penjahit kami. Sampai sekarang pun Mama masih terlibat di produksi,” ungkap Kamila yang sepakat berkolaborasi dengan sang mama.

Guna mencapai efisiensi, hingga saat ini Kamila belum tertarik investasi mesin. Ia masih menggunakan penjahit secara alih daya. Bahan baku yang digunakan pun berasal dari pemasok lokal sehingga meminimalkan bahan baku impor. Mengapa? “Saya masih fokus membesarkan brand dulu, supaya kaki-kaki bisnis ini (fondasi) kuat dulu,” katanya menjelaskan. Menurutnya, jika sudah mantap, tidak akan menutup kemungkinan suatu saat nanti akan punya garmen sendiri.

“Sekarang kami kerjasama dulu dengan garmen yang bisa mengerjakan pakaian jadi untuk ekspor,” kata Kamila. Ia mempunyai kriteria khusus untuk produk-produknya. “Kualitas produk ThenBlank harus setara barang ekspor, meskipun harga tetap terjangkau,” katanya tandas.

Pada prinsipnya, menurut lulusan Diploma Universitas Indonesia ini, ada empat aspek penting dalam pengembangan ThenBlank, yakni office, produksi, toko, dan gudang. Kini Kamila gencar melakukan kolaborasi dan ekspansi lokasi.

“Kami sudah pelajari brand-brand clothing di Tanah Air. Pada umumnya, kalau target pasarnya anak muda, ya harus kolaborasi dengan selebgram atau influencer di IG,” ungkapnya. Ia memilih artis Ayudia Bing Slamet sebagai mitra kolaborasi. Kamila berharap, dengan memilih artis yang punya banyak kanal, aktif nge-vlog, menyanyi juga, menulis buku, dsb., hal itu dapat memperkuat citra merek ThenBlank.

Di bagian gudang, selain fungsi untuk stok, Kamila menekankan pentingnya kontrol kualitas. Sejauh ini, pelanggan ThenBlank sudah tahu merek pilihannya memiliki standar kualitas tinggi. Kalau ada kesalahan jahitan, langsung dikembalikan. “Kami harus menjaga kepercayaan itu demi kepuasan pelanggan,” Kamila menandaskan.

Di bagian store, ThenBlank mengedepankan keramahtamahan dan pelayanan demi kepuasan pelanggan. Itu sebabnya, kalau dilihat dalam halaman Google, ThenBlank berhasil meraih rating 4,9, bahkan pernah 5.

Terkait produksi, ThenBlank memosisikan produknya sebagai clothing untuk anak muda, tetapi eksklusif. Dalam persepsi konsumen, produk Thenblank terkesan mahal, tetapi harganya tidak mahal, afordable.

Bagaimana strategi penjualannya? Kamila memanfaatkan toko offline dan online sekaligus. Dalam hal ini ThenBlank memilih membuat website sendiri. Karena, kalau ke marketplace, harus konsinyasi, yang berarti biaya yang bisa berdampak pada harga jual. “Hanya produk sale yang kami jual lewat marketplace, di Shopee,“ Kamila menerangkan.

Dengan omset kurang-lebih Rp 1,3 miliar per bulan, kini ThenBlank berhasil menjual rata-rata 8 ribu-8,5 ribu pakaian per bulan. Guna menjaga kebaruan, ThenBlank meluncurkan empat produk/desain baru setiap bulan. Kamila berharap, jika semua operasional perusahaan berjalan sesuai dengan rencana, ia ingin segera melenggang go international. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)