Transformasi Digital Toko Wahab di Tangan Generasi Ketiga

William Sunito, CEO PT Global Digital Lestari
William Sunito, CEO PT Global Digital Lestari, pemilik tokowahab.com, platform B2B marketplace khusus food-service supply

Cerita bisnis keluarga yang berkembang di tangan generasi ketiga selalu menarik disimak. Dan, itulah yang tampak pada Toko Wahab.

Berdiri pada 1959 di bawah payung PT Multi Makmur Abadi (MMA), mulanya Toko Wahab adalah toko kelontong sembako di Jl. Gunung Sahari, Jakarta Pusat. 30 tahun kemudian (1989), karena melihat kebutuhan bahan bakery & pastry terus meningkat, generasi kedua mengembangkan usaha kecil ini menjadi pemasok bahan baku kue serta makanan jadi, antara lain makanan kaleng, makanan restoran, serta bakery & pastry

Seiring berjalannya waktu, toko terus berkembang, bahkan menjadi distributor untuk manufaktur dan waralaba besar. Dan akhirnya, generasi ketiga pun mengambil peran. Tahun 2015, William Sunito, generasi ketiga, turun tangan membantu bisnis setelah menyelesaikan pendidikan Bachelor of Business Administration (BBA) di University of Washington, Amerika Serikat.

Masuk ke Toko Wahab, William membawa model baru: mengubah dari offline menjadi online dan menggeser target pasar ke UMKM. Juli 2017, berdirilah tokowahab.com, platform B2B marketplace khusus food-service supply. Operasinya berada di bawah bendera PT Global Digital Lestari, divisi marketplace MMA.

Situs ini sebagai jembatan industri manufaktur dengan UMKM di sektor sejenis. Jadi, pengguna bisa mendapat produk dengan harga kompetitif, terjamin, dan bisa nego harga dengan mitra,” kata William, CEO PT Global Digital Lestari.

Menurut dia, perbedaan tokowahab.com dengan e-commerce sejenis lainnya terletak pada fitur “Quotes to Sale”, yang membuat para pebisnis F&B dapat menawar harga lebih rendah daripada yang tertera di website untuk pembelian secara grosir. “(Jadi) Harga yang ditawarkan sangat kompetitif dibandingkan kompetitor. Kami hanya fokus di UMKM yang memiliki cabang di bawah tiga (kantor), dan penjualannya di bawah Rp 4 miliar,” katanya.

Mengapa UMKM? Pertama, kalangan ini sulit mendapatkan harga kompetitif. Biasanya, mereka membelinya di pasar yang sudah pada posisi mata rantai kesekian. Kedua, mereka tidak tahu bahan yang digunakan halal atau tidak. Di tokowahab.com, bahan yang dijual harus ada BPOM-nya dan tersertifikasi halal. Ketiga, efisiensi. Banyak toko sejenis yang online tetapi tidak memiliki toko fisik, dan sebaliknya. “Saya berpikir, ini harus efisien, mau beli langsung silakan, beli online bisa. Kalau di atas Rp 10 juta, kami berikan free ongkir, bisa pickup memakai ojek online. Jadi, kami mengefisiensikan mereka,” William menjelaskan.

Bukan tanpa rintangan pria 27 tahun itu mengembangkan e-commerce ini, terutama dari aspek manajemen SDM dan sistem internal. Dia mengenang ketika baru memulai, perusahaan masih mengunakan sistem DOS dan Excel manual, sehingga memengaruhi arus pembelian dan pengeluaran.

Kemudian, dia juga membutuhkan SDM yang mengerti teknologi. “Saya merekrut anak-anak muda, sekitar lima orang. Bisnis ini diawali cuma dari saya (sebagai CEO), customer support, dan engineer,” ungkapnya. Seiring dengan perkembangannya, kini tokowahab.com sudah memiliki divisi pemasaran digital yang terdiri dari tim SEO, media sosial, serta penjualan. Total saat ini ada 20 karyawannya.

Proses tidak mengkhianati hasil. Tahun pertama berjalan (2017), perusahaan tumbuh signifikan (lebih dari 300%). Tahun kedua, pertumbuhan di atas 100%. Jumlah UMKM terdaftar sebanyak 2.000, dan 500 di antaranya membeli secara kontinyu setiap bulan. Tokowahab.com sudah bermitra dengan lebih dari 20 merek. Sebagian besar merek impor lantaran produk bakery memang sebagian besar masih dari mancanegara. Adapun rentang harga produk Rp 150 ribu-3 juta.

Modal pembangunan tidak lebih dari Rp 2 miliar. Setelah tahun pertama ke tahun kedua, kami sudah BEP. Memang secara timing kami tepat, luck-nya itu adalah timing, opportunity, dan preparation kami tepat,” kata William.

Tidak berhenti hanya di e-commerce, dia juga mengembangkan bisnis tokowahab dengan menjual layanan membantu promosi yang masih terkait jalur digital. Mereka menjembatani kalangan manufaktur ke UMKM. “Kami ada tim digital marketing untuk membantu mereka (melakukan) integrated marketing, seperti membuat video resep. Dari sana kami bisa mendapatkan revenue juga,” ungkapnya.

William adalah anak bungsu. Kakak pertama bertindak sebagai deputi direktur di grup, kakak kedua sebagai chef yang mengembangkan menu baru dan resep-resep, serta melakukan komunikasi dengan chef lain. Mereka telah sepakat bahwa yang menentukan arah perusahaan adalah William, yang lain tugasnya mengefisiensikan dan memastikan goal si bungsu bisa tercapai.

Sebagai CEO, William mengungkapkan, ada sedikit perbedaan gayanya memimpin dengan generasi pendahulunya. Dia selalu menetapkan parameter dan people development. Zaman dahulu, tidak melihat data; sekarang, berbasis data. Lalu, setiap minggu minimal dua hari ada kelas untuk karyawan, misalnya kelas entrepreneurship, strategic management, atau digital marketing.

Dilihat dari perkembangan bisnis, sebagai generasi ketiga, William berhasil melakukan transformasi. Namun, dia belum merasa puas. Ke depan, dia ingin menaikkan brand awareness bisnisnya.

Terkait keinginan tersebut, sejumlah langkah mulai dilakukan, seperti membentuk komunitas di baking center dan membuat video berisi resep-resep yang diunggah setiap minggu. “Targetnya, di akhir tahun ini UMKM yang terdaftar meningkat menjadi 4.000. Moto kami adalah ‘Menginspirasi bisnis kuliner’,” kata William. (*)

Yosa Maulana & Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)