Trisha Chas, Kembangkan Bisnis Rumahan Jadi Bisnis Masa Depan

Trisha Chas, Founder & Owner Zeta Bags
Trisha Chas, Founder & Owner Zeta Bags

Lima tahun lalu, bisnis yang dilakoni Trisha Chas (30 tahun) tidak ada yang istimewa. Sekadar jual-beli tas branded second. Itu pun dijalankan karena kebetulan. Suatu ketika, Trisha disapa, “Mba Trisha, itu tas Hermes warnanya bagus banget, itu susah loh. Mba Trisha tanyain dong ke owner-nya mau dijual atau nggak,” kata Trisha menirukan seorang pelanggan yang tertarik dengan tas Hermes yang baru selesai dilakukan perawatan (spa) di il Nostro, bisnis milik ayah Trisha.

Dari obrolan itu, Trisha berpikir ternyata ada peminat tas branded second. Saat itu pun ia menghubungi pemilik tasnya. “Oh ya, silakan, saya juga sudah bosen sama warna kuning, saya mau beli yang warna orange,” kata Trisha menirukan ucapan si pemilik tas. Setelah dapat info harga, ia bertemu lagi dengan orang yang mau beli tas dan terjadilah transaksi.

Dari pengalaman tersebut, muncullah ide untuk membuat bisnis titip jual tas branded second. “Saat itu, ayah saya sudah memiliki bisnis spa produk kulit il Nostro. Makanya, saya buat bisnis jual-beli barang second-nya sehingga saling melengkapi,” kata Trisha. Ia sendiri pernah membantu bisnis ayahnya di bagian operasional, keuangan, sampai pemasaran. Bahkan, saat usia belasan tahun, ia sering diajak ayahnya ke Eropa. Maklum, bisnis spa barang mewah il Nostro berdiri sejak 1995.

Itulah bakal bisnis Zeta Bags yang mulai dikembangkan lewat Instagram tahun 2014. Namun siapa sangka, lima tahun kemudian, bisnis rumahan yang menggunakan media sosial sebagai platform bisnis ini berhasil berkembang menjadi korporasi bisnis berbadan hukum dengan manajemen dan sistem operasional yang terstruktur.

Menginjak ulang tahunnya yang ke-5 akhir tahun lalu, Zeta Bags melakukan upaya pengembangan bisnis. Di antaranya, membuka butik terintegrasi pertama Zeta Bags di Kemang Square, Jakarta Selatan. Lalu, menghadirkan web-based system e-commerce. Dan kemudian, meluncurkan merek baru Zeta Scarves.

Menurut Trisha, lima tahun bukan masa yang mudah bagi bisnis. Setelah Zeta Bags berjalan, satu setengah tahun kemudian, ia memberanikan diri membuka butik di 2016. “Saya percaya orang-orang itu kalau mau beli barang mahal harus ada feel-nya, kelima pancaindranya harus merasakan, mulai dari dipegang, dicium, dsb.,” katanya. Kemudian, kurang-lebih 10 bulan setelah itu, ia membuka butik kedua yang memiliki ada tempat konsinyasi (consignment) sendiri. “Di 2019, kami perbesar lagi butiknya menjadi butik integrated,” katanya.

Nama Zeta diambil dari bahasa Italia. “Karena dari umur belasan tahun sudah sering ke Italia, aku belajar bahasa Italia. Z itu bahasa Italianya Zeta. Sesimpel itu. Tetapi filosofinya, Z itu huruf terakhir adalah tempat terakhir, tempat semua barang branded akan ada di sini. Mau nitip atau beli pasti semua akan ke sini. Destinasi yang sudah akhir sekali, tidak akan ke mana-mana lagi,” Trisha menjelaskan.

Target pasar Zeta Bags adalah orang-orang yang sangat peduli pada gaya hidup dan mereka yang sangat peduli status sosial. Trisha pun membaginya menjadi dua segmen pasar. Pertama, segmen B+, yaitu pembeli yang baru mau mencoba barang branded sehingga hanya berani membeli produk second. Kedua, segmen A, yakni penitip produk branded yang sudah bosan dengan produk tersebut dan ingin menjualnya. Orang-orang di segmen A ini ketika ingin membeli produk, tetap ke luar negeri dan jarang mau beli barang di Zeta Bags. “Target usia pasar Zeta Bags ini 17-45 tahun,” ungkapnya.

Saat ini, produk yang diterima titip dan dijual di Zeta Bags adalah tas, sepatu, jam tangan, aksesori yang ada berliannya, kacamata, sampai kalung, yang semuanya merek Eropa. “Kami tidak menerima American brands, karena sudah terlalu banyak,” katanya. Harga produk yang dijual di Zeta Bags, untuk kalung mulai dari Rp 2,5 juta, untuk tas Rp 5 juta-2 miliar.

Setelah melakukan riset, tidak hanya di wilayah Jawa, tetapi juga Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Bali, banyak sekali yang menitip dan beli. Bahkan, dari luar negeri pun ada yang menitip barangnya di Zeta Bags. Rata-rata mereka orang Asia. “Mereka tidak pernah datang ke butik, hanya lihat di Instagram dan website, tapi mereka percaya. Itu yang harus kami jaga,” katanya.

Bagaimana proses bisnisnya? Zeta Bags hanya menerima barang dengan kondisi kualitas di atas 85% dan brands tertentu saja. Kemudian, penitip harus mengisi formulir consigment receipt secara lengkap dan melampirkan foto KTP. Setelah itu, pihaknya akan mengecek kondisi barang. Lama pengecekan tergantung pada antrean (minimal lima hari kerja setelah barang di-drop). Setelah pengecekan lebih lanjut, penitip akan dihubungi pihak Zeta Bags dan pemilik barang memberikan ekspektasi harga di consignment receipt.

Zeta Bags juga akan menawarkan rekomendasi harga dari ekspektasi tersebut agar cepat laku, tetapi harga tersebut masih bisa didiskusikan hingga sepakat. Lalu, barang akan diproses jual di seluruh kanal penjualan Zeta Bags, baik online maupun offline. Lama “masa eksklusif” consignment Zeta Bags adalah 14 hari dimulai saat barang di-drop. Dalam masa eksklusif tersebut, penitip tidak diperkenankan menjual barang ke tempat lain ataupun mengambilnya. Jika dalam waktu tersebut penitip ingin mengambil barangnya, akan dikenakan biaya administrasi Rp 250 ribu per barang.

Jika barangnya tidak laku, penitip dapat mengambil kembali barangnya setelah masa eksklusif berakhir atau memperpanjang masa konsinyasi dengan penetapan harga baru. Lama masa konsinyasi maksimal dua bulan setelah harga disepakati. Sebab ada risikonya; yang namanya leather bags itu harus diangin-anginkan, perawatannya mungkin lebih mahal daripada biaya jualnya. Apabila melampaui batas waktu tersebut, penitip wajib mengambil kembali barang titipannya atau akan dikembalikan melalui jasa kurir/ekspedisi dan dikirim ke alamat yang tertera di consignment receipt.

Berapa persen keuntungan yang diambil Zeta Bags dari penitip? “Tergantung pada barangnya, dan kami transparan. Harga yang tertera di Instagram atau website itu sudah termasuk keuntungan kami, jadi penitip bisa melihat berapa range harga yang kami up,” kata Trisha. Ia mencontohkan barang seharga Rp 9 juta, ia jual Rp 9.990.000. Jika penitipnya keukeuh harganya ingin mendekati harga asli, terkadang pihaknya hanya mengambil Rp 250 ribu, yang penting perputarannya. “Pakai prinsip orang China, tidak perlu cuan banyak, yang penting perputarannya cepat. Apalagi, bisnis ini word of mouth, dan pasarnya hanya 5% di Indonesia yang seperti ini, tidak banyak,” ungkapnya.

Kemudian, demi memberikan rasa nyaman dan meraih kepercayaan pelanggan, saat ini Zeta Bags sudah berbentuk badan hukum, yakni perusahaan terbatas --PT Zeta Eka Tunas Adika-- dan mempunyai fungsi organisasi yang lengkap, mulai dari bagian penjualan, pergudangan, HRD, fotografer sendiri, bahkan Zeta Bags mempunyai corporate legal dan konsultan pajak. Hal ini menunjukkan komitmen Zeta Bags agar pelanggan nyaman menitipkan atau membeli produk di Zeta Bags. “Model bisnis ini juga termasuk baru sehingga kami harus ekstra hati-hati dengan regulasi, jangan sampai kami melanggar undang-undang,” kata Trisha yang saat ini memiliki 22 karyawan tetap.

Tahun lalu, Zeta Bags resmi menjadi authorized reseller, bekerjasama dengan sebuah lembaga di Amerika Serikat yang memberikan jasa pengecekan keaslian. “Jadi, kami tidak hanya jualan, tetapi juga menawarkan jasa pengecekan keaslian bersertifikasi mulai dari Rp 550 ribu. Ini financial guarantee. Jika kami salah, kami tidak hanya mengganti biaya pengecekannya, tetapi juga bisa membeli tas tersebut. Segaransi itu,” katanya. Itu yang membuat pelanggan merasa yakin dan aman, dan menjadi lebih pintar lagi; jadi tahu bahwa membeli tas branded itu tidak bisa sembarangan.

Untuk pengecekannya, Zeta Bags memiliki teknologi yang bisa mengecek sampai ke DNA tasnya. Pengecekan tersebut membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk benar-benar memastikan apakah sesuai dengan kulit dan guratan-guratan aslinya. Tidak hanya alat, Trisha sendiri sebagai orang yang berpengalaman bertahun-tahun harus bisa menyeleksinya, dengan cara dipegang dan dicium, karena setiap brand berbeda baunya. “Ini baunya LV, baunya Channel, dsb. Pengecekan itu benar-benar sangat komprehensif karena kami juga life time money back guarantee,” ungkapnya.

Trisha memiliki cita-cita Zeta Bags menjadi Zeta Holding. “Itu mimpi saya,” ujarnya. Ia pun sudah mulai memproduksi scarves sendiri. “Di batch pertama, kami produksi 500 scarve., dan dalam sebulan sudah habis. Harganya Rp 350 ribu,” katanya. Ia juga mempunyai Zeta Living yang menawarkan jasa mendesain butik atau kafe.

Kami akan membuat Zeta Bags sebagai fashion holding group di mana ada lini bisnis lain. Kami juga ingin memiliki cabang di berbagai daerah di Indonesia, tidak menutup kemungkinan juga ke luar negeri,” kata Trisha mengungkap mimpi-mimpinya.

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)