Txture Asia Melanglang Buana

Tumbuh dari lingkungan perajin sepatu Cibaduyut, Joe, Lea dan Wafi menjajal kepiawaian mereka mengembangkan kerajinan sepatu yang lebih mumpuni. Adalah Txture Asia, sepatu berkelas besutan tiga mahasiswa Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (Bandung) ini. Hanya dalam waktu kurang dari lima tahun, mereka berhasil mengembangkan usaha sepatu mereka ke beberapa kota di Tanah Air, bahkan merambah pasar Eropa.

Prima Rahadiantara Subakti dan Rahmi Dahlia ~~

Menurut Joe, usaha mereka dimulai pada 2009. Ketika itu ia terpikir mengembangkan bisnis yang tak jauh dari apa yang ia lihat. “Di sekitar saya banyak perajin sepatu. Pengetahuan saya tentang sepatu pun bisa dibilang tergolong agak lumayan,” ujar pria berusia 25 tahun ini. Ia merasa sayang jika pengetahuannya tidak tersalurkan.

Langkah awal dilakukannya dengan membuka pemesanan sepatu secara online. Persisnya, di Kaskus. Karena tak punya modal, ia hanya menerima pemesanan dengan sistem pre-order, atau memesan dulu. Tak disangka, respons yang ia dapatkan lumayan. Beberapa orang mulai tertarik dan memesan sepatu kepadanya. Adapun merek yang ia gunakan adalah Txture Club. Belakangan Txture Club berubah menjadi Txture Asia.

Hingga saat itu pemesanan mencapai 150 pasang per bulan. Merasa sudah mendapat respons yang cukup lumayan, Joe pun mengajak rekannya, Lea. “Kami berdua pun bersama-sama menjalankan bisnis ini,” ujar Joe.

Menurut Lea (26 tahun), ketika itu mereka tidak memiliki modal yang terlalu besar. Kalaupun ada, modal tersebut lebih untuk modal operasional sehari-hari seperti ongkos transpor. “Bisa dibilang, saat itu kami pintar-pintar memutar uang DP (down-payment),” ujar wanita bernama lengkap Rahmi Dahlia Khairunnisa ini.

Diakui Joe, memulai usaha sepatu tidaklah mudah. Ia berkali-kali ganti perajin karena mendapatkan perajin yang sesuai dengan standar yang diinginkan tidaklah mudah.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, pesanan makin bertambah. Hingga suatu saat ada brand clothing ternama di Bandung yang memesan kepadanya. Mereka menginginkan Txture menjadi vendor mereka. Alhasil, mereka memesan sepatu lebih dari 200 pasang kepada Txture. Ternyata, beberapa pihak lain juga tertarik dengan Txture dan memintanya menjadi vendor bagi produk sepatu mereka. Karena pekerjaan sudah terlalu banyak, pesanan di Kaskus pun ditutup Joe. “Kami sudah kewalahan mengerjakan pesanan. Bisa dibilang, setelah enam bulan berjalan, kami akhirnya memfokuskan diri sebagai vendor saja,” ujarnya.

Sembari terus mengembangkan kapasitas produksi, belakangan Joe dan Lea memutuskan untuk menghasilkan produk mereka sendiri. “Kami tidak ingin terus-terusan hanya menjadi vendor,” ujarnya. Namun, peran mereka sebagai vendor tetap dipertahankan hingga sekarang. Saat ini ada 3-4 merek produk sepatu yang masih mereka garap. Setelah memutuskan memproduksi sepatu dengan merek sendiri, Joe dan Lea bergegas memasarkan kembali produk mereka.

Kami mulai memasarkannya lagi melalui web dan blog,” ujar Lea. Ia membuat web dan blog khusus untuk Txture. Web mereka yaitu www.txture.asia. Adapun slogan citranya: The Aesthetic Enthusiasts. Selain di web dan blog, mereka juga memanfaatkan Twitter sebagai ajang perkenalan produk mereka. Namun, mereka bertiga tidak menggunakan Facebook sebagai media pemasaran. Selain itu, mereka pun mulai mengikuti beberapa ekshibisi atau pameran fashion dan anak muda, baik di Bandung maupun Jakarta. Sebut saja, Denim Market di Jakarta dan Brightspot Market.

Mereka tak merasa kesulitan untuk mulai merangkul kembali pelanggan lama yang telah mereka tinggalkan. Caranya, dengan melakukan pendekatan personal. Kebetulan ketika membuka pemesanan di Kaskus dan pemesanan lain, mereka menyimpan data para pemesan. Jadi, ketika ingin merangkul pelanggan, mereka pun bisa merangkulnya secara personal. “Kami dekati lagi mereka. Kami beri tahu bahwa kami sudah memproduksi produk sendiri,” ujar Joe sambil mengungkapkan, produk Txture tersedia di The Goods Dept. Komunikasi secara personal itu dilakukan melalui telepon, SMS, dan layanan percakapan lainnya.

Tahun 2011, ketika mengikuti acara Denim Market di Jakarta, Joe dan Lea mengajak salah satu rekan mereka, Wafi, untuk bergabung. Pembagian perannya: Lea lebih ke urusan finansial. Wafi (25 tahun) mengurusi pemasaran, dan Joe menangani produksi.

Setelah mereka aktif lagi di Internet, permintaan dari luar negeri pun muncul. Ternyata, ada seseorang pemilik toko sepatu dan fashion dari Prancis yang melihat web mereka dan tertarik membeli sepatu. Joe mengira pembeli dari Prancis itu tertarik dengan produk mereka karena salah satu produk Txture menggunakan bahasa Prancis. Jumlah pemesanan sepatu pembeli tersebut tidak terlalu banyak, tetapi berjalan beberapa lama. Saat ini pemesanan sudah terhenti, tetapi telah tergantikan dengan pasar luar negeri lainnya, seperti Hong Kong, Swiss dan Belanda.

Lalu, bagaimana kinerja produk yang dibanderol dengan harga Rp 785.000-1,89 juta itu saat ini? Dijelaskan Joe, secara keseluruhan produksi Txture memiliki porsi dengan komposisi 70:30. 70% untuk Txture, 30% untuk merek lain (sebagai vendor). Adapun produksi keseluruhan Txture kurang-lebih 500 pasang sepatu per bulan. Pada hari-hari besar seperti Lebaran, produksi meningkat lebih dari tiga kali lipat. Mereka juga membatasi jumlah produk secara terbatas, yaitu hanya membuat 50 item per desain sepatu. Produk Txture saat ini tak hanya di Jakarta, tetapi juga di Surabaya, dan kota-kota besar di Kalimantan dan Sumatera.(*)

Yuyun Manopol & Radito Wicaksono

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)