Perjalanan Kukuh dan Tim Mengibarkan Tanijoy

Ada banyak permasalahan di bidang pertanian yang masih menumpuk dan belum terselesaikan. Sedikit di antaranya adalah kesejahteraan petani itu sendiri. Pendidikan yang didapatkan petani selama hidupnya acapkali tidak mencukupi untuk mendukung kegiatan bertani.

Saat akan mulai bertani, petani tidak memiliki lahan dan modal, sehingga mereka berutang pada tengkulak. Tengkulak memberikan modal, namun tidak memberikan cara agar petani menghasilkan produk yang baik. Akhirnya, saat panen, produksi petani sangat kurang dan kembali meminjam pada tengkulak.

Sulitnya petani mendapatkan modal dan lahan ini membuat industri pertanian melaju kalah cepat dengan industri teknologi yang menjadi primadona di mata para investor. Investor memiliki alasan tersendiri atas keengganannya menanamkan modal di bidang pertanian. Salah satu yang utama adalah kepercayaan terhadap petani dan optimisme akan sektor pertanian.

Kondisi ini menginspirasi tiga orang pemuda, yaitu Kukuh Budi Santoso, Muhamad Nanda Putra, dan Febrian Imanda Effendy untuk mendirikan sebuah platform bertajuk Tanijoy. Tanijoy bisa dikatakan sebuah katalis yang dapat mempercepat laju sektor pertanian yang berjalan tersendat-sendat. Apa yang dilakukan startup yang didirikan pada tahun 2017 ini?

Tanijoy menghubungkan petani dengan investor. Dari sisi petani, startup ini membina para petani di lahan agar dapat menghasilkan produk pertanian yang bagus. “Kami memiliki field manager yang tinggal bersama petani dan bertugas di lahan,” ungkap Kukuh Budi Santoso, COO dan Co-founder Tanijoy. Selain itu, field manager juga turut membina petani untuk mengatur keuangan mereka.

Cara membina petani adalah tidak dengan pengajaran di kelas seperti pada umumnya, tapi dengan duduk bersama mereka dan menjadi bagian dari petani. Adapun pengajar yang diundang adalah para praktisi ahli di bidang pertanian. Hasilnya cukup signifikan, petani yang tadinya banyak menggunakan input kimia, perlahan-lahan mulai menggantinya ke bahan organik.

Salah seorang tim Tanijoy memiliki background keperawatan dan menjabat sebagai field manager. Dalam melakukan pendekatan kepada petani, ia memiliki peran penting. “Menurut saya perawat itu lebih ramah ke orang lain dan lebih bisa mengayomi orang. Saat ia terjun ke lapangan, skillnya dalam bidang keperawatan sangat bermanfaat. Desa tempat petani berada daerah yang jauh dari kota dan akses kesehatan. Kalau petani sakit, dia bisa memberi tahu obat-obat pada petani, ditambah lagi dia bisa melakukan bekam. Kalau petani kelelahan, mereka bisa dibekam gratis olehnya,” tutur Kukuh.

Selain merangkul dan mengawasi petani, field manager juga melakukan reporting langsung dari lapangan. Hasil laporan ini dapat diakses oleh investor melalui aplikasi Tanijoy.

“Saat ini petani kami bekerja sama dengan 52 petani di Bogor, namun kami sudah survei tempat di Makassar, Malang, Sukabumi, dan Pangandaran. Mungkin setelah lebaran akan ada petani baru yang kami gandeng. Untuk aktivasi tentu memerlukan waktu,” tambahnya. Selain itu, Tanijoy memiliki 40 hektar lahan di Bogor. Meski begitu, yang baru diberdayakan masih sekitar 10-12 hektar.

Untuk mengajak petani bergabung, diperlukan bukti terlebih dahulu. Kukuh menceritakan petani pertama yang bergabung dengan Tanijoy bernama Mang Yadi. “Ia percaya dengan visi Tanijoy bahwa bila bergabung, ia akan lebih berkembang dan income akan naik. Setelah enam bulan, dan dua periode tanam, income Mang Yadi naik  30%. Itu sangat berpengaruh pada keluarganya. Hal itu membuat petani di sekitarnya ingin bergabung bersama kami. Tanpa kami mengomandoi mereka, setiap malam orang-orang datang ke tempat kami untuk meminta bergabung," elasnya.

Petani yang bergabung dengan Tanijoy diseleksi terlebih dahulu. Salah satu syaratnya adalah ia tergabung dengan gabungan kelompok tani (gapoktan). Alasannya, gapoktan memiliki ketua yang bisa bertanggungjawab dan orangnya dapat dipegang. Meskipun kerjasama dilakukan dengan gapoktan, pendekatannya dilakukan lewat orang per orang.

Pendapatan petanai awalnya Rp 20.000-30.000 per hari. Setelah bergabung dengan Tanijoy, pendapatannya naik menjadi Rp 40.000-50.000. Mereka juga mendapatkan bonus bila hasil panennya bagus. Pendapatan petani yang bergabung melalui sistem pembayaran per minggu, seperti mendapatkan gaji.

Untuk komoditas, Tanijoy berfokus pada komoditas sayur saja. Hal ini dilakukan atas pertimbangan waktu panen yang cepat, yaitu tiga bulan saja. Jadi, perputaran uang untuk petani pun jadi lebih singkat.

Dari sisi investor, Tanijoy menawarkan investasi minimal Rp 3-20 juta  tergantung jenis sayur. Investasi di Tanijoy bukan berupa crowdfunding, tapi lebih mengalokasikan satu orang investor untuk satu lahan. Investor akan mendapatkan sertifikat yang menyatakan bahwa semua tanaman yang ditaman adalah milik investor selama satu masa panen.

Investor pun boleh datang ke lahan langsung untuk bertanya-tanya pada petani soal kendala di lahan. Adapun plot lahan yang ditawarkan di antaranya 1.000 m, 2.000 m, dan 2.500 m. Untuk pembagian hasil panen, Tanijoy mendapatkan 20%, petani 40%, dan investor 40%.

Sebelum bergabung membangun Tanijoy, Kukuh sempat membangun startup pertanian yang berfokus pada agrotourism. Bisnisnya mengkatalisasi anak muda untuk dapat memberikan inovasi di pelosok Indonesia. “Kami punya dua program, yang pertama memberangkatkan orang Indonesia ke luar negeri, namanya Indonesia Culture Exchange. Kalau misalkan orang luar ke sini namanya Asian Youth Camp. Ada 25 negara yang bergabung bersama kami dan kami sudah memberangkatkan lebih dari 1000 pemuda,” tuturnya. Sementara itu, Nanda Putra, CEO dan Co-founder Tanijoy sendiri sebelumnya sempat berbisnis di bidang tanaman sayur dan kopi sejak tahun 2012.

Ide awal Tanijoy sedikit berbeda dengan yang sekarang berjalan. Kukuh saat diwawancarai SWA  Online di kantor IDX Incubator, mengungkapkan, “Ide awal kami adalah end-to-end solution. Awalnya, kami melakukan riset di mana selain membantu petani di lapangan, kami juga turut menjual produk petani. Namun, ternyata operasionalnya itu tidak semudah yang kami pikirkan. Kami sudah coba ke warteg dan ke restoran. Namun, supply-nya kurang karena petani kekurangan modal. Akhirnya, kami fokus ke hulu.”

Terkait modal, sebenarnya Tanijoy mengumpulkan uang bersama sebanyak Rp 700 ribu. Setelah itu, uang tersebut digunakan untuk berjualan sayuran ke warteg dan restoran. Uang tersebut semakin bertambah hingga kami menjadi PT Tanijoy Agriteknologi Nusantara.

Hingga saat ini, valuasi bisnis Tanijoy mencapai Rp 500 juta. “Kami masih akan terus meningkatkan nilainya,” tutur Kukuh. Di lapangan sendiri, Tanijoy mendapatkan banyak proyek, di antaranya pembukaannya, penambahan sayur, dan lain-lain. Bulan Februari hingga April 2018, Tanijoy telah mendapatkan investasi Rp 250 juta. Tanijoy juga telah menggandeng 50 orang investor.

“Karena kami merupakan social enterprise,  sehingga fokus pada bagaimana membangun orang-orang terlebih dahulu.  Fokus pada  dampak yang kami hasilkan. Kami juga sedang bekerja sama dengan Mnc Life untuk memberikan asuransi kesehatan dan jiwa untuk petani. Kami ingin petani kami memiliki asuransi sendiri," dia menuturan.

Tantangan utama yang dihadapi Tanijoy adalah masalah di lapangan. Operasional di lapangan cukup sulit di mana petani tidak mudah diubah. Selain itu, terdapat kendala dalam mendapatkan talent. Tidak banyak orang berlatarbelakang pertanian yang masuk ke bidang pertanian.

Rencana Tanijoy ke depan adalah agar bisa menghubungkan segala aktivitas pertanian dengan teknologi. “Kami ingin mengembangkan farming management system di mana kami memiliki reporting data. Local leader masing-masing meng-upload data pertanian masing-masing ke internet. Jadi sistem pelaporan kami transparan dan supply juga transparan,” tutup Kukuh mengakhiri sesi wawancara.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!