Didit Hediprasetyo, Jejak Emas di Runway Dunia

Di panggung Paris Fashion Week, rancangan Didit Hediprasetyo berseliweran bersama karya Giorgio Armani, Christian Dior, Georges Chakra, Zuhair Murad, Versace, Jean-Paul Gaultier, dan desainer kelas dunia yang lain. Bermukim di Paris, Didit tercatat sebagai salah seorang dari sedikit perancang busana yang masuk daftar official of calendar Paris Fashion Week yang menggelarkan peragaan untuk perancang internasional. “Saya harus merilis rancangan dua kali setahun yakni untuk pergelaran spring-summer dan fall-winter,” ungkap Didit kepada SWA lewat surat elektronik. Ya, dalam setahun ia biasanya mengerjakan dua koleksi, fall-winter dan spring-summer. Satu koleksi berkisar 20-40 pakaian.

Didit Hediprasetyo ~~

Didit juga tercatat sebagai desainer kedua setelah Karl Lagerfeld dan pertama di Asia, yang diajak berkolaborasi oleh perusahaan mobil papan atas Jerman, BMW. Didit adalah perancang desain interior dan eksterior BMW Individual 7 Series yang diluncurkan pada 2012 dan hanya diproduksi lima unit untuk seluruh dunia dengan harga yang hanya diketahui para pemesannya. “Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya,” ungkap kelahiran 1984 ini.

Di jagat mode, Didit memang bintang yang menyala terang. Penampilan perdananya di Paris Couture Fashion Week Spring/Summer 2010 langsung membetot perhatian publik mode Paris. “Saya tidak menyangka show koleksi saya yang pertama itu mendapatkan apresiasi dan sambutan positif dari kalangan fashion internasional,” ucapnya. Pergelaran itu menjadi debut awalnya sebagai desainer kelas dunia. Ia pun mendirikan labelnya sendiri: Didit Hediprasetyo yang bermarkas di Paris. Ia percaya bahwa ada kesempatan untuk memperkenalkan dan diterimanya karya anak Indonesia di pusat kota fashion tersebut. “Untuk bisa tampil di Paris bersama desainer terkenal dari belahan dunia lainnya sungguh merupakan tantangan yang luar biasa bagi saya sebagai orang Indonesia,” katanya mengakui.

Alumni Desain Fashion dari The New School for Design New York dan Ecole Parsons à Paris (lulus 2007) ini memang sudah memantapkan hati untuk membangun karier di Paris. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Didit berniat melamar pekerjaan di beberapa fashion house di Paris. Keinginannya ternyata ditentang teman dan kolega, termasuk profesornya, baik di Jakarta maupun Prancis. “Setelah melihat portofolio saya dan prestasi yang pernah saya raih, mereka mendorong saya untuk menampilkannya dalam Couture Fashion Week,” ujar Didit yang memenangi Silver Thimble Award of Parsons Paris pada 2006. Dan, di panggung Couture Fashion Week itulah Didit memulai kiprahnya sebagai desainer kelas dunia.

Sejak kecil, Didit selalu ingin belajar banyak hal. “Sampai akhirnya saya cukup sulit memilih ingin jadi apa. Saya ingin menjadi seorang pelukis, fotografer, sejarawan, sutradara teater dan pengusaha. Banyak orang mengatakan saya tidak bisa fokus pada apa yang saya inginkan,” ujarnya. Keinginan kuat untuk belajar banyak hal membuat Didit saat bersekolah di Boston sempat mengikuti workshop teater Shakespeare di Harvard University Extension School. Inilah yang kemudian memicu ketertarikannya pada kostum/pakaian. Ia lantas memantapkan keinginan untuk mendalami dunia fashion dengan mengambil jurusan desain fashion. Untuk memperkaya wawasan, dia juga mengambil kursus melukis, fotografi dan sejarah seni.

Didit mengaku, pergulatannya dengan dunia fashion saat ini justru menjadi sempurna. “Karena saya akhirnya bisa melakukan semua keinginan tersebut dalam satu jalan karier. Satu hal yang selalu saya yakini adalah saya ingin menciptakan sesuatu yang visual yang dapat menceritakan sebuah cerita atau merefleksikan sebuah emosi,” paparnya. Sebagai desainer, menurutnya, ia tengah dalam tahap mematangkan garis dan konsep. “Saya masih fokus dalam eksplorasi teknik dan inspirasi dalam berkarya. Karena itulah saya memulainya dalam bentuk couture, bukan berupa produk massal ready to wear.” Target pasar yang dibidiknya perempuan usia 28-60 tahun. “Pecinta seni yang menghargai karya pembuatan tangan yang diaplikasikan ke sebuah pakaian yang praktis,” imbuh Didit yang dikenal pemalu dan rendah hati.

Menurut dia, setiap desainer pasti memiliki ciri khas pada garis rancangannya. “Kesederhanaan dalam keanggunan,” katanya perihal rancangannya. Ia selalu mengedepankan estetika yang menggambarkan definisi dari indah dan murni dalam dunia modern saat ini. Drapery adalah salah satu aspek yang sangat ia cintai dalam proses pembuatan karyanya. “Seperti seorang seniman yang sedang memahat patung, saya dapat mengungkapkan siluet dan karakter dari segi unsur sebuah perasaan dalam lipatan berbagai jenis kain.” Karena itu, dalam presentasi koleksinya di Paris, ia kerap memadukan produk Indonesia dengan hasil karya tangan khas Prancis, seperti kolaborasi pembuatan pakaian dengan Rumah Lesage, bordir tradisional di Prancis. “Saya mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan Christian Louboutin, Philip Treacy. Saya sendiri memiliki mitra binaan perajin songket di Sumatera Utara,” tuturnya.

Didit melakukan terobosan dengan memulai memperkenalkan songket Indonesia dalam garis rancangan yang feminin, minimalis, regal dan understated. Didit mengaku peduli memajukan citra kualitas produk tenun Indonesia demi meningkatkan perekonomian perajin Indonesia. Meski tinggal di Paris, saat ini ia memiliki workshop di Jakarta, serta tim komunikasi dan pemasaran berada di Paris. Di Jakarta sudah ada beberapa pelanggan yang menyukai karyanya. “Untuk selanjutnya, rencana saya memulai bisnis ready to wear, second line yang dapat menjangkau pasar yang lebih luas.”

Diakui Didit, orang tuanya sangat mendukung dan memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk membangun karier. “Pesan mereka adalah terus berjuang sepenuh hati dalam mengharumkan nama bangsa. Mereka tahu bagaimana proses yang sangat panjang untuk saya lalui hingga dapat diterima oleh kalangan dunia fashion internasional,” ungkapnya. Selain itu, ia pun berpegang teguh pada prinsip hidupnya. “Untuk selalu mengikuti suara hati, fokus dalam menyelesaikan dan menyampaikan suara tersebut dalam sebuah karya, mempelajari dan mengasah berbagai macam kebudayaan kita dan mengilustrasikannya dalam kemasan modern yang bisa diterima kehidupan masa kini,” paparnya.

Henni T. Soelaeman

dan Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)