Ernesto Abraham, Fokus Menggarap Ready to Wear

Desain futuristik dan edgy yang menjadi ciri khasnya mengantarkan Ernesto Abraham melesat di panggung fashion Tanah Air. Di ajang Indonesia Fashion Week tahun lalu, koleksi desainnya yang mengangkat teknik embroidery motif etnik modern dan teknik printing motif bahan membetot perhatian publik. Ia kemudian memboyong penghargaan juara dua di ajang bergengsi tersebut. Lulusan Lembaga Pendidikan Tata Busana Susan Budihardjo ini kemudian melenggang ke Hong Kong Fashion Week 2015.

Ernesto Abraham

Sebagai desainer, kelahiran 28 September 1988 ini tak hanya melayani rancangan customized. Untuk lebih memasarkan produknya, ia justru ingin memperkuat ready to wear. Ada tiga merek yang diusungnya: Ernesto Indonesia, Ernesto Abraham dan Essence. Setiap merek memiliki kekhasan rancangan. Ernesto Indonesia menitikberatkan pada nuansa lokal dan Indonesia. Ernesto Abraham mengedepankan desain bergaya futuristik, sedangkan Essence khusus untuk rancangan baju pengantin. “Semuanya saya handle sendiri,” ungkap Ernesto. Membidik segmen menengah-atas dengan rentang usia mulai 18 sampai 50-an tahun, merek-merek yang dibanderol mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 5 juta itu akan hadir di department store papan atas akhir tahun ini.

Meski masuk pasar ritel, rancangannya tetap identik dengan gaya desain Ernesto. Kategorinya ready to wear deluxe. “Pengerjaannya dipikirin dan nggak garmen banget yang kainnya murah, jadi tidak massal banget,” ujarnya. Pilihannya masuk pasar ritel ketimbang butik, menurut dia, karena ritel lebih mudah diprediksi, mulai dari pembelinya hingga penjualannya. “Garmen jelas, beli bahan sekian, dipotong, lalu biaya-biaya lainnya juga lebih mudah dihitung,” imbuhnya.

Ketertarikannya masuk pasar ritel berkaca dari pengalamannya merentas karier di industri garmen. Sebelum berkiprah sebagai desainer, ia sempat bekerja sebagai merchandiser di perusahaan garmen besar yang fokus menggarap ekspor untuk sebuah merek papan atas. “Produksinya di sini, mereka tinggal labeling,” katanya.

Ia juga sempat bergabung dengan Danar Hadi. “Awalnya saya tidak mengerti garmen sama sekali,” katanya. Sebagai desainer, sebelumnya ia hanya paham membuat gaun yang bagus. Apalagi, ia juga sempat magang di beberapa desainer kondang, antara lain Deni Irawan. Industri garmen kemudian membuka matanya melihat peluang pasar ritel.

Pilihan untuk menjadi desainer sejatinya tidak mendapat restu dari sang ibu. Ibunya menginginkan ia menjadi seorang desainer interior. “Saya memulai semuanya dari nol. Saya atur modal sendiri. Makanya mulai kecil-kecil dululah,” kata anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Andreas Sahab dan Ester ini.

Tahun 2008, ia mulai membuka jasa desainer. Awalnya, untuk keluarga dan teman-teman dekatnya. “Kebanyakan waktu itu buat rok untuk Natalan atau nikahan,” katanya. Sembari magang di desainer dan bekerja di perusahaan garmen, ia melayani klien yang jumlahnya terus bertambah. Bahkan, para awak media di sebuah harian besar dan stasiun televisi menjadi pelanggannya. Sampai suatu saat, diakuinya, pelanggannya mencapai ratusan orang. Pelanggannya pun tak sebatas di Ibu Kota. Dari daerah lain pun berdatangan. Pasalnya, ia kerap bekerja sama dengan sejumlah media untuk beauty style dengan meminjamkan baju rancangannya termasuk rancangan baju muslim untuk pemotretan. “Penyebaran majalah kan luas, jadi saya suka dapat order dari Nusa Tenggara, Timor, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya,” kata pemenang lomba Kartini 2012 dan berbagai ajang lomba fashion lainnya ini.

Harga yang dipatok Ernesto bervariasi. Dress seperti baju pengantin bisa Rp 20 juta. Sementara untuk full pernikahan bisa sampai Rp 50-an juta. Seiring bergulirnya waktu, Ernesto juga merancang sepatu, tetapi sebatas untuk acara fashion show-nya dan pernikahan. “Karena satu set dengan bajunya,” ucapnya.

Ke depan, Ernesto akan fokus menggarap tiga merek yang dibesutnya. “Saya juga ingin memperkuat gaya saya,” katanya. Sebagai desainer, ia menginginkan pelanggan loyal yang terus repeat order. “Bukan pembeli yang hanya sekali datang,” ujarnya. Ia pun menceritakan pengalamannya saat magang di seorang desainer yang kliennya kebanyakan sosialita dengan harga baju bisa seharga mobil. “Setelah baju jadi, mereka tidak datang lagi. Saya tidak mau menjadi desainer yang seperti itu, dan tidak semua orang menggunakan dana sebesar itu untuk membeli baju,” paparnya. Prinsipnya, ia mengaku ingin pelanggan nyaman, perawatan bajunya gampang, dan terpenting mereka mau balik lagi.

Julie Louis menilai Ernesto sebagai desainer yang profesional. “Dia mengajak saya dan ibu saya berburu bahan dan membantu menawarkan harga. Dia juga memberi kami pengetahuan mengenai bahan yang bagus. Dia mementingkan kepuasan pelanggan. Saat kami sibuk, dia datang ke rumah mama saya dan mertua saya untuk fitting, kadang sampai malam. Dia benar-benar tahu bagaimana caranya membangun relasi dengan pelanggan,” ungkap salah satu pelanggan Ernesto ini.

Saat menikah Februari lalu di Bali, Julie memercayakan rancangan baju pengantinnya pada Ernesto. “Dia yang mengerjakan baju pengantin putih, dress ballgown gold for dinner, dress untuk adik saya, dua baju untuk mama saya, dan dua baju untuk mama mertua, total 7 baju dan dia hanya punya waktu kurang dari dua bulan,” tutur Julie. Menurutnya, desainer yang dia datangi tidak menyanggupi permintaannya karena waktu yang diberikan sangat mepet. “Ernesto menyanggupi semua itu dan sangat bertanggung jawab,” katanya.

Julie mengakui, awalnya ia ragu karena yang ia tahu minimum pembuatan untuk wedding gown saja 6 bulan. “Awalnya saya sempat ragu tetapi dia bisa membuat saya merasa tenang, dan memang semuanya berjalan teratur, terjadwal dengan baik,” ungkapnya.

Julie menambahkan, saat Ernesto mengetahui bahwa artis Syahrini akan datang ke pestanya, ia pun memastikan bahwa gold dress-nya tidak kalah dengan Syahrini. “Hingga hari terakhir pun dia masih menghubungi saya, memberitahukan bahwa dia punya bahan yang bagus untuk dijadikan jubah sewaktu dinner. Karena saya suka, dia pun datang ke Bali pada hari pernikahan saya untuk membawakan jubah tersebut,” tambahnya. Menurutnya, Ernesto sangat profesional. “Seluruh keluarga saya sangat berterima kasih. Semua orang kagum padanya yang bela-belain datang ke Bali untuk memastikan bahwa semuanya berjalan dengan sempurna.”

Sarannya untuk Ernesto supaya mempertahankan keunikannya sebagai desainer. “Every designer has their own identity yang menunjukkan keunikan masing-masing, pertahankan itu,” demikian Julie memberikan saran.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)