Goresan Arek Malang Menembus Mancanegara

Bermodal pembelajaran otodidak, Fattah Setiawan menekuni bisnis desain grafis sejak tiga tahun silam. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Juni 1985, ini mempelajari dunia desain grafis sejak di bangku kuliah Jurusan Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang. Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan desain grafis.

Fattah SetiawanFattah terus meningkatkan keahliannya di bidang desain grafis melalui berbagai kontes desain online baik di dalam maupun luar negeri, dan kerap memenanginya. “Dari kompetisi-kompetisi itulah saya belajar banyak tentang tren desain di dunia, cara berkomunikasi dengan klien global. dan masalah pembayaran internasional,” tutur Fattah melalui surat elektronik kepada SWA.

Dari kontes-kontes tersebut, dia sukses meraih klien dari berbagai perusahaan asing, penerbit kakap, serta para agensi desain mancanegara. Belakangan, dia pun mantap berwirausaha dengan mendirikan perusahaan desain sendiri bertitel Orkha Creative.

Lambat laun Fattah sadar, jika ingin bertahan di dunia desain grafis yang sangat kompetitif, dia tidak bisa berjuang sendiri. Karena itu, dia merekrut para desainer muda untuk memperkuat perusahaannya. “Saya menyadari, kemampuan desain saya secara personal akan cepat dikalahkan oleh desainer-desainer muda yang selalu muncul. Karena itu, saya beranikan diri meningkatkan kompetensi ke arah manajerial,” kata Fattah yang kemudian memosisikan diri sebagai direktur kreatif di Orkha. Dengan memiliki banyak desainer muda dalam tim, dia lebih mudah mencapai standar tinggi dalam dunia grafis yang terus berkembang.

Saat awal mendirikan Orkha, Fattah lebih fokus pada jasa desain grafis seperti desain logo, identitas perusahaan, dan tipografi. Keunikan desain Orkha, menurutnya, terletak pada ragam gaya desain yang sangat luas dan fleksibel. Ini dimungkinkan berkat kerja sama para desainer dalam tim Orkha.

Karena itu, Orkha pun tak ragu menerima pesanan desain grafis dari kalangan perusahaan hingga band metal sekalipun. Meski demikian, karena alasan kenyamanan, Fattah mengaku timnya lebih fokus mengerjakan desain untuk korporat ketimbang perseorangan. Lantaran banyak kliennya yang datang dari dunia maya, dia pun tak merasa perlu melengkapi studionya di Jl. Arjuno 3, Malang, dengan papan nama. “Namun apabila ada klien yang hendak berdiskusi tentang kebutuhan desainnya, mereka bisa kapan saja ke studio karena letaknya cukup strategis di pusat Kota Malang,” katanya.

Soal harga, Fattah mengaku tidak memiliki banderol yang baku. Semua terpulang pada aspek kesulitan pesanan, waktu pengerjaan, juga skala bisnis perusahaan yang memesannya. Dengan pola tersebut, Orkha kini memiliki 100 klien yang mayoritas berasal dari luar negeri. Kebanyakan kliennya merupakan usaha kecil dan startup.

Adapun klien terbesar datang dari benua Australia seperti Able Plastic, Citizen Vape, Sleepy Rabbit, dan Martino, serta Inggris Raya seperti Soliddm, Pure optimisation, Tots, dan Nugget Bingo. Orkha pun kini tengah disibukkan oleh pesanan dari berbagai agensi web di Inggris.

Dari dalam negeri, kliennya antara lain Gramedia Pustaka Utama (GPU), khususnya untuk desain sampul novel. “Kami kerja sama dengan Gramedia awalnya karena membantu teman yang novelnya diterbitkan GPU, Fantasy, karangan Novellina Apsari. Hingga akhirnya dikontrak terus oleh GPU untuk mendesain novel penulis lainnya seperti Tereliye, Mira W. dan beberapa penulis best seller luar negeri yang novelnya diterbitkan GPU dalam bahasa Indonesia,” Fattah memaparkan.

Fattah mengaku masih terus fokus mengembangkan kapasitas Orkha. Khususnya di bidang SDM dan manajerial, agar dia mampu menciptakan atmosfer kerja yang nyaman bagi para seniman desain di Orkha sekaligus memunculkan kreasi-kreasi terhebat mereka. “Tantangan lainnya adalah pasar yang belum teredukasi, terutama di dalam negeri. Masyarakat masih terjebak dengan desain gratis yang kebanyakan dari percetakan. Ini yang membuat industri desain grafis di Indonesia tidak pesat berkembang, bahkan banyak desainernya yang harus jualan ke luar negeri. Mungkin, saya termasuk salah satunya. Padahal, desain grafis adalah bidang penting yang mampu menyelesaikan komunikasi visual untuk brand mereka,” ungkapnya.

Ke depan, Fattah bermimpi bisa bekerja sama dengan perusahaan multinasional besar seperti Nike, Apple dan Disney. “Sampai saat itu tiba, kami akan terus berusaha memantaskan diri kami,” katanya tegas.

Ruth Priscilia Angelina, Editor Fiksi GPU, mengatakan, kerja sama pihaknya dengan Orkha memang benar berawal dari sampul novel Fantasy. Sampul tersebut rupanya menarik perhatian sehingga GPU meminta Fattah mengirimkan CV perusahaannya dan membuat beberapa sampul novel lainnya. “Setelah bekerja sama secara lepas selama sekitar enam bulan, dan melihat hasil yang memuaskan kedua belah pihak, akhirnya pada Desember 2014 GPU membuat kontrak dengan Orkha Creative,” tutur Ruth.

Keunggulan Orkha, menurut Ruth, terletak pada kemampuannya menangkap jiwa dari isi buku dan menuangkannya dalam desain sampul yang memukau. “Orkha dapat menggabungkan keinginan si penulis maupun editor dengan inovasi mereka dan menjadikannya sampul baru yang bisa menarik perhatian para pembaca ketika melewati rak-rak buku di toko kami,” ujar Ruth memuji.

Hingga kini, sudah cukup banyak desain sampul novel yang dikerjakan tim Orkha Creative untuk GPU. Beberapa yang terkenal adalah sampul baru untuk tetralogi bestseller karya Ilana Tan, seri Shopaholic karya Sophie Kinsella, juga sampul baru untuk seri TeenLit bestseller Jingga karya Esti Kinasih. “Saran saya, Orkha terus berinovasi, dan lebih berani berkreasi menciptakan tren terbaru,” kata Ruth.(*)

Sri Niken Handayani dan Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Hana Bilqisthi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)