Mahasiswa UNS Berbisnis Burung Paruh Bengkok Beromzet Rp 72 Juta

Bagas Utomo Putro, mahasiswa semester 8 Program Bimbingan dan Konseling di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, merintis bisnis burung Paruh Bengkok sejak Desember 2014. Modal Bagas sebesar Rp 500 ribu untuk mendirikan Philo Parrot yang membudidayakan burung Paruh Bengkok dan menjualnya kepada konsumen. Dia memasarkan Philo Parrot dengan mengikuti pameran dan memasarkannya di internet. “Awalnya saya memelihara burung Paruh Bengkok dan saya latih, kemudian saya upload ketrampilan burung peliharaan tersebut di sosial media, ternyata respon dari teman-teman sangat positif dan saya mulai melihat peluang untuk dijadikan bisnis,” kata Bagas saat dihubungi SWAonline di Surakarta, Kamis (3/8/2017)

Berpijak dari hal itu, Bagas menekuni budidaya burung parrot dan meningkatkan nilai burung peliharaan ini sebagai burung yang jinak dan terlatih. Nilai jual burung yang terlatih bakal melonjak 2-10 kali lipat dari harga normal. Burung ini menarik minat konsumen apabila memiliki aneka macam ketrampilan. “Burung ini bisa dilatih bermacam ketrampilan seperti fly to me, free fly, frisbee game, menabung, berbicara, bermain basket dan lainnya. Jadi tidak seperti memelihara burung yang selama ini kita kenal yang hanya dinikmati dari segi suara dan warnanya, tetapi burung ini lebih interaktif karena bisa melakukan berbagai macam atraksi, bisa diajak  bermain di luar kandang sehingga bisa menjadi sahabat sekaligus hiburan bagi pemilik burung tersebut,” tutur Bagas. Philo Parrot memiliki berbagai macam jenis burung Paruh Bengkok dan produk yang menunjang dalam pemeliharaannya.

Tak heran, burung Paruh Bengkok yang terlatih sangat diminati bagi kalangan pecinta burung. Dalam sebulan, Philo Parrot, menurut Bagas, berhasil mengumpulkan omzet Rp 5-6 juta dari hasil penjualan burung. Jika dipukul rata, maka Bagas dalam setahun bisa menghasilkan omzet Rp 60-72 juta. Konsumen yang dibidik Philo Parrot adalah pecinta burung. “Namun saya juga terus melakukan edukasi pasar agar tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang awam tentang burung pun tertarik untuk memelihara burung Paruh Bengkok yang pintar dan mempunyai tingkah yang lucu,” tukas pria kelahiran Surakarta, 17 April 1993 ini.

Bagas Utomo Putro, pendiri Philo Parrot. (Dokumen : Bagas).

Guna memenuhi permintaan konsumen, Bagas membudidayakan burung Paruh Bengkok dan bermitra dengan peternak burung di Surakarta, Jawa Tengah. Strategi pemasarannya adalah berpartisipasi dalam pameran dan bergabung dengan komunitas burung Paruh Bengkok serta menjual online di Facebook, Instagram atau forum-forum pecinta burung Paruh Bengkok. Jurus pemasaran ini bisa menjangkau konsumen hingga luar negeri. Sayangnya, Bagas kesulitan memasok burung ke manca negara lantaran biaya pengirimannya cukup mahal, yakni sekitar 3-10 kali lipat dari harga jual. “Hal ini yang membuat calon konsumen di luar Indonesia keberatan. Selain itu, ada juga resiko kematian indukan atau anakan yang akan dipanen,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Ke depannya, penerima beasiswa wirausaha mahasiswa dari Mien R. Uno Foundation ini ingin bersinergi dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam untuk menangkarkan burung-burung endemik Indonesia yang terancam punah. “Agar burung-burung Paruh Bengkok khas Indonesia tersebut tidak punah, setelah itu dengan manajemen yang baik saya yakin burung-burung tersebut sangat berpotensi menjadi komoditas ekspor, ingin menjadikan burung-burung ini sebagai sarana edukasi ke anak-anak untuk melatih rasa tanggung jawab, disiplin, empati, kecerdasan natural dan lainnya,” bebernya mengenai impian di masa mendatang. Bagas adalah pecinta burung sejak masa kanak-kanak. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)