Si Juki Pembawa Hoki

Nama lengkapnya Marjuki. Panggilannya Juki. Pemuda yang berasal dari keluarga Betawi ini dikenal sebagai orang yang supercuek, usil, seronok, tak tahu malu dan menyebalkan. Segudang tingkah polahnya tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Kaskus, Instagram sampai Youtube. Panggilan Juki ini juga diartikan sebagai Juru Hoki. Pasalnya, meski menyebalkan, Juki kreatif dan selalu beruntung. Saban bulan, setidaknya Rp 50 juta ia gelontorkan ke kocek “tuannya”, Faza Ibnu Ubaidillah Salman.

Faza Ibnu Ubaidillah Salman

Faza Ibnu Ubaidillah Salman, Founder Pionicon Management

Si Juki adalah karakter fiksi yang diciptakan Faza pada 2011 lewat komik pertamanya, Ngampus!!! Buka-bukaan Aib Mahasiswa. Komik tersebut laris manis. Terlebih, Juki juga muncul di Twitter dan aktif bercuit-cuit dengan gaya khas anak muda yang gokil. Faza, yang akrab disapa Faza Meonk, menciptakan karakter Juki karena termotivasi melahirkan tokoh komik dengan karakter yang berbeda tetapi khas Indonesia. “Saya ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa orang yang aneh ternyata bisa juga diterima, asalkan dia kreatif,” kata Faza yang lebih suka disebut sebagai visual entertainer ketimbang komikus.

Berangkat dari kegelisahannya karena ikon Indonesia yang tak kunjung hadir, Faza yang saat itu menimba ilmu di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara pun membesut karakter Si Juki. Ia tidak mau didikte karakter asing yang sedang tren. Juga, tak mau dibayang-bayangi karakter lokal yang sudah membumi seperti si Unyil, Petruk atau Gareng. “Ketika saya kecil, saya mengonsumsi komik dari Amerika atau Jepang, seperti Doraemon, Donald Duck. Dari dulu saya menunggu, kapan Indonesia memiliki ikon yang sangat kuat dan mendunia,” ungkap kelahiran 23 Agustus 1991 ini.

Ketimbang gundah dalam penantian, Faza memberanikan diri membuat komik dengan judul DKV. “Tujuannya hanya untuk mengejek anak-anak DKV. Di situ gambar saya kan jelek sekali, tetapi banyak yang terhibur dengan cerita yang saya buat,” ujarnya. Respons positif dari teman-temannya di kampus memberi penjelasan kepadanya bahwa ternyata konten yang menarik dan memiliki target yang jelas bisa juga membuat komik disukai.

Faza lalu mengunggah komik DKV di medsos, termasuk Facebook dan forum Kaskus. Ia juga membuat fans page di Facebook yang hanya dalam beberapa bulan mampu meraih 4.000 penggemar. Keberhasilan DKV di jagat maya membuatnya makin percaya diri untuk membawa komik itu ke penerbit. “Ketika saya coba ajukan ke penerbit, penerbit mana pun mau karena mereka merasa, dengan memiliki 4.000 penggemar, pasti ada yang mau beli,” kata Faza yang kemudian memilih Bukune sebagai penerbit komik pertamanya dengan judul Ngampus!!! Buka-bukaan Aib Mahasiswa. Di komik tersebut, karakter Juki sudah ada.

Menurut Syafial Rustama, Pemimpin Redaksi Bukune, pihaknya tertarik karena melihat komik Faza di Kaskus. “Viewer-nya cukup tinggi,” katanya. Komik Si Juki sudah diterbitkan dalam empat buku. Untuk dua buku lainnya, Faza bertindak sebagai kepala proyek. “Faza itu orangnya baik sekali, jadi kami berani untuk investasi cetaknya cukup banyak. Baik, soalnya dia mau mendengarkan dan banyak juga memberi masukan yang bagus, karena dia sangat paham dengan dunia komiknya,” ungkap Syafial. Khusus untuk review buku komik, imbuh dia, semua komik karya Faza bintangnya di atas 4 (dari 5). “Jadi, secara konten baik, karena ceritanya sangat jelas.”
Untuk memopulerkan karakter atau tokoh komiknya, Faza melakukan branding karakter fiksinya. “Saya buat Facebook dan Twitter-nya Juki,” ucapnya. Jagat maya, imbuhnya, adalah ranah yang melambungkan Juki. “Saya memang melihat peluang di komik ini dan saya masuk ketika era medsos tengah booming,” ucapnya lagi. Sukses Si Juki membuat Faza memutuskan fokus menggarap komik tersebut. “Saat lulus kuliah, saya tidak kepikiran bekerja di tempat lain. Di sini saya cukup diapresiasi banyak orang,” tuturnya.

Bagi Faza, dunia komik menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil. Ketika SD, ia sudah membuat komik yang kemudian difotokopi dan dijual kepada teman-temannya. Kecintaannya pada komik mengantarkannya bergabung dengan komunitas komik. “Saya jadi merasa punya perasaaan cinta terhadap komik Indonesia. Dan, bagi kebanyakan anak-anak, komik itu, kalau sudah cinta, akan tetap dikerjakan walaupun tidak menguntungkan. Passionate sekali.”

Menurutnya, keberhasilan Si Juki karena kontennya sangat relevan dengan dunia anak muda. Dan, Si Juki menawarkan komik komedi khas Indonesia yang tidak ditemukan di komik luar. Si Juki menyasar target pembaca pria berusia 17-25 tahun. “Karena, jokes-nya memang agak kasar. Tetapi pada praktiknya, fans yang loyal justru anak-anak yang berusia 13-17 tahun.”

Untuk mempertahankan fans, Faza selalu memperbarui konten di medsos secara gratis. Penggemar Si Juki tidak perlu membayar untuk membaca komik-komik Juki. “Ini adalah strategi saya untuk mengumpulkan penggemar. Dengan setiap hari ada konten gratis dan lucu, mereka akan me-like lalu share ke teman-teman. Ujung-ujungnya, kalau saya sudah memiliki fans, saya bisa menjual produk seperti komik dan merchandise,” paparnya. Setiap peluncuran si Juki, ia membuatkan juga merchandise-nya seperti kaus, pin, topi, gelang dan stiker. “Sebelum terbit, kami juga selalu kampanye agar produk ini laku di pasar.”

Dibanderol Rp 30-50 ribu atau paket bersama merchandise Rp 150-200 ribu, diakui Faza, si Juki menghasilkan sekitar Rp 50 juta setiap bulan. Tarif iklan di medsos untuk satu halaman komik Rp 7-10 juta. “Kalau dicetak lebih mahal, satu halaman bisa mencapai Rp 25 juta karena kami sharing degan penerbit juga,” katanya. Satu komik bisa terjual 20 ribu kopi. Tahun lalu, ada dua komik yang ia terbitkan dan terjual rata-rata 35 ribu kopi. Sampai saat ini, total sudah ada sembilan buku. Tahun ini akan terbit dua judul dengan empat volume. “Ke depan, Si Juki akan masuk ke majalah komik,” ungkap Faza yang di sela-sela kesibukannya membuat komik masih menyempatkan diri mengajar di almamaternya. ”Saya mengajarkan pembuatan karakter dan (cara) memopulerkannya di medsos. Ini adalah mata kuliah baru dan saya yang membuat mata kuliah ini.”

Faza mengaku tidak menemukan kesulitan menjalankan bisnis komiknya. “Karena, strategi yang saya lakukan hampir selalu tepat,” ujarnya. Pengakuannya ini tak berlebihan karena ia mampu menggaet penggemar, bahkan menarik banyak merek untuk beriklan. “Jadi, yang jalan bukan business to customer saja, tetapi juga business to business,” imbuhnya. Beberapa merek yang berhasil digandengnya antara lain Relaxa, Indomie, Chitato, www.reoncomics.com, Mizone, U see TV, Mandiri e-cash, Samsung, Indosat, Simpati, Smartfren, League of Legends, EA Sports, Fifa Online3, Pizza Hut Delivery dan Berniaga.com.

Faza juga mendirikan Pionicon Management dengan mengajak para kreator lokal yang tidak mengerti cara menjualnya. “Saya membantu mereka. Jadi, sekarang, saya bukan hanya me-manage karakter Si Juki, tetapi juga karakter-karakter lainnya,” katanya. Dengan Pionicon, ia mengaku tidak ingin sukses sendiri, tetapi menularkannya kepada kreator lain. Saat ini ia menangani 10 karakter. “Impian saya adalah Indonesia memiliki karakter yang ikonik,” ujarnya.

Faza pun akan mengembangkan bisnis untuk merangkul merek-merek yang memiliki maskot untuk bisa melakukan aktivasi. “Sekarang kami sedang kerja sama dengan KPK yang sedang membuat maskot, dan beberapa brand yang belum bisa saya sebutkan,” katanya. Agar lebih dikenal masyarakat, ia juga akan melakukan variasi media yang digarapnya seperti film, serial animasi dan mobile games. “Targetnya, sebelum 2018 sudah masuk ke movie,” kata Faza yang mencari ide dari topik-topik yang sedang ramai diperbincangkan.

Menurut Syafial, sampai sekarang Faza masih melakukan branding terhadap karakter Juki. “Saran saya, dia tetap melakukan apa yang dia lakukan sekarang. Apalagi, sekarang karakter Juki-nya lagi naik banget. Jangan sampai hanya melakukan hal-hal yang berulang kali dia lakukan, Tetapi, kalau Faza, saya rasa tidak perlu khawatir, karena dia selalu berpikir mau melakukan apa lagi,” katanya.(*)

Henni T. Soelaeman dan Destiwati Sitanggang

Editor : Destiwati Sitanggang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Ekonomi Melambat, Bisnis Cardig Tumbuh Tipis

Cardig International berdiri pada tahun 1973 lewat kiprah para mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Saat itu airport internasional Indonesia...

Close