Yosep Sinudarsono Desainer yang Berkibar di Hollywood

Di panggung bisnis fashion Tanah Air, sosok pria berusia 23 tahun ini boleh dibilang anak bawang. Lulusan Esmod dan Lembaga Tata Busana Susan Budihardjo ini, baru sekitar dua tahun ikut meramaikan belantika mode Indonesia. Namun, rancangannya yang feminin dengan detail rumit yang beraksen manik-manik, bordir dan renda, ternyata tak hanya memincut kalangan sosialita dan artis Tanah Air, selebritas Hollywood pun melirik rancangan Yosep Sinudarsono. Tak tanggung-tanggung, rancangan Yosep dipakai pada perhelatan bergengsi Golden Globe 2015 oleh Terri Seymour dan Malin Akerman.

Yosep Sinudarsono

Aktris Malin Akerman menggunakan gaun hitam beraksen bordir angsa putih dan bunga, serta berbelahan tinggi. Melalui akun Instagramnya, Akerman mengucapkan terima kasih kepada Yosep karena telah membuatnya tampil cantik. Sementara presenter Inggris Terri Seymour menggunakan gaun hitam berpotongan lebar. Busana yang digunakan Seymour disebut-sebut sebagai salah satu busana terbaik.

Bagaimana Yosep bisa “menerbangkan” rancangannya sampai Hollywood? Dia mengaku dihubungi Brooklyn PR, perusahaan agensi di Amerika Serikat. “Mereka melihat Instagram saya, kemudian menghubungi saya,” tutur Yosep. Brooklyn PR sedang mencari talenta baru untuk showroom mereka. Jadilah koleksinya dipamerkan di Brooklyn PR yang mempunyai link para fashion stylist artis Hollywood. “Untuk bisa menembus luar negeri, apalagi Hollywood, kiatnya adalah punya PR di sana. Jika menunggu orang lain lihat, jujur saja susah. Artis Hollywood jarang ada yang mau melihat sampai Indonesia. Jadi, harus ada link dulu di sana,” papar kelahiran Semarang 2 Januari 1992 ini.

Gerbang menuju go international pun telah terbuka bagi Yosep, yang sejak memilih menapaki dunia mode memiliki impian besar menjadi desainer yang diakui secara internasional. Setelah ajang Golden Globe tersebut, permintaan pun meningkat. “Di media langsung boom dan klien pun lebih tertarik kepada saya karena baju saya dikenakan artis Hollywood,” ujar Yosep yang menyukai fashion sejak kecil.

Saat ini, lewat bendera PT Michelindo, Yosep bersama Michelle Surjaputra merilis label busana siap pakai: Lotuz. Sementara untuk gaun couture, ia membesutnya lewat merek Yosep Sinudarsono. Lewat koleksinya yang bernapaskan perempuan itu, ia memang ingin membuat pemakai gaunnya merasa cantik. “Bagi saya, setiap gaun adalah karya seni,” ucapnya seraya menambahkan, gaun memiliki arti puitis dan romantis. Karena itu, detail sangatlah penting. Rancangannya dikenal clean, color blocking dan ada detail kecil, seperti embroidery. “Rancangan saya feminin dengan detail rumit dan bernapaskan Oriental lewat permainan manik-manik, bordir dan renda,” ungkap Yosep yang kerap bepergian guna mendapatkan tekstil terbaik buat rancangannya. Ia juga senang mencari manik-manik untuk dijadikan detail pada setiap rancangannya.

Untuk koleksi ready to wear, ia mematok Rp 1,5-4 juta, sedangkan gaun couture Rp 10-15 juta. Semua finishing dilakukan dengan tangan sehingga klien tidak akan menemukan sisa dedel. “Jadi pakaiannya clean. Untuk detail seperti payet atau embroidery juga dilakukan dengan tangan,” imbuhnya. Untuk pengerjaannya, dari sket awal hingga selesai butuh waktu tiga bulan. Dibantu 6 penjahit, Yosep membuat baju berdasarkan koleksi, misalnya fall/winter, spring/summer. Setiap koleksi ada 40 baju. Inspirasi mode diperoleh dari tempat ia berlibur dan dari majalah.

May, seorang klien Yosep, mengaku menyukai rancangan Yosep karena chick and elegant. “Bisa dipadukan di setiap event. Desain bajunya mempunyai ciri khas sendiri,” katamya. Menurutnya, setiap desain baju Yosep baik yang kasual maupun couture dapat membuat setiap wanita terlihat chick, elegant dan glamour.

Rancangan Yosep selain dipamerkan di butiknya sendiri di kawasan Jakarta Selatan, juga hadir di Central Department Store, Grand Indonesia. Dalam waktu dekat, koleksinya juga bakal memeriahkan Galleries Laffayette di Pacific Place, Jakarta. Koleksinya dipajang pula di butiknya di Hong Kong dan Singapura. “Saya tidak mem-push untuk penjualan di butik saya sendiri karena saya sudah kewalahan memenuhi permintaan dari luar. Takutnya, jika produksinya di-push, kualitasnya jelek,” ucap Yosep yang Agustus nanti akan menggelar show tunggal.

Kebanyakan kliennya berusia 30-50 tahun dan datang dari luar Jakarta. “Mereka benar-benar mencari saya untuk minta dibuatkan baju,” ucapnya. Untuk klien di Jakarta, ia yang harus jemput bola. “Jadi harus ketemuan secara personal dan presentasi,” ungkapnya. Target kliennya adalah kalangan menengah-atas. Artis yang menjadi kliennya antara lain Marissa Nasution dan Pevita Pierce. Dalam sebulan, ia mengaku di kisaran 30-50 baju yang terjual. “Bergantung pada kerajinan saya meng-approach klien. Kalau saya biasa saja, bisa 20-30 baju, kalau saya rajin banget sekitar 50 baju,” ujarnya. Kendala yang ditemuinya selama ini adalah soal tenaga kerja.

Pertemuannya dengan Michelle yang membawa Yosep ke Jakarta. “Saya pertama kali ketemu Michelle di Semarang ketika sedang melakukan fitting baju. Saat itu dia bilang, sebaiknya saya buka di Jakarta karena pasarnya lebih menjanjikan. Saya bilang, jika saya buka sendiri, saya gak bisa handle. Akhirnya, kami memutuskan bekerja sama,” ungkap Yosep yang pertama kali menggelar fashion show di Jakarta pada November 2014. Ia juga melakukan trade show di Hong Kong, New York dan Paris. “Di New York dan Paris, saya membuka booth dan mendapat respons yang bagus sekaligus mendapat klien,” ucapnya. Michelle, imbuh dia, berperan menangani pensponsoran jika ingin mengadakan show. “Ia juga yang mengurus manajemen dan keuangan,” katanya.

Michelle sendiri mengaku “menemukan” Yosep ketika mendesain busana pernikahan temannya. Saat itu, Presdir PT Michellindo ini dibuatkan Yosep gaun bridesmaid. Menurutnya, busana tersebut memiliki cutting dan desain yang menawan. Pengusaha yang memiliki jaringan restoran waralaba Bon Chon dan Sombrero ini pun menawarkan Yosep untuk menjadi desainer brand fashion-nya. Michelle mengaku sejak SMP sudah ingin sekali masuk industri fashion. Semasa menempuh pendidikan di luar negeri, Michelle pernah terlibat dalam industri fashion, yaitu dengan magang pada salah satu event ternama di luar negeri. “Sejak saat itu, saya tidak menjadikan fashion hanya sebagai kelengkapan atau atribut saya, tetapi juga mulai mencintai dan bermimpi terlibat dalam industri fashion suatu saat nanti. Ketika bertemu Yosep, saya merasa dapat mewujudkan mimpi saya itu, sehingga akhirnya setelah melalui pemikiran panjang, saya memutuskan untuk memulai bisnis lain di bidang fashion dan menjadikan Yosep sebagai partner saya,” paparnya.

Michelle melihat, keunggulan rancangan Yosep termasuk dalam kategori simpel dan elegan. “Pattern line pada baju yang didesain Yosep sangat sesuai dengan taste dan curve saya,” ujarnya. Kecocokan inilah yang kemudian membuhulkan kerja sama mereka pada pertengahan 2014.

Ia mengaku saat ini masih fokus bekerja sama dengan Yosep untuk koleksi ready to wear dan couture. “Saya pribadi tidak merencanakan secara khusus sampai kapan bekerja sama dengan Yosep di industri fashion ini, karena saya ingin terus mengembangkan industri fashion Indonesia dengan mengangkat dan melibatkan desainer lokal, yang tentu secara kualitas tidak kalah dari desainer luar yang produknya banyak di pasar Indonesia saat ini,” ungkap Michelle yang memasarkan produk Yosep melalui media sosial, media partner dan mengisi event. “Target kami bisa dikenal di pasar domestik dan internasional,” katanya tandas.

Henni T. Soelaeman

dan Maria Hudaibyah Azzahra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)