Ahmad Alkatiri

Berawal dari hobi menggunakan media sosial untuk komunikasi, Ahmad Alkatiri tidak menyangka hal itu akan membawanya ke dunia kerja. Sejak kuliah, dia memanfaatkan medsos untuk hal-hal personal dan kemasyarakatan. Contoh, menjadi penggerak kampanye digital #IndonesiaUnite untuk perubahan Indonesia lebih baik di pada 2009. Setelah itu, dia mendapat tawaran kerja di perusahaan agensi digital Think Web di Jakarta tahun 2010.

Ahmad AlkatiriKetika bergabung dengan Think Web, Alkatiri dipercaya sebagai project manager untuk digital activation sebuah perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) raksasa. “Pengalaman luar biasa karena berbarengan saya dimentor langsung oleh orang-orang terbaik di dunia digital: Ramya Prajna dan Anantya, para CEO Think Web,” pria kelahiran Ambon, 26 April 1989, itu menuturkan.

Baginya, pengalaman satu tahun di Think Web sudah cukup. Selanjutnya, Alkatiri, yang gemar traveling, mengikuti passion-nya untuk bergabung dengan startup di bidang travel, yaitu Wego.com di tahun 2011. Di Wego, dia diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan menimba ilmu tentang pemasaran digital (digital marketing) hingga ke Asia Pasifik (Singapura, Malaysia, Filipina) dan Timur Tegah. “Saya dimentor langsung oleh Managing Director Wego Indonesia, Graham Hills, dan VP Online Marketing WEGO, Blanca Menchaca,” ujarnya bangga.

Sejak saat itu, Alkatiri semakin yakin pemasaran digital adalah jalan hidupnya. Lalu, dia mulai pelan-pelan belajar dan merambah berbagai pemasaran digital lainnya di luar medsos dan konten, seperti performance marketing dan mobile digital marketing. Dia berkomitmen untuk terus melatih diri menjadi seorang 360 digital marketeer yang mengerti semua aspek pemasaran digital.

Hingga akhirnya dia direkrut oleh Accorhotels tahun 2014 sebagai Manajer Senior Pemasaran Digital untuk Singapura, Indonesia dan Malaysia. Tanggung jawabnya adalah menjalankan pemasaran digital di lebih dari 140 hotel yang dimiliki Accorhotels di tiga negara tersebut.

Lalu, Juli 2015 Alkatiri bergabung dengan e-commerce Shopee. Mengapa pindah ke Shopee? “Saya orang yang suka tantangan dan melihat tantangan sebagai sebuah kesempatan emas untuk bisa belajar. Saya berkomitmen harus bisa keluar dari comfort zone dan mengambil tantangan untuk bekerja di hottest industry saat ini, yaitu e-commerce. Saat itu bukan merupakan keputusan yang mudah, tetapi saya optimistis Shopee memiliki potensi bagus dengan membawa konsep ‘mobile-first social marketplace’ dan ada kesempatan untuk ikut mengembangkan Shopee dari nol,” dia menguraikan alasannya.

Lulusan S-1 Manajemen Bisnis Telkom University itu bertanggung jawab menangani beberapa departemen dalam lingkup strategi akuisisi user dan komunikasi eksternal. Departemen tersebut, antara lain, pemasaran digital, media sosial, kemitraan, public relations dan media buying. Tugasnya, merekrut sebanyak mungkin pengguna Shopee dengan cara yang begitu efisien dan efektif serta meningkatkan brand awareness dan brand trust Shopee di pengguna Indonesia yang potensial.

Bagi Alkatiri, setiap terobosan dan kesuksesan yang diraih Shopee saat ini merupakan hasil team effort, bukan cuma prestasi satu-dua orang. Semua berperan membesarkan Shopee dari nol hingga sekarang sudah membukukan lebih dari 150 ribu transaksi per hari dan 8 juta unduhan hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.

Cita-cita lain yang masih ingin dikejar Alkatiri adalah menjadi seorang 360 marketeer, bukan hanya 360 digital marketeer. Saat ini dia sedang belajar dan mengembangkan pengetahuan dalam pemasaran yang lebih luas, seperti public relations, kemitraan, dan pemasaran tradisional (televisi, radio, koran, majalah, dll).

Eva M. Rahayu/Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Kinerja Kuartal I, Efisiensi Hasilkan Laba bagi Indika Energy

PT Indika Energy Tbk kian gencar melakukan program efisiensi untuk  memulihkan kinerja keuangan. Perseroan dalam empat tahun terakhir ini dibekap...

Close