Andry Huzain

Andry Huzain ~~

“Setiap pagi, setiap hari di Lazada, saya selalu menjadi orang paling tolol. Selalu saja ada hal baru yang saya temui. Itu yang menjadikan saya terus belajar dan belajar di sini,” ujar Andry Huzain, VP Senior Pemasaran Lazada, saat ditemui di kantor Lazada, Gedung Bidakara lantai 16, Jakarta Selatan.

Bagi Andry, berkarier di Lazada sangat dinamis. Tiap hari muncul tantangan baru yang harus dihadapi. Saat ini dia dan tim ditantang manajemen untuk berjualan motor, tetapi hingga sekarang masih bingung mau ditaruh di kategori mana produk itu. Toh, kelahiran Jember 22 Mei 1978 itu percaya bahwa semua barang bisa dijual secara online.

Sebelum bergabung di Lazada, sejatinya Andry sudah berkelana di beberapa perusahaan. Perjalanan kariernya dimulai dari Sisindokom, Grup Indosat, pada 2006 sebagai analis sistem dengan tugas mengurus divisi IT enterprise, accounting & software. Lalu, dia menjajal peruntungan di web Detik tahun 2007. Satu tahun pertama di Detik, dia menjabat product & service development leader. Setelah itu, dipercaya sebagai GM teknologi informasi (TI). Selanjutnya, Mei 2009 dia didapuk sebagai direktur TI.

Ketika merasa “kenyang” di Detik selama lima tahun, Andry tidak terlena dengan comfort zone. Malahan dia mencari tantangan baru untuk ditaklukkan, sehingga dia pindah ke Plasa MSN sebagai chief operating officer (COO). Sejak Maret 2014, lulusan Jurusan Teknologi Informasi ITS Surabaya itu berlabuh di Lazada.

Sepanjang kariernya di Detik hingga Plasa MSN, Andry selalu mengamati dunia TI di Indonesia. Berdasarkan pengamatannya, ujung-ujungnya Internet itu yang menggerakkan mobile. “Keyword di otak saya itu cuma mobile, mobile, mobile, dan mobile. Semuanya harus mobile. And the next big things, untuk segi bisnis bukanlah konten, tapi dagang. Lalu saya sengaja jalan-jalan ke Lazada, menyapa beberapa teman, bertemu dengan CEO-nya. Saya merasa kok jodoh? Cocok. Lalu, saya coba melamar dan sampai sekarang masih di Lazada,” ujarnya mengisahkan.

Meski belum genap setahun di Lazada, Andry sudah menorehkan prestasi. Awal di Lazada, dia menjabat posisi VP mobile commerce. Waktu itu, di Lazada yang menggunakan transaksi via mobile cuma 20%-30%, sehingga dia ditantang lebih fokus lagi menggarap mobile. Hasilnya, kini transaksi mobile di Lazada mencapai 59%.

Dari posisi VP Mobile Commerce Lazada, tiga bulan kemudian, Andry dipromosikan sebagai VP Senior Pemasaran. Tanggung jawabnya memonitor merek dan public relation. Sekarang, Lazada memiliki 14 channel mulai dari Facebook, Twitter, blog dan lainnya. “Alhamdulillah, Lazada juga masuk ke digital perusahaan besar seperti Unilever dan P&G,” tuturnya.

Ke depan, Andry dkk. ingin mengubah stigma bahwa Lazada itu tidak hanya menjual handphone, tetapi juga barang lain. Maklum, dulu poin Lazada dari barang elektronik dengan ujung tombak handphone. Untunglah, dalam perkembangannya, diklaim Andry, konsumen Lazada tidak pernah berkurang. Justru semakin naik, sehingga mereka makin semangat bekerja.

Eva M. Rahayu/Lia A. Martin

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)