Angga Adiperdana

Status PT Semen Indonesia yang merupakan perusahaan nasional dan telah terdaftar di pasar modal, serta memiliki kinerja yang baik membuat Angga Adiperdana tertarik untuk bergabung. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama pada sektor properti dan infrastruktur, merupakan suatu oportunitas bagi keberadaan bisnis Semen Indonesia semakin mengukuhkan niat penyandang gelar sarjana dan magister dari Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya ini untuk mengabdikan diri menjadi karyawan Semen Indonesia. Hasilnya, penyuka olah raga dan fotografi yang saat itu masih menjalani tesis S-2 ini memutuskan cuti dari studinya dan mulai menapaki jenjang karier di BUMN tersebut.

Angga Adiperdana Angga Adiperdana

Karier pria kelahiran Surabaya 7 Mei 1985 ini sebenarnya dimulai dari PT PAL (Persero) sebagai production planning and inventory control tahun 2007. Lalu di 2008 ia bergabung dengan PT Semen Gresik yang saat itu belum berganti nama menjadi PT Semen Indonesia sebagai trainee. Ia pun segera ditempatkan sebagai staf enterprise risk management. Dan, barulah tahun 2012 ia diangkat menjadi Section Strategic & Planning Officer PT Semen Indonesia.

Di posisi ini ia bertugas mengelola risiko pada rencana investasi dan proyek strategis Semen Indonesia. Menurutnya, tantangan yang dihadapi oleh unit manajemen risiko saat ini adalah bagaimana meyakinkan unit kerja lain bahwa manajemen risiko dapat memberikan nilai tambah bagi proses bisnis mereka dan perusahaan. Selain itu, meyakinkan manajemen dan pemegang saham bahwa investasi yang akan dilakukan telah memiliki sistem pengamanan yang terkuantifikasi, dan dengan teridentifikasinya risiko yang ada juga menjadi tantangan tersendiri.

Ia percaya teori yang mengatakan bahwa 80% kinerja dipengaruhi oleh soft skill yang terdiri dari skill interpersonal (keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain) dan skill intrapersonal (keterampilan dalam mengatur diri sendiri), agar dapat mengembangkan kinerja secara maksimal. Semua itu dipadukan dengan 20% hard skill yang terdiri dari kemampuan teknis dan akademis. “Namun tetap saja semua hal tersebut harus dilandasi dengan prinsip kerja keras, disiplin dan integritas,” tutur ayah satu putri ini.

Gustyanita Pratiwi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)