Henry P. Simangunsong

Banyak menghabiskan perjalanan karier di luar negeri, memberikan nilai tambah bagi Henry Pohan Simangunsong sekembali ke Tanah Air. Sebab, pengalaman bekerja di negeri orang itu mampu memberikan perspektif dan cara berpikir yang berbeda. Dengan skill yang komprehensif, Direktur Mitra Asia Pasifik & Pengembangan Bisnis Jongla Oy ini bisa memadukan kebutuhan pasar Indonesia dengan kondisi di mancanegara.

Henry P. Simangunsong Henry P. Simangunsong

Sebelum bergabung dengan Jongla Oy, perusahaan aplikasi pesan sosial berbasis di Finlandia, Henry sempat merintis karier di Telkom. Lalu, menjadi peneliti di Aalto University School of Science and Technology pada 2004-2005. Selanjutnya, bekerja Exiformat (Finlandia) yang bertanggung jawab mengelola pelanggan dan proyek di China dan Swedia. Dari Eropa, Henry pindah haluan kerja di Singapura sebagai Manajer Regional dan Pengembangan Bisnis Webropol selama tiga tahun. Berikutnya, balik kerja ke Finlandia sebagai Internship in Project Operation Thermal Services Business Unit di Alstom Finlandia.

Tahun 2013, Henry mulai bergabung dengan Jongla Oy. “Sebelumnya, saya di Jongla Finlandia. Tapi, karena sedang membuka pasar di sini, saya ditempatkan di Indonesia,” tutur lulusan cum laude S-1 Jurusan Teknologi Informasi Universitas Indonesia, yang memiliki dua gelar master dari universitas negeri ini.

Ditunjuk sebagai orang yang memegang Jongla wilayah Asia Pasifik, ayah satu anak ini mempunyai tanggung jawab cukup besar, karena harus membesarkan Jongla di tengah kondisi persaingan sangat ketat antaraplikasi pesan. Targetnya, tahun depan Jongla bisa menjadi top four aplikasi pesan yang diunduh di Indonesia.

Beberapa terobosan ditelurkan tim Henry untuk mencuri perhatian pasar Indonesia. Salah satunya, memperkenalkan stiker seri Punakawan, tokoh pewayangan yang lucu. Pesan Jongla juga diklaim sangat ringan, tidak berat di ponsel yang selama ini dikeluhkan kebanyakan aplikasi pesan. “Bisa dibilang Jongla adalah the litest instant messenger in the world dengan kapasitas hanya 2,7 MB, dibanding WhatsApp 17 MB lebih, WeChat dan Line yang di atas 20 MB,” Henry mengungkapkan.

Melihat kelemahan kompetitor ini, Jongla hendak menggunakannya sebagai keunggulan kompetitif. Maklum, saat ini pengguna aplikasi pesan gratis terus berkembang. Bagaimana membuat Jongla lebih dikenal, maka dirangkullah komunitas untuk meningkatkan awareness, yakni channel Comate, dan fans club CJR.

Menurutnya, kini ada 8% dari 3 juta user Indonesia yang mengunduh aplikasi pesan Jongla. Daya tariknya, Jongla membawa sesuatu yang baru dalam berkirim pesan gratis ini. Lite, fun factor dan sound candy, menurut Henry, akan menjadi andalannya dalam kompetisi ini. Itulah sebabnya diluncurkan stiker lucu, pesan suara yang bisa diubah-ubah, bahkan ada yang bisa dibuat seperti tokoh Chipmunk, Policeman dan Yeti, serta pesan video dan terobosan lain yang aplikasinya ringan.

Eva M. Rahayu/Herning Banirestu

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)