Ignatius Ivan Janatra

Ignatius Ivan Janatra , Software Engineer Google

Di era digital ini, Google menjadi perusahaan idaman generasi milenial. Termasuk, Ignatius Ivan Janatra. Cukup lama Ivan mendambakan bekerja di Google, sampai akhirnya terwujud. Ia dipercaya sebagai Software Engineer Google yang fokus pada kualitas video YouTube.

Sebelum di Google, Ivan pernah bekerja di Intel (2008-2014) dan Microsoft (2015-2016). Kantor Intel, Microsoft, dan Google sama-sama berlokasi di California, Amerika Serikat. Kebetulan, ia tinggal di AS sejak kuliah di Jurusan Teknik Elektro Stanford University (2004-2008). Seteleh menyelesaikan empat tahun kuliah, ia mendapat gelar bachelor dan master secara bersamaan berkat program khusus yang diambilnya.

Bagi Ivan, spesifikasi ilmu audio dan video yang ditekuni saat kuliah sangat berguna di Google. Menurutnya, Google memiliki suasana kerja yang tidak kaku serta tidak terpaku pada hierarki perusahaan. “Jadi, di Google ini saya punya manajer, tapi peran manajer bukan sebagai atasan yang kerjanya cuma satu arah memberi tugas. Namun, justru selalu mengajak komunikasi dua arah supaya saya tahu bidang apa yang cocok dan proyek apa yang dapat saya optimalkan dalam bekerja,” pria kelahiran Jakarta, 20 Juni 1987, ini menuturkan.

Tugas dan tanggungjawab Ivan adalah memastikan kualitas video YouTube selalu bagus. Dalam arti, kualitas video selalu high definition dan tidak terlalu lama buffering walaupun diakses di penjuru dunia mana pun. Maklum, kualitas video YouTube termasuk prioritas besar di Google walaupun mungkin oleh pengguna YouTube dianggap biasa saja. “Kami juga memantau jam-jam penggunaan YouTube dan konten apa saja yang ditonton pada jam tersebut. Kami dibantu Artificial Intelligence dalam memilih video rekomendasi dari setiap pengguna YouTube,” kata Ivan yang membawahkan 15 orang dalam tim.

Menurut Ivan, timnya banyak bekerja di fitur video 360. Jadi, pihaknya berupaya terus mengembangkan teknologi tersebut dari segi audio, video, dan kemudahan akses. Bahkan, sampai cost juga harus diperhatikan.. Mungkin hal-hal seperti itu dari sisi konsumen kurang kelihatan perubahannya. Namun, bagi Google, perubahan sekecil apa pun selalu berpengaruh besar pada biaya.

Tantangan pekerjaan yang dihadapi Ivan antara lain soal software engineering; timnya ditugaskan meningkatkan kualitas YouTube, sementara mereka tidak diberitahu komponen apanya yang harus ditingkatkan. Entah ada masalah pada kualitas video, audio, ataukah pada komponen lain. Sehingga, penyelesaian masalah pun memakan waktu yang lama. Semakin variatif fitur yang dikeluarkan Google, semakin abstrak juga solusi permasalahannya.

Ivan bercerita, ada keunikan Key Performance Indicators Google yang harus dipenuhi jika ingin naik jabatan. Umumnya di perusahaan lain, jika naik jabatan, manajer memiliki wewenang meningkatkan level. Akan tetapi, di Google sistemnya berbeda. “Saya harus membuat portofolio pekerjaan sebanyak-banyaknya. Misalnya, tahun ini saya melakukan terobosan yang memberikan benefit pada Google sehingga mampu menghemat beberapa juta dolar AS, mendapat lebih banyak customer, dan lain-lain, maka portofolio prestasi inilah yang menentukan apakah saya layak naik level atau tidak. Jadi, bukan ditentukan oleh atasan,” ia memaparkan. (*)

Eva M.Rahayu/Andi Hana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)