Indra Yonathan

Indra Yonathan

Tidak banyak yang tahu bahwa pencapaian Indra Yonathan hingga sekarang menjadi Co-founder & Country Head of Shopback Indonesia diraih dengan perjalanan berliku. Sebelumnya, ia pernah bekerja serabutan sebagai pelayan, petugas cleaning service, pembuka pintu di hotel, pencuci piring, hingga staf teknologi informasi (TI) kampus.

Berbagai pekerjaan itu dilakoni Indra saat masih kuliah di Liaoning Normal University, China, dan ketika awal merantau di Amerika Serikat setelah tamat kuliah. Malangnya, saat itu AS sedang mengalami krisis moneter, sehingga banyak terjadi PHK. “Bahkan, waktu itu saya mengirim 70-80 surat lamaran kerja, tapi hanya satu perusahaan yang memanggil saya. Itu pun mereka melakukan wawancara telepon,” ujar Indra mengenang masa sulitnya.

Namun, ia tidak pernah putus asa, semua pekerjaan yang menurutnya bermanfaat akan dijalani. “Hal tersebut membuat saya selalu bersyukur, karena saya percaya Tuhan telah memberikan rezeki kepada umatnya jika mau berusaha,” kata pria yang mengambil dua jurusan kuliah, pemasaran dan ekosistem komputer, itu.

Tidak lama di AS, Indra menyadari bahwa bertahan bekerja di sana tidak membuatnya berkembang. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Indonesia dan berkontribusi penuh untuk perkembangan Tanah Air yang ia cintai ini.

Setiba di Indonesia, ia tidak langsung berlabuh di ShopBack. Ia sempat melanglang ke beberapa perusahaan di Indonesia, terutama di industri perdagangan elektronik. Ia pernah menjabat sebagai Vice President Strategic Marketing Lazada pada 2015. Di tahun yang sama, ia pun dipercaya menjadi Ketua Komite Hari Belanja Online Nasional. Juga, pernah menjadi Head of Strategic Business Development Spice Group. Di sana, ia memimpin proyek peluncuran Google Nexian Android One.

Sebagai Co-founder & Country Head of Shopback Indonesia, Indra bertanggung jawab atas keberlangsungan Shopback di Indonesia. Tidak hanya dalam pertumbuhan bisnis, tetapi juga pengembangan potensi tim. “Kami berada di industri yang dinamis, sehingga speed nomor satu dan creativity is overated. Karena, apa pun yang kita ciptakan bisa ditiru orang. Pertanyaannya, siapa yang bisa mengeksekusi ide itu dengan efisien dan efektif,” ujar eksekutif kelahiran 26 November 1986 itu.

Tantangan yang dihadapi Indra: nama Shopback masih awam bagi telinga orang Indonesia. Untuk itu, pihaknya aktif mengedukasi masyarakat mengenai apa itu ShopBack. Walaupun akan banyak benefit yang didapatkan masyarakat jika menggunakan ShopBack, jika mereka tidak mengerti cara kerjanya, tetap saja ini akan menjadi pekerjaan rumah Indra dan timnya.

Indra menjelaskan, ShopBack adalah platform gaya hidup yang membuat masyarakat dapat berbelanja lebih hemat dan cermat. Sebab, sistemnya mengumpulkan berbagai penawaran terbaik dari setiap e-commerce supaya konsumen bisa mendapatkan harga terbaik dari mitra Shopback. “Jadi, dengan cashback yang kami berikan, konsumen bisa belanja sambil menabung pada saat yang bersamaan,” dia menguraikan.

Bermarkas di Singapura, kini Shopback telah ekspansi ke tujuh negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Australia. Selama lebih dari dua tahun beroperasi di Indonesia (sejak Maret 2016), tentunya banyak hal yang telah dilalui. Tantangan bisnis justru dianggap sebagai peluang untuk mengembangkan Shopback Indonesia. (*)

Eva M. Rahayu/Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)