Melisa Irene

Mengawali karier dengan magang di East Ventures sembari menyelesaikan skripsi tidak membuat Melisa Irene berkecil hati. Ia justru terpacu belajar lebih giat hingga menyelesaikan S-1 Akuntansi, Universitas Binus International, Jakarta. Dan, Melisa tidak menyangka kariernya terus melesat. Kini ia tercatat sebagai partner termuda di East Ventures.

East Ventures adalah perusahaan investasi yang fokus pada pendanaan usaha tahap awal (early stage startup). Sejauh ini East Ventures memiliki portofolio aktif di enam negara, yaitu Indonesia, Jepang, Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Sementara di skala global, East Ventures aktif mendanai lebih dari 150 perusahaan seluruh Asia dan AS. Fokus pendanaannya pada perusahaan rintisan yang bergerak di bidang terkait e-commerce, social, game, mobile services, dll.

Melisa bergabung dengan East Ventures sejak 2015 sebagai associates dan berhasil membuat berbagai keputusan investasi untuk perusahaan. Hanya dalam waktu tiga tahun, jabatan wanita kelahiran 18 Januari ini berhasil naik menjadi principal, sampai akhirnya dipromosikan menjadi partner wanita pertama dan termuda di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Alasan Melisa bekerja di perusahaan modal ventura: ingin selalu menyaksikan dan mengambil bagian dalam era transformasi digital Indonesia. “Bersama East Ventures, tiap hari adalah kesempatan belajar baru karena kami selalu bertaruh pada para founder muda (startup) yang kebanyakan dari mereka memang baru pertama kali membangun ekosistem teknologi di Indonesia,” kata eksekutif wanita yang pernah bekerja di P&G Indonesia ini.

Bagi Melisa, jabatan yang diembannya adalah kepercayaan yang diberikan perusahaan. Ia berharap dapat mendukung tim lebih baik lagi untuk melaksanakan misi East Ventures dalam memajukan ekosistem digital Indonesia.

Diakuinya, budaya kerja East Ventures berhasil membangun dirinya lebih baik. Nilai-nilai kerja itu antara lain kompetitif, cepat tanggap, saling percaya, dan punya integritas. “Kami selalu dikenal dengan kerja cepat. Jika ada deal, kami yang pertama bisa goal. Bagaimana kami bisa jadi yang terbaik soal portofolio adalah harus kompetitif. Selain itu, kecepatan adalah kunci penting. Semua orang di kantor harus cepat tanggap,” ungkap dia.

Lalu, personel East Ventures dituntut memiliki empati besar. Hubungan East Ventures dengan founder perusahaan startup itu dasarnya kepercayaan. “Jadi, kami menaruh kepercayaan sebagai hubungan bisnis. Kami selalu dipaksa untuk berpikir dari angle para founder. Misalnya, ketika kami bekerjasama dengan founder, kami harus menyamakan visinya dulu,” kata Melisa menguraikan.

Nilai yang tak kalah penting adalah integritas. “Kami berusaha bergerak secepatnya, tapi kami juga berusaha mengatur ekspektasi. Kami harus berusaha menjaga janji untuk menepati kepada founder startup,” tutur Melisa meyakinkan.

Ia menjelaskan, sebelum memutuskan berinvestasi ke startup, tim East Ventures mempelajari profil perusahaan rintisan tersebut. Setelah melakukan penilaian terhadap orangnya, dilanjutkan dengan penilaian terhadap pasar sektor industri tersebut dengan beberapa analisis kuantitatif untuk memvalidasi apakan benar pasarnya bagus atau tidak.

Setelah itu, seiring berjalannya waktu, langkah tim East Ventures lebih ke arah menjaga perusahaan yang sudah disuntik dana investasi. Jadi, bagaimana tumbuh bersama perusahaan rintisan yang didanai tersebut. Mulai dari bagaimana memonitor perusahaan dan apa yang bisa dibantu dalam pengembangan bisnis.

Melisa mengaku masih enjoy dengan dunia modal ventura sekarang. “Ke depan, PR saya masih banyak. Mungkin, kelak saya akan beralih kerja sendiri dan bagaimana membuat orang lain bisa melakukan pekerjaannya dan mencari opportunity, sehingga perusahaan makin berkembang,” ucapnya.

Eva M. Rahayu/Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)