Picarnella Dewi

Ayah Picarnella Dewi sebenarnya ingin anaknya menjadi insinyur. Namun, Lala, demikian Picarnella biasa disapa, malah kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Kariernya pun dimulai di bidang komunikasi, yaitu di bagian public relations sebuah hotel dan Komunikasi Pemasaran Hard Rock Radio Bandung. Namun, setelah lulus S-2 dari Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung, Lala beralih ke industri elektronik. Ia sempat bekerja di Philips selama hampir lima tahun, sebelum akhirnya bergabung dengan PT ABB Sakti Industri sebagai Manajer Penjualan – Ritel, produk voltase rendah, ABB untuk wilayah Indonesia tengah sejak 1,5 tahun lalu. “Maka, kini dengan bangga saya katakan bahwa saya dapat menjadi apa yang ayah saya inginkan,” wanita kelahiran 16 Maret 1983 ini mengungkapkan.

Picarnella Dewi ~~

Pindah ke PT ABB Sakti Industri adalah lompatan karier yang cukup besar bagi Lala. Dialah yang harus membuka jalan bagi bisnis ABB. Dalam waktu dua bulan, Lala berhasil merekrut delapan distributor. Penjualan ABB pun mampu tumbuh hingga 400%. “Itu karena relasi saya yang saya bawa dari perusahaan sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, Lala juga membuat sebuah terobosan besar dengan mengubah pola pikir perusahaan yang biasanya ‘bermain’ dengan proyek atau pasar B2B, agar mau percaya dengan dengan konsep ritel. Ia pun tak segan menghabiskan 70% waktunya di luar kantor, atau tepatnya di pasar, agar selalu bisa menciptakan inovasi. “Salah satu cara untuk mempercepat inovasi itu adalah dekat dengan sumbernya. Customer nomor 1 kami adalah distributor, dan yang ke-2 adalah toko-toko. Pembicaraan yang saya lakukan dengan pemilik toko itulah yang bisa menjadi proposal yang sangat brilian,” tutur penyuka kopi dan traveling ini.

Cita-citanya saat ini adalah mengembangkan bisnis ritel ABB hingga dapat menjadi pemain yang kuat di Indonesia. Setidaknya, hingga lima tahun ke depan Lala berencana tetap menekuni industri elektronik. ”Saya tidak pernah me-nyeting cita-cita terlalu panjang, yang penting realistis,” ia menandaskan.

Lala mengaku bisa saja dirinya pindah ke industri lain jika suatu saat ia merasa tidak bisa berkembang lagi di industri ini. Karena, meskipun SDM wanita yang berpengalaman di industri elektronik terbilang jarang dan kebutuhan SDM berpengalaman di bidang ini terbilang tinggi, ia adalah tipe orang yang tidak ingin terbuai di zona nyaman.

Destiwati Sitanggang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)