Rifki Pratomo

Rifki Pratomo ~~

Biasanya hobi seseorang itu sifatnya rileks. Namun, hobi Rifki Pratomo justru terbilang berat, yakni membaca laporan tahunan berbagai perusahaan dan berinvestasi. Tidakkah kebiasaan ini malah menyebabkan stres? “Tidak. Ke depan, saya ingin memperbesar investasi dan ilmu di pasar saham, serta tetap menjadi profesional. Sebab investasi saham tidak mengganggu pekerjaan utama saya,” ujar pria yang mengidolakan tokoh Warren Buffett dan Lo Khe Hong tentang alasan hobinya itu.

Hobi Rifki tersebut dilakoni ketika ada waktu luang di tengah kesibukannya sebagai Country Finance Manager PT Shell Indonesia. Di perusahaan multinasional itu dia bertugas di bagian rantai pasokan atau logistiknya, sehingga dia bertanggung jawab mengelola keuangan untuk seluruh operasional bagian pelumas yang tersebar di seluruh Indonesia. Maklum, Shell memiliki beberapa bisnis, seperti pelumas, SPBU, aspal dan commercial view yang dipasarkan ke korporasi.

Sejak bergabung di Shell tahun 2014, Rifki mengaku menghadapi banyak tantangan. Ini disebabkan Shell memiliki beberapa pemangku kepentingan, sehingga tidak mudah membuat sebuah keputusan, karena segala sesuatunya perlu komunikasi dan negosiasi. “Inilah yang menjadi salah satu tantangan yang menarik, bagaimana merangkul banyaknya stakeholder tersebut untuk memiliki visi dan goal yang sama. Sistem operasionalnya Shell yang agak kompleks, membuat saya juga harus mengerti end to end bisnis ini. Karena saya bertugas di divisi finance, tidak hanya reporting, tetapi juga harus memberikan rekomendasi keputusan apa yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga saya harus mengerti celah-celah bisnis di Shell,” kelahiran Sumatera 22 Juli 1989 ini menguraikan.

Untuk menghadapi tantangan kerja itu, Rifki berprinsip sesuai dengan petuah dosennya saat kuliah, Getting the right people on the bus. Baginya, ungkapan itu berarti besar manakala dia harus mencari si right people dengan cara mengidentifikasi pemangku kepentingan mana saja yang memiliki visi yang sama. Ketika right people sudah ditemukan, barulah dia merangkul dan melakukan sharing tentang visi Shell.

Menurut saya, jika memiliki ide bagus dan berbicara dengan orang yang salah, tidak akan menghasilkan apa-apa. Demikian halnya, bila memiliki ide yang salah, kemudian berbicara dengan orang yang benar, juga tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka, menemukan orang yang tepat untuk mewujudkan ide yang bagus adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan sebuah inovasi yang bagus,” papar eksekutif yang pernah meraih beasiswa dari Ratu Qatar HH Sheikha Mozah binti Nasser Al Missned itu.

Guna meningkatkan skill dan kompetensinya, Rifki rajin membaca berita di mana saja dan kapan saja. Dengan membaca berita, dirinya tidak hanya mendapat pengetahuan tentang finance, tetapi juga pengetahuan lain, seperti industri, ritel, keuangan dan bisnis lain, sehingga dia dapat belajar otodidak dalam segala hal.

Diceritakannya, tahun 2010 dia berhasil mendapatkan gelar sarjana Administrasi Bisnis dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat. Setelah itu, Rifki memutuskan pulang ke Indonesia dan mendapat tawaran kerja di Shell, Citibank dan BII Maybank. Di saat yang sama dia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan master dari University of Manchester dan Imperial College, London. Setelah melakukan beberapa pertimbangan, Rifki memutuskan untuk mencoba memulai kariernya di BII Maybank sebagai management associate trainee. Lalu, awal tahun 2014, dia menerima tawaran sebagai Country Finance Manager PT Shell Indonesia.

Eva M. Rahayu/Istihanah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)