Roan Y. Anprira, Sosok Kreatif di Balik Layar Kaca

Persaingan di industri stasiun televisi Indonesia kian seru. Di Jakarta saja sudah terdapat 15 stasiun televisi yang mengudara setiap hari. Belum lagi, stasiun teve yang masuk jaringan saluran berbayar. Di kancah nasional, menurut data Dewan Pers, pada 2014 jumlah total stasiun teve di negeri ini mencapai 394 stasiun.

Dampaknya, persaingan berebut kue iklan tambah sengit. Jualan aneka program kreatif pun digencarkan. Karena, program acara adalah senjata utama stasiun teve untuk membidik iklan yang menghidupi bisnis mereka. Kondisi itu memicu pencarian sosok-sosok kreatif yang mampu menelurkan ide program yang diminati banyak orang. Di kancah kreatif inilah antara lain muncul nama Roan Y. Anprira, salah satu sosok kreatif di balik sukses sejumlah program di Trans TV dan, kini Net TV, pelabuhan barunya sejak 2012.

Roan Y. Anprira, VP Produksi dan Pemrograman Net TV Roan Y. Anprira, VP Produksi dan Pemrograman Net TV

Wujud ide kreatif Roan di Trans TV di antaranya Yuk Sahur Yuk, program variety show saat waktu sahur di bulan Ramadan. Saat itu Roan dan tim menggandeng grup lawak Bagito dan Patrio untuk berkolaborasi. Acara ini sukses besar membetot perhatian orang yang sedang sahur, iklan pun membanjir. Format serupa akhirnya ramai-ramai dijiplak stasiun televisi lainnya.

Demikian pula saat Roan hijrah ke Net TV dan kini menjabat VP Produksi dan Pemrograman. Sejumlah ide kreatif kembali ditelurkannya seperti program komedi situasi OK-Jek, yang dengan tangkas menunggangi fenomena ojek online yang tengah marak di Jakarta.

Ditemui di kantor Net TV di Gedung The East, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Roan mengisahkan perjalanan yang membentuk kematangannya dalam berkreasi, termasuk kunci suksesnya menelurkan berbagai program kreatif. Sarjana Administrasi Negara lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung, itu menuturkan, ia bersentuhan pertama kali dengan industri televisi saat masih menjadi pemain band ketika masih kuliah. Bandnya kala itu mendapat kesempatan manggung di acara Saran, Aksi dan Visi  (Saksi) di Indosiar. Saat itulah dirinya bertemu dengan salah satu pentolan bagian produksi di pertelevisian Indonesia, Wishnutama Kusubandio, yang kerap disapa Tama.

Seolah berjodoh, belakangan setelah lulus kuliah, Roan bertemu kembali dengan Tama di Kemang, lagi-lagi saat dirinya tengah pentas dengan bandnya. Saat itu Roan memberanikan diri menyuarakan minatnya untuk berkarier di stasiun televisi. Tama yang sudah pindah ke Trans TV itu pun menyambut baik.

Meski demikian, Roan diharuskan ikut seleksi standar kepegawaian Trans TV, yang kemudian berhasil dilewatinya. Sebagaimana Tama saat awal berkarier di dunia televisi, Roan pun memulai dari bawah sebagai management trainee, alias anak magang di bagian produksi. Baru beberapa bulan bergabung, Roan ternyata galau. Pasalnya, ia merasa penghasilannya tak sebanding dengan kerja kerasnya, berbeda dari saat dirinya bermusik. “Tiga bulan pertama saya jetlag, kerja hampir 24 jam. Di band, cuma 2 atau 3 jam, dapat uang. Income per bulan saya waktu itu tidak sebesar main band. Saya yang lulusan baru, gaji juga tidak gede, uang berkurang,” katanya blak-blakan.

Selama tiga bulan pertama, ia merasakan konflik batin, antara meneruskan karier di televisi atau kembali bermusik. Ia memilih bertahan. Sejumlah ide kreatif berhasil ditelurkannya, seperti itu tadi, Yuk Sahur Yuk. Roan juga berhasil membuktikan kehebatannya kala diberi kepercayaan menjalankan program-program spesial Trans TV seperti saat merayakan hari ulang tahun Trans Corp, induk Trans TV. “Ya, lonjakan karier saya terlihat jelas setelah saya sukses me-lead acara 100 Tahun Kebangkitan di Gelora Bung Karno dan ditayangkan di semua teve pada 2008,” katanya mengenang.

Kesuksesan acara itu berhasil melejitkan kariernya yang baru empat bulan menjabat produser eksekutif, hingga kembali naik pangkat menjadi manajer. Hebatnya lagi, tak berapa lama kemudian, ia diangkat menjadi VP Produksi dan Pemrograman.

Roan mengaku, salah satu kunci suksesnya berkat gemblengan bosnya, Wishnutama. Tempaan keras yang diberikan Tama membentuk jiwa kreatif Roan. “Karier saya saat ini tidak lepas dari Wishnutama, hampir 15 tahun karier saya digembleng beliau,” ungkapnya.

Awal berkarier, Tama paling kencang melecut Roan. Termasuk, memberi ruang kepercayaan untuk menelurkan ide-ide kreatif. “Saya lama-lama jatuh cinta, mulai melontarkan ide-ide, usulan-usulan: kalau dikasih ini, lucu nih; kalau ditambah ini, acaranya asyik nih,” ujarnya.

Roan menuturkan, setiap ide yang ia gelontorkan merupakan kombinasi dari imajinasi, buku, hingga konser-konser di luar negeri yang ia tonton melalui VCD. Tak jarang, sejumlah ide dipetiknya dari hasil mengamati tren di masyarakat dan media sosial. Contohnya, program komedi situasi (sitkom) OK-Jek yang dibesutnya setelah di Net TV. Inspirasi sitkom yang dibintangi Oka Antara ini diperoleh dari celoteh pengguna medsos. “Saat itu saya sedang jalan ke Bali dan membaca beberapa posting di media sosial tentang testimoni pengguna ojek online, ternyata banyak cerita menarik. Karena ini sedang hip, sepulang dari Bali saya dan tim segera mewujudkan ide tersebut,” paparnya.

Performa OK-Jek diklaimnya cukup baik. Bahkan, dari rencana awal 30 menit, akhirnya ditambah hingga 1 jam demi mengurangi durasi iklan yang tayang di setiap jeda komersial. Begitu pula saat ia berhasil menerjemahkan keinginan Tama ke dalam acara The Remix, program kontes disc jockey yang dipadu dengan nyanyian dan tarian. “Iklannya sampai antre,” Roan mengklaim.

Tak hanya menelurkan program baru. Program yang telah ada pun berupaya diperbaiki tampilannya agar lebih bisa diterima segmen Net TV yang menyasar kelas menengah. Seperti di program bincang-bincang komedi Ini Talkshow yang menghadirkan bintang utama komedian Sule, Andre Taulani dan Parto Patrio. Lantaran melihat kecenderungan acara lawak yang suka mem-bully, Roan menerapkan sistem denda Rp 5.000 untuk setiap pengisi acara Ini Talkshow yang ketahuan merundung orang lain.

Positioning acara lawak tersebut juga dinaikkan kelasnya ke segmen A-B, sesuai dengan segmen sasaran yang diminati pengiklan. Untuk itu, ia mengemas tampilan bintang tamu hingga desain panggungnya. “Tampilan dan detail rumah, setnya dibuat kelas atas, hingga ke dapurnya. Sule juga dinaikkan kelasnya dengan tampilan jas dan wig. Tetapi, sosok Sule itu bisa terjual hingga ke bawah dan advertiser juga. Pemilihan konsep program itu saya pikirin semua,” katanya menjelaskan. Lagi-lagi, program Ini Talkshow sukses.

Meski telah meraih sukses, Roan masih ingin berkarya di Net TV meskipun tawaran dari pihak lain banyak menghampiri. “Masih banyak ruang kreasi yang bisa saya garap,” katanya diplomatis. Ia mengaku bukan tipe orang yang memikirkan kenaikan karier, melainkan kesempurnaan hasil pekerjaannya. Ia meyakini ketika pekerjaan bisa dikerjakan dengan sempurna, kepercayaan akan mengalir bertambah dari para pemimpinnya.  “Target saya ke depan, program saya bisa dinikmati di seluruh dunia. Sedang mengarah ke sana,” ujar pria yang kini memimpin 350 anak buah itu.

Tama mengakui prestasi anak buahnya itu. Ia bersyukur telah menempa Roan dengan cukup keras. “Roan sangat saya kerasin, soal visual, konsep. Tanpa perlu banyak bicara, dia sudah paham, dia mampu menerjemahkan dan mengeksekusi,” kata Tama.

Roan pun kini dinilainya telah mulai matang hingga mampu menelurkan konsep kreatifnya sendiri. “OK-Jek salah satunya, yang merupakan ide utamanya, juga The Comment,” ungkap Tama.

Berhubung kini Roan telah memiliki tim sendiri, Tama pun turut memberikan saran. Sebagai pemimpin, Roan disarankan agar tak lupa memantau tugasnya hingga ke aspek terkecil. “Tidak mudah me-manage detail, harus rajin random check, apalagi semua available di YouTube. Kalau saya, senang cek. Saya juga rajin me-review laporan, e-mail masukan. Itu harus lebih dia perhatikan,” kata Tama.(*)

Herning Banirestu dan Eddy Dwinanto Iskandar

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)