Stephanus Widjanarko

Stephanus Widjanarko ~~

Kebiasaan sang ayah yang gemar menonton balapan F1 menginspirasi Stephanus Widjanarko untuk serius meniti karier di dunia F1. Tidak heran, pria kelahiran Bandung 24 Mei 1986 itu, begitu lulus kuliah bekerja di tim Scuderia Toro Rosso, tim junior F1 dari Red Bull Racing dengan jabatan Computational Fluid Dynamics (CFD) Aerodynamicist.

“Ini merupakan salah satu mimpi dan cita-cita saya. F1 sebagian besar dipengaruhi oleh papa dan om-om saya yang penggemar F1. Papa jarang sekali ketinggalan nonton race sejak beliau kuliah. Saya jadi ketularan dan berpikir sepertinya menarik kalau bekerja di F1,” ujar Sarjana Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung dan Master of Engineering Fluid Dynamics/Sustainable Energy Technology Universiteit Twente, Belanda ini.

Sejak Mei 2013, Stephanus bergabung dengan Toro Rosso di bagian front end. Dia dan timnya bertanggung jawab pada pengembangan front wing, nose, front corner (tyre shield, brake duct), front suspension dan forward board. Pada dasarnya, mereka bertanggung jawab untuk studi konseptual, yang biasanya menggunakan alat bantu CFD. Kemudian dites di wind tunnel guna memastikan kualitas model dan proses pengujian berjalan dengan baik. Juga, memastikan bahwa produk yang dibuat sesuai dengan design constraint dari full scale.

Selama lebih dari setahun bergabung dalam tim, Stephanus memberikan sentuhan yang berbeda pada mobil F1 Toro Rosso. Salah satunya, mobilnya banyak yang berubah dan memiliki karakter yang lebih baik dibanding mobil sebelumnya. Proses studi konseptual sampai pengujian di wind tunnel juga menjadi lebih lancar. “Namun saya rasa tidak pantas kalau saya klaim ini sebagai prestasi saya pribadi. Banyak sekali pihak yang terlibat di dalamnya baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar pehobi tenis, renang, foto, musik, dan jalan-jalan ini.

Kendati harus jauh dari keluarga dan teman-teman, Stephanus merasa tertantang dengan dunia fluid dynamics, karena kerap menemukan masalah fluid dynamics yang tidak memiliki solusi secara eksak. Tantangan lain, secara teknis, dihadapkan pada masalah dimana push button technology yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Dan, pengetahuan F1 Aero sangat sulit untuk didapat di literatur. Peraturan yang terus berubah juga menimbulkan kesulitan untuk mempunyai best practice. Maka, harus terus aktif mencari ide baru dan kritis terhadap data yang sangat terbatas dari alat bantu yang digunakan untuk mengembangkan mobil.

Untuk tantangan nonteknis, Stephanus banyak bertemu dan bekerja dengan orang dari berbagai negara. Penyampaian pendapat, pendekatan atas masalah, penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan berbeda untuk tiap-tiap kultur yang dihadapi. Untuk mengatasi masalah itu, dia selalu mengembalikan ke hal dasar: good human being, jaga etika kerja dan nilai-nilai kultur Indonesia yang dihargai di dunia luar.

Hingga kini, ia merasa bersyukur atas semua yang telah dicapai. Namun, semuanya tentu tidak berhenti sampai di sini. “Ke depan, saya ingin karier lebih maju sekalian mencari kesempatan menjadi wirausaha,” dia mengungkapkan harapannya.

Eva Martha Rahayu/Destiwati Sitanggang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)